Liputan6.com, Jakarta Sisindiran merupakan puisi Sunda yang menggunakan alusi (sindir) melalui kombinasi kata yang merujuk pada makna sesungguhnya lewat asosiasi bunyi. Dalam khazanah sastra tradisional Nusantara, contoh sisindiran paparikan menjadi salah satu materi pelajaran yang kerap dicari oleh pelajar dan pencinta budaya Sunda.
Struktur sisindiran mencakup paparikan yang menghubungkan cangkang dan eusi melalui kemiripan rima, rarakitan yang mengulang kata awal dari cangkang ke dalam eusi, serta wawangsalan yang berbentuk teka-teki. Memahami beragam contoh sisindiran paparikan akan membuka jendela apresiasi terhadap kekayaan sastra lisan masyarakat Sunda yang telah ada selama berabad-abad.
Tradisi puisi semacam ini menawarkan cara yang dapat diterima secara sosial untuk mengekspresikan diri secara tidak langsung dan sopan, sekaligus menjadi instrumen bimbingan moral karena bait-baitnya kerap memuat nilai agama dan budaya seperti pengendalian diri, rasa hormat, kebaikan, dan kerendahan hati. Dilansir dari UNESCO Intangible Cultural Heritage, pantun sendiri telah diinskripsikan pada 2025 dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
Advertisement
Pengertian Sisindiran Paparikan dalam Sastra Sunda
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5411966/original/085389600_1763027268-ilustrasi_guru_mengajar.png)
Sisindiran adalah puisi Sunda yang memberikan alusi melalui kombinasi kata yang merujuk pada makna sesungguhnya lewat asosiasi bunyi, dan sering ditemukan dalam tembang Sunda terutama pada lagu-lagu Panambih. Sisindiran selalu terdiri dari cangkang (kulit, penutup) tanpa makna langsung, diikuti oleh eusi (isi atau esensi) yang merupakan makna sesungguhnya, di mana asosiasi antara keduanya ditunjukkan melalui keselarasan struktural bunyi dan pola.
Paparikan merupakan salah satu subtipe sisindiran yang biasanya disusun dalam bait empat baris, di mana setiap bait berfungsi sebagai unit mandiri yang terbagi menjadi cangkang (dua baris pertama yang menyediakan citra metaforis) dan eusi (dua baris terakhir yang menyampaikan pesan inti). Kata paparikan sendiri berasal dari kata dasar parik yang bermakna parék atau 'dekat'. Artinya, bunyi atau vokalisasi antara sampiran dan isinya saling berdekatan meski tidak harus identik seperti pada rarakitan.
Sebagaimana dikutip dari Wikipedia berbahasa Inggris, sisindiran selalu terdiri dari cangkang tanpa makna langsung, diikuti oleh eusi yang merupakan esensi sesungguhnya, dan asosiasi antara keduanya ditandai oleh korespondensi struktural dalam bunyi dan pola. Jika pola bunyi dari cangkang dan eusi berjalan sejajar, maka sisindiran tersebut disebut paparikan.
Setiap baris dalam bait sisindiran umumnya terdiri dari delapan suku kata, selaras dengan prinsip metrik guru wilangan yang menentukan jumlah suku kata demi memastikan aliran yang seimbang dan musikal. Sarjana Ding Choo Ming, dikutip dari ISEAS Library, menyatakan, "Semua ragam pantun yang berbeda ini dapat diibaratkan sebagai ranting dari pohon sastra yang terus tumbuh, yang tidak hanya telah berdiri selama berabad-abad di Nusantara, tetapi juga terus menghasilkan bunga-bunga indah (pantun) yang kini menjangkau jauh dan luas."
Baca juga: Contoh Puisi Lama Lengkap dengan Jenis dan Penjelasan Singkat
Advertisement
Ciri-Ciri dan Struktur Paparikan
Sebelum melihat beragam contoh sisindiran paparikan, penting untuk memahami ciri-ciri struktural yang membedakannya dari bentuk sisindiran lainnya. Sisindiran merupakan bentuk puisi Sunda lama yang terdiri dari sampiran (metafora) dan isi, memiliki rima dan irama di akhir setiap kata, dan menggunakan bahasa sehari-hari yang sederhana serta mudah dipahami.
