Sukses

Pantau Jalannya Pilpres 2019, Dubes Australia Puji Sistem Demokrasi Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan kagum dengan besarnya pelaksanaan pemilihan umum serentak pada hari ini tak hanya memilih presiden dan wakil presiden, tapi juga anggota DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kota/Kabupaten, dan DPD.

Dalam cuitannya di akun Twitter, Dubes Gary Quinlan turut memuji antusiasme para pemilih.

"Mengunjungi beberapa tempat pemungutan suara di Jakarta pagi ini. Kagum dengan besarnya pelaksanaan dan antusiasme para pemilih," tulis Gary Quinland dalam akun pribadinya di @DubesAustralia.

Pada hari pemungutan suara, Dubes Gary Quinlan pun menyempatkan diri untuk melihat langsung salah satu TPS di Jakarta.

Dalam cuitan di hari sebelumnya, Dubes Australia juga sempat memuji Indonesia sebagai negara demokrasi besar yang rutin menyelenggarakan pemilu.

"Besok, 193 juta warga Indonesia akan memilih di lebih dari 800.000 tempat pemungutan suara yang tersebar di kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau pada pemilihan satu hari yang terbesar di dunia - suatu prestasi luar biasa untuk demokrasi," tulis Dubes Gary Quinlan.

2 dari 3 halaman

Pemilu 2019 Indonesia Juga Disorot Dunia

Pemilu 2019 bukan hanya jadi pemberitaan dalam negeri. Namun, masyarakat dunia juga turut mengikutip Pilpres di Tanah Air lantaran berita ini disorot oleh sejumlah media asing.

Situs berita The Guardian yang bermarkas di Inggris menyoroti pesta demokrasi yang berlangsung di Tanah Air. Media tersebut menuliskan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

"Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan mayoritas penduduknya adalah muslim." tulis The Guardian.

Dalam artikel bertajuk "Indonesia's biggest election under way as 193 million march to polls", mereka juga menyoroti soal 193 juta orang yang terdaftar sebagai pemilih di negara kepulauan tersebit.

"Para pemilih berbondong-bondong ke lebih dari 800.000 tempat pemungutan suara di mana mereka akan melubangi surat suara, sebagai tanda pemberian suara mereka." tambah keterangan media tersebut.

3 dari 3 halaman

Latar Belakang Kedua Paslon

Sementara itu laman berita BBC dalam artikel bertajuk "Indonesia election: Millions vote in 'identity-defining' poll" menyoroti duel ulang yang terjadi pada 2014.

"Joko Widodo dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) kembali berduel dengan Prabowo Subianto, dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)." tulis situs berita itu.

Latar belakang Joko Widodo pun juga diangkat oleh BBC. Berawal dari seorang pengusaha furnitur hingga menjelma menjadi tokoh politik.

Selanjutnya, media Al Jazeera lebih menekankan pada upaya masing-masing kandidat dalam memproyeksikan diri.

"Widodo dan Amin berusaha memproyeksikan diri mereka sebagai progresif namun religius, dengan slogan kampanye "Memajukan Indonesia".

"Saya seorang nasionalis," kata Widodo pada pengumuman pencalonannya pada Agustus 2018, demikian dikutip dari artikel berjudul "Indonesia election: Widodo, Prabowo vie for presidency".

Loading
Artikel Selanjutnya
KPI Luncurkan Buku Tentang Pengawasan Penyiaran Pemilu 2019
Artikel Selanjutnya
Hong Kong Gelar Pemilu di Tengah Gejolak Demonstrasi Pro-Demokrasi