Sukses

Terkuaknya Sebab Kematian Firaun Seqenenre Tao II

Liputan6.com, Jakarta - Namanya Seqenenre Tao II. Julukannya "Sang Pemberani". Seorang firaun yang memerintah Mesir lebih dari 3 ribu tahun lalu.

Seqenenre Tao II menjadi Raja Mesir selatan sekitar 1.600 tahun sebelum Masehi. Dia terkenal saat memimpin pasukan Mesir melawan Hyksos, sebuah dinasti asal Asia Barat yang telah mengambil alih Delta Nil.

Sejak awal ditemukan, penyebab kematian Seqenenre Tao II tak terungkap. Namun, berkat sebuah studi teknologi tinggi, Kementerian Barang Antik Mesir telah menemukan fakta baru terkait tewasnya sang Raja.

 

Dikutip dari AFP, jasad Seqenenre Tao II pernah diperiksa dengan sinar-X pada 1960-an. Hasil pemeriksaan menunjukkan ada luka di bagian kepalanya, tetapi ditutupi saat pembalseman. 

 

Kemudian CT scan terbaru yang menghasilkan gambar 3D, arkeolog Zahi Hawass dan profesor radiologi Universitas Kairo, Sahar Salim menyimpulkan Seqenenre dibunuh dalam upacara eksekusi setelah ditawan di medan perang.

"CT scan mengungkap adanya cedera kepala, termasuk luka yang tidak ditemukan dalam pemeriksaan sebelumnya, dan disembunyikan dengan terampil oleh pembalsem," kata Kementerian Purbakala Mesir dalam sebuah pernyataan.

Tangan cacat mumi seperti dalam foto di atas, "menunjukkan bahwa Seqenenre mungkin ditangkap di medan perang, dan tangannya diikat ke belakang punggungnya, mencegah dia dari menangkis serangan keras di kepalanya," kata pernyataan itu.

 

Para peneliti kemudian mempelajari luka-luka tersebut dengan mengaitkannya ke berbagai senjata Hyksos yang disimpan di Museum Mesir di Kairo. Senjata-senjata itu termasuk kapak seperti dalam foto di atas, tombak, dan beberapa belati, salah satunya dalam foto di bawah ini.

 

Studi yang diterbitkan di Frontiers of Medicine itu juga mengungkap pemindaian tulang menunjukkan bahwa firaun ini berusia sekitar 40 tahun ketika dia meninggal.

Para peneliti diketahui telah menghabiskan puluhan tahun berupaya untuk menemukan penyebab kematian Seqenenre, yang jasadnya ditemukan pada akhir abad ke-19 dan memiliki luka yang terlihat di bagian wajahnya.