Sukses

Potret Tentara Perempuan Pakai Sepatu Hak Tinggi Disorot, Ukraina Dituding Melecehkan

, Kiev - Pemerintah Ukraina mengeluarkan foto-foto tentara perempuan yang sedang berlatih dengan sepatu dengan hak tinggi. Setelah jadi sorotan, tak lama kemudian mereka malah dituding bertindak seksisme dan melecehkan perempuan.

Jumat 2 Juli 2021 kemarin, Kementerian Pertahanan mengeluarkan foto-foto yang menunjukkan para tentara perempuan berbaris dengan seragam militer dan sepatu hitam dengan hak tinggi.

Foto itu disebarluaskan karena Ukraina tengah bersiap untuk menggelar parade militer bulan depan. Dalam rangka perayaan 30 tahun kemerdekaan negaranya setelah jatuhnya Uni Soviet.

"Hari ini, untuk pertama kalinya, pelatihan dilakukan dengan sepatu berhak tinggi," kata kadet Ivanna Medvid, dikutip di situs informasi kementerian pertahanan, ArmiaInform seperti diberitakan ABC Australia yang dikutip Rabu (7/6/2021).

"Ini sedikit lebih sulit daripada sepatu bot tentara, tapi kami mencoba."Pilihan sepatu memicu kritikan di media sosial dan di kalangan parlemen Ukraina.

Mereka menuduh jika pihak militer telah mengumbar seksualitas tentara perempuan.

"Laporan baris-berbaris menggunakan sepatu dengan hak tinggi adalah aib besar," kata komentator Vitaly Portnikov di Facebook.

Vitaly menegaskan beberapa pejabat Ukraina memiliki pola pikir seperti di "abad pertengahan".

Komentator lain, Maria Shapnarova, menuduh Kementerian Pertahanan Ukraina mengumbar "seksisme dan melecehkan perempuan".

"Sepatu dengan hak tinggi merupakan sebuah ejekan bagi perempuan yang dipaksakan oleh industri kecantikan," ujarnya.

Sejumlah politikus yang dekat dengan mantan presiden Ukraina Petro Poroshenko datang ke Parlemen dengan sepasang sepatu.

Mereka memaksa Menteri Pertahanan untuk mengenakan sepatu dengan hak tinggi ke parade militer.

"Sulit untuk membayangkan adanya ide yang lebih bodoh dan berbahaya dari ini," kata Inna Sovsun, seorang anggota partai Golos, yang menekankan risiko kesehatan bagi para tentara perempuan.

Ia mengatakan tentara perempuan Ukraina, sama seperti pria, mempertaruhkan hidup mereka, dan "tidak pantas jadi bahan olok-olokkan".

 

2 dari 2 halaman

Ukraina Perangi Separatis

Ukraina saat ini tengah memerangi gerakan separatis yang didukung Rusia di sebelah timur mereka, dalam konflik yang telah menewaskan lebih dari 13.000 orang sejak tahun 2014.

Olena Kondratyuk, wakil ketua legislatif, mengatakan pihak berwenang harus meminta maaf secara terbuka karena "mempermalukan" perempuan, selain perlu adanya penyelidikan.

Olena mengatakan lebih dari 13.500 tentara perempuan ikut terlibat dalam konflik memerangi gerakan separatis ini.