Sukses

Krisis COVID-19 Memburuk, Gubernur Sao Paulo Sebut Presiden Brasil Jair Bolsonaro Psikopat

Liputan6.com, Brasilia - Gubernur negara bagian Sao Paulo, Joao Doria menyebut Presiden Brasil Jair Bolsonaro sebagai "pemimpin psikopat". Sebutan itu disampaikannya sebagai teguran tajam atas kinerja Bolsonaro menangani pandemi Corona COVID-19.

"Kami berada di salah satu momen tragis dalam sejarah ketika jutaan orang membayar mahal karena memiliki pemimpin yang tidak siap dan psikopat yang bertanggung jawab atas suatu negara," kata Joao Doria dalam wawancara dengan CNN.

Doria mengatakan, banyak kematian akibat virus di Brasil bisa dihindari jika Bolsonaro "bertindak dengan tanggung jawab." Dia menambahkan, Bolsonaro membuat "kesalahan yang tidak dapat dipercaya, yang terbesar adalah perselisihan politik dengan gubernur yang berusaha melindungi penduduk."

Dikutip dari laman CNN, Rabu (24/3/2021), Jair Bolsonaro telah berulang kali menentang penguncian dan tindakan pembatasan serta mengkritik gubernur dan walikota karena menerapkan lockdown -- yang ia klaim bisa menghambat ekonomi.

Doria menambahkan, dia menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya sebagai gubernur negara bagian terbesar Brasil, dan bahwa dia harus merestrukturisasi sistem perawatan kesehatan dalam "waktu singkat" dan mencari cara untuk mengurangi krisis ekonomi yang melanda negara itu selama pandemi.

Doria juga berbicara tentang keadaan rumah sakit dan ICU di Sao Paulo, Brasil mengatakan mereka telah melipatgandakan jumlah tempat tidur ICU dan bulan ini akan membuka 12 rumah sakit di lapangan di negara bagian itu.

2 dari 3 halaman

Krisis COVID-19 di Brasil

Krisis COVID-19 di Brasil tidak pernah seburuk ini. Hampir setiap negara bagian Brasil memiliki hunian ICU 80 persen atau lebih tinggi, menurut analisis data negara bagian CNN baru-baru ini.

16 dari 26 negara bagian berada pada atau di atas 90 persen, yang berarti sistem kesehatan tersebut telah runtuh atau dalam waktu dekat sangat berisiko.

Sementara itu, kurang dari 10 juta orang di negara berpenduduk sekitar 220 juta tersebut telah menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid-19, menurut data kesehatan federal -- hanya 1,57% populasi yang telah divaksinasi penuh.

Itu adalah hasil dari program peluncuran yang lambat yang telah ditunda oleh penundaan. Saat pengumuman rencana distribusinya pada awal Februari, pemerintah menjanjikan sekitar 46 juta dosis vaksin akan tersedia pada Maret 2021.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Berikut Ini: