Sukses

Cerita WNI Wuhan: Jangan Percaya Hoaks, Doakan Kami

Liputan6.com, Wuhan - WNI di Wuhan masih terjebak dan belum bisa pulang ke Indonesia. Hingga kini, pemerintah belum dapat memberi jadwal pasti kapan menjemput para WNI.

Kementerian Luar Negeri melalui KBRI sudah memberikan bantuan transfer dana kepada WNI di Wuhan. Harga bahan-bahan makanan dilaporkan mulai naik di sana dan banyak toko tutup.

"Jadi sebenarnya secara makanan itu kita cukup dalam beberapa hari ke depan, kemudian bantuan KBRI sudah kita terima dalam bentuk transferan dana ke setiap mahasiswa," ujar Eva Taibe dalam live streaming ASCEE bekerja sama dengan PPI Tiongkok yang Liputan6.com ikut serta pada Rabu (29/1/2020).

Eva mengaku mulai khawatir dengan kondisi di Wuhan karena tidak jelas sampai kapan lockdown akan berlangsung. Meski demikian, ia meminta agar warga di Indonesia tidak mudah termakan hoaks, apalagi sentimen anti-China.

"Kita itu mengabarkan jangan panik, jangan mudah percaya karena video yang menyebar di Indonesia menyeramkan," kata Eva terkadang bingung melihat video yang beredar.

"Meskipun lebih banyak dukungan social support yang kita dapat, tapi ada juga yang menggiring ke isu-isu tidak jelas seperti sentimen anti-China," ujar Eva yang menempuh program doktoral di Central China Normal University.

" Kami berharap didoakan, di-support teman-teman semua," imbuhnya dengna mata berkaca-kaca.

Saat ini, Eva melaporkan jalanan masih sepi dan jarang mobil lewat karena akses transportasi Wuhan dibatasi. Namun, fasilitas listrik, air, dan internet masih bisa diakses.

2 dari 3 halaman

Karantina Selama 28 Hari

Eva turut menyebutkan bahwa Kementerian Luar Negeri masih berusaha agar pesawat bisa menjemput para WNI di Wuhan yang berjumlah sekitar 250 orang. Mayoritas adalah pelajar.

"Itu sampai hari ini kita dengar berita dari Indoensia bahwa ibu menteri telah mengeluarkan option-option untuk eakuasi kami juga mendengar kabar-kabar sudah disiapkan pesawat untuk menjemput," jelas Eva.

Lebih lanjut, ia berkata WNI akan dikarantina terlebih dahulu di daerah selatan China, sehingga tidak langsung pulang ke Indonesia.

Setibanya di Indonesia, mereka akan kembali masuk karantina selama hampir satu bulan.

"Itu enggak akan langsung ke Indonesia. Itu mungkin akan diistirahatkan sehari di daerah Southern China. Kemudian dibawa pulang ke Indonesia, kemudian dikarantina lagi 28 hari di salah satu RS di Jakarta," ucap Eva.

Dokter Cicilia Marcella yang belajar di Nanjing Medical University menyarankan agar mereka yang baru pulang dari China untuk senantiasa menggunakan masker dan berhati-hati ketika bersin untuk berjaga-jaga.

Menurut informasi University of Chicago Medical Center, pemakaian masker juga penting untuk berjaga-jaga dari air liur orang lain yang berpotensi menularkan penyakit pernapasan seperti virus Corona. 

"Untuk risiko bisa saja terjadi, makanya untuk mahasiswa-mahasiswa yang ingin pulang ke sini, seperti saya bilang karena gejala ini akan muncul tak lebih dari 14 hari. Jadi setelah pulang make sure pakai masker 14 hari," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Waspada Virus Corona, Singapura Larang Turis yang Pernah ke Daegu dan Cheongdo di Korsel
Artikel Selanjutnya
Virus Corona Mewabah di Korsel, Konser AB6IX di Jakarta Ditunda