Sukses

Nikahkan Gadis Bawah Umur dengan WN China, Wanita Kamboja Terancam 15 Tahun Bui

Liputan6.com, Phnom Penh - Pengadilan Kamboja baru-baru telah menuntut seorang wanita karena memperdagangkan tiga gadis di bawah umur dengan modus perjodohan dengan warga negara China.

Tersangka pelaku perdagangan manusia diidentifikasi sebagai Chim Chantha, seorang petani berusi 55 tahun yang tinggal di Desa Pong Toek Roka Bram, Provinsi Tboung Khmum, Kamboja; menurut Kepala Departemen Anti-Perdagangan Manusia dan Perlindungan Remaja setempat.

Chantha dianggap bersalah atas kasus tahun lalu, yakni memperdagangkan orang dan melanggar hukum lintas-batas. Namun, ia baru bisa diringkus pada Kamis pekan lalu, 18 Juli 2019 seperti dilansir dari media lokal Khmer Times, Senin (22/7/2019).

Menurut peradilan yang telah berlangsung pada Sabtu, 20 Juli 2019, Chantha hukuman antara tujuh hingga 15 tahun penjara jika terbukti bersalah dalam kasus perdagangan manusia. Adapun saat ini ia tengah berada dalam penahanan pra-persidangan.

Merekrut Gadis Miskin

Kapten Chan Sopheak, seorang perwira polisi di departemen yang sama mengatakan, Chantha diduga merekrut seorang gadis dari keluarga miskin di provinsi Kratie dan Tboung Khmum. Para perempuan muda itu dinikahkan dengan pria di Tiongkok sejak 2017.

Cap Sopheak mengatakan polisi menangkap tersangka perdagangan manusia pada hari Kamis di rumahnya di provinsi Tboung Khmum. Hal itu menindaklanjuti laporan yang diajukan oleh tiga korban kepada polisi Provinsi Kratie pada 12 Juli tahun lalu.

Cap Sopheak mencatat pada 2018, Chantha membujuk tiga gadis di bawah umur yang tinggal di Sistrik Snuol Provinsi Kratie untuk menikahi pria Tiongkok.

Cap Sopheak mengatakan, sebelum melakukan perjalanan ke China, terdakwa, melalui seorang wanita tak dikenal yang membayar $ 3.000 kepada masing-masing keluarga korban sebagai sejenis mahar untuk putri mereka.

 

2 dari 3 halaman

Paspor Korban Disiapkan

Cap Sopheak menambahkan, paspor, visa, serta transportasi para korban telah diurus oleh wanita tak dikenal yang masih buron.

"Tetapi ketika para korban tiba di China, seorang warga negara Tiongkok, yang merupakan pemimpin kelompok perdagangan manusia, mengambil paspor mereka ... menjualnya untuk bekerja sebagai pekerja seks komersial dan tukang pijat di sebuah klub karaoke di sana," kata Cap Sopheak.

"Saat tinggal dan bekerja (di China), pemilik klub karaoke memaksa mereka untuk bekerja keras agar dibayar. Pemilik memaksa mereka untuk berhubungan seks dengan tamu," tambahnya.

Cap Sopheak mencatat, pada bulan April para korban melarikan diri dari klub karaoke. Mereka bepergian dengan taksi ke Kedutaan Kamboja di China, meminta pertolongan. Akhirnya, para gadis itu dipulangkan ke rumah pada Juni tahun ini.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Sempat Ditahan China, Staf Konsulat Inggris Telah Kembali ke Hong Kong
Artikel Selanjutnya
Gedung Milik Buronan Pemerintah China Dijual Online Seharga Rp 10 Triliun