Sukses

Serangan Militer Suriah Hantam Rumah Sakit Tewaskan 6 Warga Sipil

Liputan6.com, Damaskus- Serangan artileri rezim Suriah menghantam sebuah rumah sakit di wilayah Idlib, yang dikuasai pemberontak, pada Minggu (21/3).

Dilansir AFP, Senin (22/3/2021) serangan tersebut menewaskan enam warga sipil, termasuk seorang anak.

Serangan artileri tersebut dilancarkan di kota Atareb, Suriah sebelah barat laut, meskipun sudah adanya kesepakatan gencatan senjata antara Rusia - sekutu Suriah - dengan Turki sejak Maret 2020.

"Serangan itu menghantam halaman dan pintu masuk utama rumah sakit di dalam sebuah gua," demikian dalam laporan Syrian Observatory for Human Rights.

Syrian Observatory for Human Rights juga mengatakan, bahwa sebelas korban lainnya mengalami luka-luka, termasuk staf perawatan kesehatan.

Di hari yang sama, serangan artileri lainnya menewaskan dua warga sipil di kota Aleppo yang dikuasai rezim, di luar benteng pemberontak, menurut kantor berita SuriahSANA.

Diketahui, wilayah Idlib adalah rumah bagi 2,9 juta orang, di mana dua pertiga orang mengungsi dari rumah mereka karena konflik, menurut PBB.

 

2 dari 4 halaman

Serangan Lainnya di Kota Sarmada

Wilayah yang terletak di perbatasan Turki itu telah dikendalikan oleh Hayat Tahrir al-Sham, yang dipimpin oleh anggota bekas afiliasi Al-Qaeda di Suriah. Sejumlah kelompok pemberontak lainnya juga ada di wilayah tersebut.

Gencatan senjata yang disepakati antara Turki yang mendukung kelompok pemberontak dan Rusia yang mendukung rezim Suriah, pada Maret lalu, bertujuan membendung serangan militer selama berbulan-bulan yang menewaskan ratusan warga sipil dan membuat lebih dari 1 juta orang mengungsi.

Sementara menurut Syrian Observatory, terjadi sejumlah pelanggaran atas kesepakatan gencatan senjata itu, termasuk adanya serangan udara Rusia. 

Pada Minggu sore, serangan udara Rusia menghantam pabrik gas dekat kota Sarmada dekat perbatasan Turki, menurut pemantau perang.

Pejabat senior kemanusiaan PBB, Mark Cutts menggambarkan serangan di rumah sakit sebagai hal yang "mengkhawatirkan", sementara Komite Penyelamatan Internasional juga mengecamnya.

"Fasilitas kesehatan yang dilindungi oleh hukum internasional harus menjadi tempat berlindung yang aman di saat krisis," kata Rehana Zawar, direktur IRC untuk Suriah barat laut.

Diketahui bahwa fasilitas medis telah dilanda serangan beberapa kali di wilayah Idlib selama perang.

Antara tahun 2016 dan 2019, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendokumentasikan hingga 337 serangan terhadap situs perawatan kesehatan di barat laut Suriah.

3 dari 4 halaman

Infografis 3 Tips Cuci Masker Kain untuk Cegah COVID-19

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Berikut Ini: