Sukses

Alasan Presiden Prancis Emmanuel Macron Ditampar: Dianggap Tukang Bohong

Liputan6.com, Paris - Damien Tarel (28), pelaku penampar Presiden Prancis Emmanuel Macron, mengungkap alasan melakukan penamparan. Alasan Tarel sederhana, sebab Macron dinilai kesal karena Macron dianggap pembohong.

Ia mengaku tidak merencanakan menampar Macron, emosi Damien Tarel terpicu karena melihat wajah Macron yang "bersahabat" tapi mengandung kebohongan. 

"Ketika saya melihat wajah berbohongnya yang bersahabat, yang melihat saya sebagai seorang pemilih, saya merasa jijik," ujar Tarel seperti dikutip BBC, Minggu (13/6/2021).

"Saya bertindak secara instingtif," ucapnya.

Tarel juga merupakan bagian dari gilets jaunes (rompi kuning) yang sempat berdemo massal melawan kepresidenan Macron. Kubu politik Macron berhasil melalui dari gelombang protes tersebut.

Presiden Macron sudah angkat bicara mengenai insiden penamparan yang terjadi. Ia berkata masyarakat sudah berbeda.

"Ada momen-momen ketegangan tinggi dan kekerasan di negara kita yang telah saya alamat sebagai presiden selama krisis gilets jaunes, tetapi masyarakat hari ini adalah tempat yang berbeda," ujar Macron yang menyerahkan kasus ini ke pihak hukum.

2 dari 2 halaman

4 Bulan Dipenjara

Pelaku penamparan Presiden Prancis Emmanuel Macron mendapat hukuman penjara. Ia tidak dipenjara hingga bertahun-tahun, melainkan hanya empat bulan. 

Pelaku adalah seorang milenial muda bernama Damien Tarel (28). Ia menampar Presiden Macron ketika sang presiden menyapa pendukungnya di daerah selatan Prancis. 

Menurut laporan BBC, Minggu (13/6), jaksa di Prancis awalnya menuntut 18 bulan penjara karena pelaku menyerang pejabat publik.

Tiga hakim akhirnya memutuskan bahwa Tarel mendapat hukuman 18 bulan, akan tetapi ia hanya menjalani 4 bulan saja. Sisa 14 bulan akan diberikan bila ia melakukan kejahatan lagi.

Saat menyerang Presiden Macron, Tarel berteriak "Montjoie Saint-Denis" dan "A bas la macronie" (Lengserkan Macronisme).

Montjoie Saint Denis adalah teriakan perang dari abad pertengahan Prancis.

Ada juga pelaku kedua yang memfilmkan insiden tersebut. Ketika rumahnya digeledah, ia memiliki senjata ilegal. Damien Tarel dan pelaku nomor dua berasal dari kota yang sama.