Mengacu pada riset yang dipublikasikan di ResearchGate, secara sosiolinguistik, sisindiran mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang handap asor, someah ka semah, suka bercanda (ngabanyol), berbasa-basi (malapah gedang), dan sisindiran berfungsi sebagai ekspresi budaya yang mengandung nilai kesantunan dan keakraban dalam komunikasi.
Berikut ciri-ciri utama paparikan yang perlu diketahui:
- Terdiri dari empat baris per bait — Dua baris pertama berperan sebagai cangkang (sampiran), sementara dua baris terakhir adalah eusi (isi) yang memuat pesan utama.
- Kemiripan bunyi antara sampiran dan isi — Paparikan menghubungkan cangkang dan eusi melalui kemiripan rima, bukan pengulangan kata seperti pada rarakitan.
- Pola rima a-b-a-b — Semua sisindiran berbentuk pantun berima a-b-a-b dengan rima sempurna maupun tak sempurna.
- Delapan suku kata per baris — Setiap baris umumnya terdiri dari delapan suku kata, selaras dengan prinsip guru wilangan.
- Sampiran tidak terkait langsung dengan isi — Sampiran umumnya tidak terkait langsung dengan isi, tetapi terikat oleh keselarasan bunyi.
- Bahasa sehari-hari yang mudah dipahami — Sisindiran menggunakan bahasa sehari-hari yang sederhana dan mudah dipahami, serta digunakan baik untuk mengekspresikan perasaan maupun menggambarkan lingkungan dalam berbagai situasi formal dan informal.
Jenis-Jenis Paparikan Berdasarkan Tujuannya
Contoh sisindiran paparikan tidak hanya hadir dalam satu rupa. Sisindiran terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan struktur, yaitu paparikan, rarakitan, dan wawangsalan, serta tiga kategori berdasarkan isi, yakni nasihat, humor, dan kasih sayang. Masing-masing kategori isi ini mencerminkan fungsi sosial yang berbeda dalam kehidupan masyarakat Sunda.
Menteri Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Brunei Darussalam, dikutip dari Borneo Bulletin, menyatakan, "Pantun bukan sekadar bentuk ekspresi puitis yang indah, tetapi juga mekanisme sosial yang telah lama membentuk nilai-nilai masyarakat, memupuk rasa hormat, kehalusan, dan hubungan manusia yang harmonis."
Berikut tiga jenis paparikan berdasarkan tujuannya:
- Paparikan Silih Asih — Paparikan jenis ini berisi ungkapan cinta kasih, kerinduan, atau perasaan romantis. Kata silih asih bermakna saling mengasihi. Dalam tradisi sastra Sunda, jenis ini kerap dilantunkan oleh muda-mudi untuk mengekspresikan perasaan secara halus tanpa terkesan memaksa.
- Paparikan Piwuruk — Piwuruk berarti pepatah atau nasihat. Jenis ini memuat pesan-pesan moral, ajakan berbuat kebaikan, serta motivasi untuk menjalani hidup dengan benar. Fungsinya serupa dengan pantun nasihat dalam sastra Melayu.
- Paparikan Sésébrèd — Sésébrèd bermakna humor atau banyolan. Jenis ini berisi sindiran jenaka, lelucon ringan, atau kritik sosial yang dikemas secara menghibur. Secara semantik, sisindiran semacam ini bisa mengandung makna litotes, hiperbolis, humor, ejekan, hingga sindiran yang mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang suka bercanda.
Advertisement
Contoh Sisindiran Paparikan Silih Asih, Piwuruk, dan Sésébrèd
Bagian ini menyajikan kumpulan contoh sisindiran paparikan yang terbagi berdasarkan tiga kategori tujuan. Sebagian besar bait-bait pantun tradisional dikhususkan untuk mengungkapkan rasa cinta kepada pasangan romantis, keluarga, komunitas, dan alam, serta dapat dilantunkan pada pernikahan, ritual adat, pertunjukan budaya, dan upacara resmi.
