Sukses

Lepas Landas dari Bulan, Pesawat China Kembali ke Bumi Bawa Material Penting

Liputan6.com, Beijing - Sebuah pesawat luar angkasa China telah lepas landas dari permukaan Bulan untuk kembali ke Bumi. Pesawat tersebut membawa sampel bulan pertama dalam empat dekade.

Dikutip dari Science Alert, Sabtu (5/12/2020), Beijing ingin mengejar ketertinggalan AS dan Rusia setelah menghabiskan beberapa dekade untuk menyamai pencapaian para pesaingnya dan telah menggelontorkan miliaran dolar ke dalam program luar angkasa yang dijalankan militer.

Pesawat luar angkasa Chang'e-5, dinamai sesuai dengan legenda dewi Bulan di China. Pesawat tersebut meninggalkan Bulan pada hari kamis lalu. Sebuah modul yang membawa batuan bulan dan tanah diluncurkan ke orbit dengan mesin dorong yang kuat.

Rekaman video dari penyiar pemerintah China CCTV menunjukkan bahwa pesawat itu lepas landas dari permukaan Bulan dengan semburan cahaya yang terang.

Badan antariksa mengatakan bahwa sebelum lepas landas, bendera China dikibarkan di permukaan bulan. Ini adalah pertama kalinya China melakukan lepas landas dari benda luar angkasa.

Modul tersebut kemudian harus menjalani operasi rumit untuk dapat terhubung dengan bagian dari pesawat ruang angkasa yang akan membawa spesimen kembali ke Bumi.

Para ilmuwan berharap sampel tersebut akan membantu mereka mempelajari tentang asal-usul Bulan, formasi dan aktivitas vulkanik di permukaannya. Jika perjalanan pulang berhasil, China akan menjadi negara ketiga yang mengambil sampel dari Bulan, setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet pada 1960-an dan 1970-an.

2 dari 4 halaman

Impian Luar Angkasa China

Misi tersebut adalah upaya serupa dengan misi Luna 24 Uni Soviet pada tahun 1976.

Misi pesawat luar angkasa itu adalah mengumpulkan dua kilogram material di daerah yang dikenal sebagai Oceanus Procellarum atau "Ocean of Storms" yakni dataran lava luas yang belum pernah dijelajahi.

Kantor berita Xinhua menyebutkan bahwa Chang'e-5 adalah salah satu misi paling rumit dan menantang dalam sejarah kedirgantaraan China. Di sisi lain, sampel material itu akan dikembalikan ke Bumi dalam kapsul yang diprogram untuk mendarat di wilayah Mongolia Dalam, Tiongkok utara.

Dalam mewujudkan "impian luar angkasa",  China berharap memiliki stasiun luar angkasa berawak pada 2022 dan pada akhirnya mengirim manusia ke Bulan.

China meluncurkan satelit pertamanya pada tahun 1970, sementara penerbangan luar angkasa manusia membutuhkan waktu beberapa dekade kemudian, yakni keberangkatan astronaut pertama China Yang Liwei pada tahun 2003.

Sebuah wahana antariksa China telah mendarat di sisi jauh Bulan pada Januari 2019. Hal itu mendorong aspirasi Beijing untuk menjadi negara adidaya luar angkasa.

China juga memiliki beberapa tujuan lain, seperti membuat roket kuat yang mampu mengirimkan muatan lebih berat daripada yang dibuat oleh NASA atau perusahaan roket swasta SpaceX, pangkalan bulan dan stasiun luar angkasa berawak permanen.

Ilmuwan China juga sempat membicarakan misi awak ke Mars.

 

Reporter: Ruben Irwandi

3 dari 4 halaman

Infografis Amerika Serikat dan China Terancam Perang Dingin?

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: