Sukses

Kata BJ Habibie Tentang Helmut Schmidt: Dia Guru Intelektual Saya

Berlin - Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie, dianggap sebagai tokoh penting di Tanah Air. Banyak yang menilai bahwa pria yang akrab disapa Rudy ini identik dengan kejeniusan.

Semasa hidup ketika muda sampai masa tua, ia juga dianggap punya kedekatan dengan Jerman, karena pernah mengenyam bangku kuliah dan bekerja sebentar di sana. Ia pun dekat dengan sejumlah petinggi Negeri Bavaria itu, tak terkecuali beberapa kanselir Jerman, salah satunya adalah Helmut Schmidt.

Ia adalah politikus Jerman dan anggota Partai Sosial Demokrat Jerman yang menjabat sebagai kanselir dari 1974 hingga 1982. Sebelum menjadi kanselir, ia pernah menjabat sebagai menteri pertahanan dan menteri keuangan.

Ketika Schmidt meninggal pada 10 November 2015, BJ Habibie menyampaikan belasungkawanya dengan mengatakan: tanpa persahabatannya dengan Schmidt, mungkin tidak ada demokrasi model barat di Indonesia, sebuah negara dengan populasi Muslim terbesar dunia.

Demikian seperti dikutip dari DW Indonesia, Kamis (12/9/2019).

Naik ke tampuk kekuasaan setelah Soeharto terpaksa mengundurkan diri pada Mei 1998, Habibie kemudian menggantikan posisi Soeharto dan menjabat sebagai presiden ke-3 Indonesia.

Pergantian kekuasaan yang pertama kali di Indonesia, setelah lebih 30 tahun, digunakan BJ Habibie untuk memasang beberapa fundamen penting demokrasi, terutama UU Kebebasan Pers dan UU Pemilu yang baru.

Maka Indonesia pun bisa melangsungkan pemilihan umum demokratis untuk pertama kalinya sejak puluhan tahun pada 1999, diikuti 49 partai politik, termasuk PRD, yang sebelumnya dikejar-kejar dan para aktivisnya dipenjarakan karena berhaluan kiri.

2 dari 4 halaman

Belajar dari Helmut Schmidt

BJ Habibie mengatakan, Helmut Schmidt adalah negarawan besar yang sering menasihatinya dalam pengembangan demokrasi di Indonesia.

"Helmut Schmidt adalah bapak intelektual saya. Darinya, saya belajar bagaimana menyelesaikan masalah politik dan pada saat yang sama, tetap realistis. Setiap saat, saya bisa menelpon dia," kata Habibie kepada media Jerman, usai menghadiri upacara penghormatan Schmidt di Hamburg, November 2015.

"Proses demokratisasi di Indonesia adalah juga berkat Helmut Schmidt," tuturnya. "Sejarah Indonesia mungkin berjalan lain, tanpa (nasihat-nasihat) dia, yang menanamkan nilai-nilai politik dan demokrasi pada saya, saya bukan ilmuwan politik. Dari dia, saya belajar tentang budaya politik di Jerman."

"Dia bertanya pada saya, apakah saya percaya Tuhan. Dia paham dan menerimanya, sekalipun dia sendiri bukan orang yang relijius", imbuh Habibie tentang Schmidt.

Kedekatan Habibie dengan Jerman memang bukan rahasia. Dia bahkan pernah dituding memiliki kewarganegaraan Jerman. Padahal sebenarnya, dia dianugerahi gelar Warga Kehormatan oleh pemerintah Jerman.

 

3 dari 4 halaman

Kembangkan Pesawat di Jerman

Tahun 1960an, Habibie turut mengembangkan beberapa tipe pesawat Jerman, di antaranya Hansajet HFB 320, dan meniti karir dengan cepat di perusahaan dirgantara MBB --cikal bakal raksasa dirgantara Eropa: Airbus.

Habibie kemudian dipanggil Soeharto agar kembali ke Indonesia untuk menangani bidang riset dan teknologi (menjadi menristek). Kedekatannya dengan pemimpin otoriter ini membuat dia sering jadi sasaran kritik kalangan pro-demokrasi.

Habibie sempat bercerita tentang impian besar dia dengan sang guru intelektual Helmut Schmidt: "Kami ingin membangun jembatan antara Eropa dan Asia Tenggara. Itulah impian kami, dan kami bekerja untuk itu."

Kini, BJ Habibie telah pergi untuk selamanya. Bapak Teknologi dan Si Pembuka Pintu Demokratisasi dianggap meninggalkan kekosongan di tengah kebisingan riuh rendah panggung politik Indonesia.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: 

Loading
Artikel Selanjutnya
Mengenal Sosok BJ Habibie dan Ainun dari Tangan Kanannya
Artikel Selanjutnya
Megahnya 'Gerbang ke Dunia' di Jerman