Di seluruh kawasan Nusantara, variasi pantun dikenal dengan nama yang berbeda dalam masing-masing bahasa daerah, seperti ende-ende atau umpasa dalam bahasa Batak dan sisindiran dalam bahasa Sunda. Berikut kumpulan contoh sisindiran paparikan lengkap.
Contoh Paparikan Silih Asih
1. Meuncit meri dina rakit,Boboko wadah bakatul.Lain nyeri ku panyakit,Kabogoh direbut batur.
(Menyembelih itik di atas rakit, / Bakul wadah dedak. / Bukan sakit karena penyakit, / Kekasih direbut orang lain.)
2. Samping hideung dina bilik,Kumaha nuhurkeunana.Abdi mineung ka nu balik,Kumaha nuturkeunana.
(Kain hitam di dinding bambu, / Bagaimana mengeringkannya. / Saya rindu kepada yang pergi, / Bagaimana cara mengikutinya.)
3. Cau ambon dikorangan,Kanyéré ka pipir-pipir.Lalaki ambon sorangan,Awéwé teu mikir-mikir.
(Pisang ambon di keranjang, / Kanyéré ke pinggir-pinggir. / Laki-laki melamun sendirian, / Perempuan tak berpikir-pikir.)
Baca juga: Pantun Motivasi Bijak yang Menginspirasi
Contoh Paparikan Piwuruk
4. Ka kulah nyiar kapiting,Ngocok-ngocok bobodasna.Ulah sok liar ti peuting,Osok loba gogodana.
(Ke kolam mencari kepiting, / Mengocok-ngocok dasarnya. / Jangan suka keluar malam, / Sering banyak godaannya.)
5. Aya manuk dina pager,Na sukuna aya bola.Lamun urang hayang pinter,Kudu getol ka sakola.
(Ada burung di pagar, / Di kakinya ada bola. / Kalau kita ingin pandai, / Harus rajin ke sekolah.)
6. Baju kutud heureut pola,Dikelin teu dijalujur.Lamun téh cucud sakola,Arisin balik ka lembur.
(Baju kutud sempit polanya, / Dilipat tak dijahit jelujur. / Kalau tidak tamat sekolah, / Malu pulang ke kampung.)
Baca juga: Pantun Tua, Salah Satu Jenis Puisi Lama
Contoh Paparikan Sésébrèd
7. Cau naon cau naon,Cau kulutuk di juru.Bau naon bau naon,Bau hitut nu di juru.
(Pisang apa pisang apa, / Pisang kulutuk di sudut. / Bau apa bau apa, / Bau kentut yang di sudut.)
8. Itu gunung ieu gunung,Diadukeun pakbeledug.Itu pundung ieu pundung,Marebutkeun mojang budug.
(Itu gunung ini gunung, / Diadu sampai bergemuruh. / Itu merajuk ini merajuk, / Merebutkan gadis kudisan.)
9. Daun hiris dibeungkeutan,Dibawa ka juru leuit.Anu geulis ngadeukeutan,Hayangeun dibéréh duit.
(Daun hiris diikat, / Dibawa ke sudut lumbung. / Yang cantik mendekat, / Ingin diberi uang.)
Baca juga: Kata-Kata Sindiran Bahasa Sunda dan Artinya
Perbedaan Paparikan dengan Rarakitan dan Wawangsalan
Memahami perbedaan ketiga bentuk sisindiran sangat penting agar tidak keliru saat mengidentifikasi contoh sisindiran paparikan. Meskipun ketiganya sama-sama termasuk sisindiran, masing-masing memiliki ciri struktural yang khas. Sisindiran digunakan baik untuk mengekspresikan perasaan maupun menggambarkan lingkungan, disajikan dalam berbagai situasi formal maupun informal, dan mudah menyatu dengan genre sastra lainnya sehingga menjadi puisi rakyat yang sangat populer.
Berdasarkan data dari UNESCO, "Pantun, sebagai warisan lisan yang berharga, bahkan telah digunakan sebagai bentuk diplomasi dalam penyelesaian konflik karena menawarkan cara yang lembut untuk menyinggung isu-isu penting."
Berikut tabel perbedaan antara paparikan, rarakitan, dan wawangsalan:
| Aspek | Paparikan | Rarakitan | Wawangsalan |
|---|---|---|---|
| Jumlah baris | 4 baris (2 cangkang, 2 eusi) | 4 baris (2 cangkang, 2 eusi) | 2 baris (1 cangkang, 1 eusi) |
| Hubungan cangkang dan eusi | Kemiripan bunyi akhir | Pengulangan kata awal dari sampiran ke isi | Teka-teki yang jawabannya tersembunyi dalam isi |
| Asal kata | Parik = dekat | Rakit = berpasangan | Wangsal = jawaban |
| Tingkat kesulitan | Paling mudah dipahami | Memerlukan pengenalan pola pengulangan | Paling sulit karena mengandung teka-teki |
Sastra lisan masyarakat Baduy juga mencakup sisindiran atau susualan yang digunakan murni untuk hiburan. Merujuk pada publikasi Brill berjudul Music of the Baduy People of Western Java, Pleyte (1912) bahkan menyertakan beberapa puisi sisindiran pendek dalam publikasinya tentang sastra lisan Baduy. Hal ini menunjukkan bahwa sisindiran, termasuk paparikan, telah menjadi bagian penting dari tradisi lisan masyarakat Sunda sejak lama.
Sastra Sunda memang telah lama berakar pada tradisi bercerita lisan, dan salah satu bentuk sastra tertua yang masih dipraktikkan adalah pantun cerita, gaya puisi tradisional di mana setiap bait terdiri dari dua kuplet yang saling terhubung, yang pertama menyiratkan yang kedua melalui bunyi atau citra. Bentuk inilah yang kemudian menurunkan berbagai varian sisindiran yang kita kenal hingga kini.
Satu catatan penting berkaitan pengakuan internasional: pantun telah diinskripsikan pada 2025 dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan, sebagai bentuk puisi Melayu yang tersebar luas di Asia Tenggara maritim dengan pola rima a-b-a-b yang jelas. Pengakuan ini semakin memperkuat posisi sisindiran paparikan sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan.
Baca juga: Mengenal Pantun Melayu Lengkap dengan Ciri-ciri dan Contohnya
Advertisement
Cara Membuat Sisindiran Paparikan dan Tips Melestarikannya
Setelah memahami pengertian dan melihat berbagai contoh sisindiran paparikan di atas, tentu menarik untuk mencoba membuatnya sendiri. Pengetahuan dan keterampilan terkait pantun ditransmisikan secara formal di sekolah dan lokakarya seni, serta secara informal melalui sesi latihan dan kompetisi. Berikut langkah-langkah praktis membuat paparikan:
- Tentukan tujuan — Pilih apakah paparikan yang akan dibuat bertujuan sebagai silih asih (kasih sayang), piwuruk (nasihat), atau sésébrèd (humor).
- Buat bagian eusi terlebih dahulu — Seperti dalam pantun pada umumnya, tentukan dulu pesan yang ingin disampaikan dalam dua baris terakhir.
- Ciptakan cangkang dengan bunyi berdekatan — Pastikan akhiran bunyi di sampiran berdekatan (parék) dengan bunyi di bagian isi, mengikuti pola rima a-b-a-b.
- Perhatikan guru wilangan — Setiap baris umumnya terdiri dari delapan suku kata untuk memastikan aliran yang seimbang dan musikal.
- Gunakan bahasa sehari-hari — Sisindiran menggunakan bahasa sehari-hari yang sederhana dan mudah dipahami. Hindari diksi yang terlalu formal agar terasa natural.
- Uji keselarasan bunyi — Bacalah paparikan yang telah dibuat secara lantang untuk memeriksa apakah irama dan rimanya sudah terdengar harmonis.
Dalam konteks pelestarian, sisindiran merupakan bentuk puisi tradisional Sunda yang dicirikan oleh penggunaan metafora dan teka-teki. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di ICOLLITE (International Conference on Language, Literature, Culture, and Education) oleh Universitas Pendidikan Indonesia, sisindiran dan pantun merupakan puisi tradisional dengan empat baris per bait dan rima berselang, yang terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan struktur: paparikan, rarakitan, dan wawangsalan. Media digital seperti media sosial kini menjadi sarana baru untuk memperkenalkan kekayaan bahasa Sunda kepada generasi muda.
