Sukses

Perdana, Kematian Akibat Corona COVID-19 di New York Turun Jadi 594 Per Hari

Liputan6.com, New York - Jumlah kematian akibat Virus Corona (COVID-19) tampak menurun di New York. Tercatat, ada 594 orang meninggal dunia pada Minggu 5 April 2020 waktu setempat.

New York adalah salah satu lokasi terburuk yang terdampak Virus Corona jenis baru di Amerika Serikat. Totalnya kini ada 4.159 warga New York meninggal dunia akibat Virus SARS-CoV-2. 

Kasus di New York City adalah yang tertinggi di negara bagian New York, yakni sebanyak 67.551.

Dilansir New York Post, Senin (6/4/2020), angka kematian pada Minggu kemarin ternyata menurun dari sehari sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya angka kematian di New York menurun, namun Gubernur Andrew Cuomo meminta masyarakat tetap waspada.

"Virus Corona benar-benar ganas dan efektif," ujar Gubernur Cuomo. "Hal ini adalah pembunuh efektif," lanjutnya.

Gubernur Cuomo berharap penurunan ini menjadi pertanda bahwa New York telah mencapai puncak Virus Corona jenis baru, dan kasusnya akan mulai bertahap menurun. Cuomo masih menunggu beberapa hari ke depan agar statistiknya menjadi lebih jelas.

Harapan lainnya muncul dari jumlah orang yang ke rumah sakit. Total yang ke rumah sakit pada hari Minggu kemarin hanya 574 orang, turun dari Sabtu yakni 1.095 orang dan Jumat dengan 1.427 pasien.

Angka itu lebih rendah dari 22 Maret lalu ketika ada 586 orang yang masuk rumah sakit akibat Virus Corona jenis baru. Gubernur New York menyambut positif perkembangan ini karena artinya ada lebih banyak orang yang boleh pulang.

Penasihat kesehatan di Gedung Putih memperkirakan kasus Virus Corona di AS akan memburuk dan memuncak dalam dua minggu pertama April. Setelah itu, diharapkan kasusnya menurun.

Namun, pemerintah menegaskan agar masyarakat melakukan social distancing agar kasus tidak meningkat. Jaga jarak yang disarankan adalah sekitar dua meter. 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Prediksi Donald Trump

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan, kasus Virus Corona COVID-19 di negaranya akan memuncak pada Hari Paskah sebelum kemudian menurun. Trump seraya mengklarifikasi ucapannya beberapa waktu lalu bahwa situasi akan kembali normal pada Hari Paskah.

Hari Paskah 2020 jatuh pada 12 April.  

"Hari Paskah seharusnya menjadi angka puncak, dan seharusnya mulai menurun dan harapannya (turun) secara substansial dari titik itu," ujar Presiden Trump pada konferensi pers harian di Gedung Putih.

"Puncaknya, poin tertinggi laju kematian, ingat ini, kemungkinan besar terjadi dalam dua pekan," ujar Trump. "Maka dari itu, dalam dua minggu ke depan, dan selama periode ini sangat penting bagi semua orang untuk benar-benar mengikuti panduan," ucap Trump. 

Panduan yang dimaksud adalah untuk melakukan social distancing hingga 30 April nanti. Masyarakat AS diminta jangan keluar rumah jika tidak perlu.

Hal itu diminta Trump karena ada potensi pengidap Virus Corona baru yang tak menunjukan gejala namun menularkannya. Awalnya, kebijakan itu hanya berlaku 15 hari saja hingga akhir Maret.

Presiden Trump enggan melonggarkan aturan terlalu cepat karena khawatir kasus Virus Corona kembali meroket. Pakar kesehatan Gedung Putih berkata itu bisa berjadi.

"Kita tidak ingin melakukannya terlalu dini dan kemudian angkanya menurun, menurun, dan kemudian mulai naik lagi, karena kita mendiskusikan itu bisa terjadi, dan kita tidak ingin hal itu terjadi," ujar Presiden Trump.

Saat ini kasus Virus Corona jenis baru di AS adalah yang tertinggi di dunia, yakni 143 ribu kasus. Trump berkata kasus di AS sangat tinggi karena ada banyak tes Virus Corona yang dilakukan di negaranya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: