Sukses

AS Tuduh Rusia Uji Coba Nuklir Tingkat Rendah

Liputan6.com, Washington DC - Seorang pejabat intelijen Amerika Serikat mengatakan, pihaknya yakin Rusia tengah melakukan uji coba nuklir tingkat rendah. Pernyataan itu diberikan pada Rabu, 29 Mei 2019 waktu setempat. Sementara badan pemantau perjanjian nuklir global mengatakan tidak ada tanda-tanda pelanggaran yang dilakukan Moscow seperti yang disebut oleh Washington DC.

Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT) telah dinegosiasikan pada 1990-an silam, dan telah mendapatkan dukungan global yang luas namun harus diratifikasi oleh delapan negara pemilih nuklir lain. 

Di antara kedelapan negara yang dimaksud adalah Israel, Iran, Mesir, dan Amerika Serikat agar dapat mulai berlaku. Adapun Rusia telah meratifikasinya pada tahun 2000, sebagaimana laporan Channel News Asia dikutip pada Kamis (30/5/2019).

"Amerika Serikat percaya bahwa Rusia mungkin tidak mematuhi moratorium pengujian nuklirnya dengan cara yang konsisten dengan standar hasil nol," kata Robert P. Ashley kepala Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA).

 

2 dari 3 halaman

Tes Nuklir Tidak Bisa Dilakukan Diam-Diam

Sejauh ini belum ada tanggapan langsung dari pemerintah Rusia terkait pernyataan tersebut. Namun, kepala Komite Pertahanan Rusia, Vladimir Shamanov, mengatakan kepada kantor berita Interfax bahwa "tes nuklir tidak dapat dilakukan secara diam-diam."

"Pernyataan seperti ini mengungkapkan bahwa profesionalisme militer secara sistemik jatuh di Amerika," kata Shamanov.

Kepala Organisasi Perjanjian Larangan Uji Nuklir Komprehensif (CTBTO), Lassina Zerbo, mengatakan laporan media tampaknya "mungkin melebih-lebihkan."

"Ini bukan tentang Rusia yang melakukan tes rendah, tetapi Rusia mungkin memiliki kemampuan untuk melakukan itu," kata Zerbo kepada Reuters dalam sebuah wawancara saat kunjungan ke Seoul, Kamis.

Zerbo menambahkan, sistem deteksi global yang dimiliki organisasi belum mendeteksi apapun.

 

 

3 dari 3 halaman

Tuduhan Lain

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus mengatakan, Rusia "secara rutin" mengabaikan kewajiban internasionalnya dan melanggar Perjanjian Jangka Menengah Nuklir.

"Mereka telah melanggar selama beberapa tahun terakhir dan mereka telah menguji, memproduksi, menerjunkan senjata INF ... Kita tentu khawatir karena mereka terus mengabaikan kewajiban internasional mereka karena berkaitan dengan kontrol senjata," kata Ortagus.

Rusia mengumumkan bulan lalu bahwa mereka menangguhkan perjanjian INF setelah Amerika Serikat mengatakan akan menarik diri karena pelanggaran oleh Moskow. Rusia membantah mencemooh perjanjian itu dan menuduh Washington melanggar perjanjian itu sendiri.

Komentar Ashley tersebut justru menggarisbawahi perlunya negara-negara seperti Amerika Serikat untuk meratifikasi CTBT, kata Zerbo.

"Anda tidak siap untuk meratifikasi CTBT tetapi Anda meminta seseorang untuk mematuhinya, jadi Anda merujuk pada perjanjian yang tampaknya penting," katanya.

"Jika perjanjian itu penting, mengapa kita tidak menguncinya?" kata Zerbo, menantang AS untuk meratifikasi.

Loading
Artikel Selanjutnya
India Bantah Minta AS untuk Jadi Penengah Konflik Kashmir
Artikel Selanjutnya
Langgar Wilayah Udara Korea Selatan, Jet Tempur Rusia Diberi Tembakan Peringatan