Sukses

Sri Lanka Klaim Temukan Batu Safir Bintang Terbesar Sedunia Senilai Rp 1,4 Triliun

Liputan6.com, Rratnapura - Pihak berwenang Sri Lanka mengatakan telah menemukan batu permata gugusan safir bintang terbesar di dunia. Ditemukan di halaman belakang rumah - secara tidak sengaja.

Seorang pedagang permata mengatakan batu itu ditemukan oleh pekerja yang sedang menggali sumur di rumahnya di daerah Ratnapura yang kaya permata.

Para ahli mengatakan batu itu, yang berwarna biru pucat, diperkirakan bernilai hingga $100 juta atau sekitar Rp 1,4 trilun di pasar internasional.

Klaster ini memiliki berat sekitar 510 kilogram atau 2,5 juta karat dan diberi nama "Serendipity Sapphire".

"Orang yang menggali sumur memberi tahu kami tentang beberapa batu langka. Kemudian kami menemukan spesimen besar ini," kata Gamage, pemilik batu itu kepada BBC yang dikutip Rabu (28/7/2021).

Pria Sri Lanka itu tidak mau memberikan nama lengkap atau lokasinya karena alasan keamanan.

Gamage, yang merupakan pedagang permata generasi ketiga, memberi tahu pihak berwenang tentang penemuan itu, tetapi butuh lebih dari satu tahun untuk membersihkan batu dari lumpur dan kotoran lainnya sebelum mereka dapat menganalisis dan mengesahkannya.

Selama proses pembersihan, Gamage mengatakan beberapa batu jatuh dari klaster dan ditemukan batu safir bintang berkualitas tinggi.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Kemungkinan Terbentuk Sekitar 400 Juta Tahun Lalu

Ratnapura, yang berarti kota permata dalam bahasa Sinhala, dikenal sebagai ibu kota permata negara Asia Selatan. Batu berharga lainnya telah ditemukan di sana di masa lalu.

Sri Lanka adalah pengekspor safir dan permata berharga lainnya.

Tahun lalu, negara itu memperoleh sekitar setengah miliar dolar melalui ekspor permata, berlian potong, dan perhiasan.

"Saya belum pernah melihat spesimen sebesar itu sebelumnya. Ini mungkin terbentuk sekitar 400 juta tahun yang lalu," kata Dr Gamini Zoysa, ahli permata terkenal kepada BBC.

Para ahli juga menunjukkan bahwa meskipun spesimen memiliki nilai karat tinggi, semua batu di dalam klaster mungkin tidak berkualitas tinggi.

Temuan itu muncul ketika industri permata Sri Lanka telah menderita kerugian akibat lockdown yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.

Mereka yang bekerja di industri itu pun berharap "Batu Serendipity" sekarang akan menarik pembeli dan pakar internasional.

"Ini adalah spesimen safir bintang khusus, mungkin yang terbesar di dunia. Mengingat ukuran dan nilainya, kami pikir itu akan menarik minat kolektor pribadi atau museum," kata Ketua Otoritas Permata dan Perhiasan Nasional Sri Lanka, Thilak Weerasinghe.