Kemampuan membuat pantun yang bermakna secara spontan dianggap sebagai prestasi intelektual sejati, karena mempertajam kecerdasan dan memperlihatkan keterampilan linguistik pembuatnya. Mempraktikkan pembuatan contoh sisindiran paparikan juga melatih kecakapan berbahasa Sunda secara keseluruhan.
Baca juga: Pantun Islami Penuh Makna dan Nasihat
Baca juga: Pantun untuk Sahabat Terbaik yang Menghangatkan Hati
Pertanyaan Seputar Contoh Sisindiran Paparikan
Apa itu sisindiran paparikan?
Sisindiran paparikan adalah bentuk puisi tradisional Sunda yang disusun dalam bait empat baris, terdiri dari cangkang (sampiran) dan eusi (isi), di mana hubungan antara keduanya ditandai oleh kemiripan rima atau bunyi. Berbeda dengan rarakitan yang mengulang kata awal, paparikan hanya mengandalkan kedekatan bunyi antara sampiran dan isi. Dalam tradisi sastra Nusantara, paparikan setara dengan pantun dalam sastra Melayu.
Apa saja jenis paparikan berdasarkan isinya?
Paparikan terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan isinya, yaitu silih asih yang berisi ungkapan kasih sayang dan cinta, piwuruk yang memuat nasihat atau pepatah, serta sésébrèd yang berisi humor dan sindiran jenaka. Ketiga jenis ini mencerminkan beragam fungsi sosial sisindiran dalam kehidupan masyarakat Sunda, mulai dari mengungkapkan perasaan hingga memberikan kritik secara halus dan menghibur.
Bagaimana cara membedakan paparikan dengan rarakitan?
Perbedaan utama terletak pada pola hubungan antara sampiran dan isi. Pada paparikan, cangkang dan eusi dihubungkan melalui kemiripan rima, sementara pada rarakitan, kata-kata awal dari cangkang diulang kembali dalam eusi. Secara sederhana, paparikan mengandalkan kedekatan bunyi akhir, sedangkan rarakitan mengandalkan pengulangan kata awal antar baris sampiran dan isi.
Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259258/original/056986600_1781493541-3549582318816429688.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812277/original/052062800_1684314288-Beach_life.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8516323/original/064279100_1782441751-QhWeIyM1BS2Kx53LaLanvpXCyrFiY2Pq1QoOEZPr.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5476731/original/083749300_1768796381-000_936R8YN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258188/original/054428500_1781325475-AP26164102653511.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264097/original/098152700_1782090739-AP26172582885325.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4891677/original/000043600_1721008752-10_AP24196756280349.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8504143/original/019730100_1782424741-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/934935/original/034536700_1437647124-AP_173328494831.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264147/original/086220300_1782096373-063_2282523599.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8516311/original/070077100_1782441745-66Qk27g1UFJRlSfhnXza1ga3lFMQWg46e9QrmiiQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8516228/original/067413100_1782441678-wsjbFDRACuYSGBgeEoJ1N65o9a3e2sRfcqBbrM15.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8516244/original/016161400_1782441690-jfxo3e0voZAqtXYVSyOpjLkyTItzyFHeDK8kV1rO.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8516242/original/073778700_1782441688-u57XkpMYgEOCG9BjkGgJkTrj9hhrFKKIG0rcdP0h.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4745840/original/050884300_1708237717-WhatsApp_Image_2024-02-18_at_13.25.02__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8516187/original/098494300_1782441648-dDfNB1JmTn7OOx0963lSV0x4X2qs5Z26uFByX4xJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1689462/original/060408700_1503553006-dpr3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472963/original/062760700_1782381668-JTD912kLn4IZNMTNj9tUgrCV1RecNbQsk662mq15.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8516261/original/074230700_1782441707-0HbEcw17XifIugGVAcJ2DSLVMQGU6ZDYCpD0wbcm.jpg)