Sukses

Latihan Militer Singa Afrika Batal Akibat Virus Corona COVID-19

Liputan6.com, Washington, D.C. - Setelah latihan militer Amerika Serikat (AS) dengan Korea Selatan batal, kini latihan militer besar di Afrika telah juga urung dilakukan. Alasannya serupa, yakni khawatir penyebaran Virus Corona COVID-19.  

Komando AS di Afrika pada Senin kemarin mengatakan keputusan untuk membatalkan latihan besar-besaran yang disebut Singa Afrika (African Lion) yang dipimpin AS itu dilakukan "sebagai tindakan hati-hati," demikian laporan VOA Indonesia, Selasa (17/3/2020).

Selain itu, pembatalan dilakukan berdasarkan pembatasan perjalanan internasional yang terkait dengan Virus Corona COVID-19 dan upaya meminimalkan risiko anggota militer terkena virus itu.

Latihan "Singa Afrika" yang dipimpin AS di Maroko, Tunisia, dan Senegal itu seharusnya melibatkan 9.300 tentara dari delapan negara. Pasukan menggunakan latihan itu untuk meningkatkan kesiapan dan integrasi militer, sambil bersiap untuk memerangi ancaman lintas regional.

Pekan lalu, Jenderal Stephen Townsend, komandan Komando AS di Afrika mengatakan kepada VOA dan The Wall Street Journal bahwa ia telah memutuskan untuk secara signifikan mengurangi "skala dan ruang lingkup" latihan karena keprihatinan akan Virus Corona.

Ketika itu, latihan militer harus dihentikan karena melibatkan pasukan yang ditempatkan di tempat tertutup. Namun, Townsend dan mitra internasionalnya telah merencanakan untuk melanjutkan pelatihan yang membutuhkan "lebih sedikit interaksi antara formasi pasukan besar seperti aktivitas udara, angkatan laut, dan mungkin beberapa kegiatan operasi khusus," kata jenderal itu.

Latihan Singa Afrika sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 23 Maret-4 April. Rencananya latihan ini berlanjut pada 2021.

2 dari 3 halaman

WHO Perintahkan Perbanyak Tes Virus Corona

Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan agar setiap kasus yang diduga sebagai Virus Corona COVID-19 untuk diuji. Hal ini ia sampaikan pada Selasa 16 Maret 2020, ketika negara-negara di seluruh Eropa memperketat aturan lockdown mereka dan pasar saham global jatuh lagi.

"Anda tidak dapat memadamkan api saat ditutup matanya," kata kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. "Tes, tes, tes. Tes setiap kasus yang dicurigai."

Virus ini menyebar dengan cepat sehingga memaksa pemerintah untuk memberlakukan pembatasan yang jarang terlihat di luar perbatasan perang. Di antaranya termasuk penutupan, perintah karantina rumah dan membatalkan acara publik termasuk kegiatan olahraga utama. Demikian seperti dikutip dari Channel News Asia.

Tedros mengatakan lebih banyak kasus dan kematian sekarang telah dilaporkan di seluruh dunia daripada di China, di mana COVID-19 pertama kali muncul pada bulan Desember sebelum melintasi dunia.

"Ini adalah krisis kesehatan global yang menentukan saat ini," katanya. "Krisis seperti ini cenderung memunculkan kemanusiaan terbaik dan terburuk."

Di seluruh dunia, jumlah kematian telah melewati 6.500 dengan lebih dari 168.000 infeksi di 142 negara.

Namun, di China terus ada tanda-tanda penurunan, dengan hanya empat kasus COVID-19 baru yang tercatat di Wuhan - tempat virus pertama kali terdeteksi pada bulan Desember, meskipun kasus impor meningkat.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: