Sukses

10 Fakta Khalifa Haftar, Mantan Jenderal dalam Pusaran Konflik Libya

Liputan6.com, Tripoli - Nama Khalifa Haftar kembali mencuat baru-baru ini, seiring bergulirnya gejolak dalam negeri Libya. Konflik yang dimaksud adalah antara tentara Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) dan pasukan yang dipimpin Haftar.

Pasukan Haftar baru-baru ini bergerak ke Tripoli, Ibu Kota Libya. Mereka melakukan serangan dengan klaim "penumpasan teroris". Pertempuran-pun terjadi, mengingat GNA yang didukung PBB dan sejumlah milisi tengah mengendalikan Tripoli. Pada pertempuran Minggu, 7 April 2019, sebanyak 21 orang tewas dengan 27 lainnya luka-luka.

Di antara yang tewas adalah seorang dokter Bulan Sabit Merah (Red Crescent Societies), dan 14 militan Haftar.

Mengingat Jenderal Haftar adalah salah satu kunci dalam konflik Libya yang tengah menjadi sorotan, perlu diketahui informasi terkait dirinya.

Berikut adalah 10 fakta tentang Jenderal Khalifa Haftar, dikutip dari berbagai sumber.

2 dari 11 halaman

1. Awalnya, Sekutu Khadafi

Khalifa Haftar lahir pada 1943 di kota timur Ajdabiya. Ia adalah salah satu dari sekelompok perwira yang merebut kekuasaan dari Raja Idris pada 1969, dipimpin oleh Kolonel Khadafi kala itu.

Meski demikian, hubungannya dengan Khadafi berubah setidaknya sejak ia di pengasingan, sebagaimana dikutip dari BBC News pada Senin (8/4/2019).

3 dari 11 halaman

2. Empat Dekade Terlibat Politik

Khalifat Haftar telah terlibat dalam panggung politik Libya selama lebih dari empat dekade.

Mengutip Aljazeera, Jenderal Haftar adalah seorang mantan perwira militer yang tangguh. Ia pernah membantu Kolonel Khadafi merebut kekuasaan pada 1969 sebelum namanya jatuh, kemudian pergi ke pengasingan di AS.

Saat ini, pasukannya telah menguasai terminal minyak utama Libya. Kunci utama ekspor minyak itu diberikan kepada anggota parlemen terpilih dari kota timur Tobruk yang merupakan sekutunya.

4 dari 11 halaman

3. Dekat dengan CIA di Pengasingan

Haftar sempat diberi tanggung jawab oleh Khadafi atas pasukan Libya dalam konflik di Chad pada 1980-an. Kesempatan itu justru menjadi awal kejatuhannya, karena Libya kemudian dikalahkan oleh pasukan Chad yang didukung Prancis.

Haftar dan 300 personel tentaranya ditangkap oleh Chad pada 1987. Ia kemudian diasingkan di Negara Bagian virginia, AS.

Kedekatannya dengan Markas CIA di Langley disinyalir mendekatkan hubungan Haftar dengan dinas intelijen AS tersebut.

BCC melaporkan bahwa kedekatan itu bermuara pada dukungan Haftar untuk sejumlah percobaan pembunuhan Khadafi.

5 dari 11 halaman

4. Pemimpin Pemberontak

Setelah dimulainya pemberontakan melawan Khadafi pada 2011, Haftar kembali ke Libya dari pengasingan. Ia menjadi komandan penting pasukan pemberontak di wilayah timur.

Namun sayangnya, nama Haftar memudar di panggung politik sejak Khadafi jatuh.

6 dari 11 halaman

5. Ingin Menyelamatkan Negara

Februari 2014 menjadi momentum bagi Haftar untuk muncul kembali. Ia menguraikan rencananya di televisi untuk "menyelamatkan negara" dan meminta rakyat Libya bangkit melawan parlemen terpilih.

Pengumuman itu dibuat pada waktu yang bersamaan dengan diambilalihnya Kota Benghazi dan beberapa kota lain oleh kelompok teroris lokal Ansar al-Sharia yang berafiliasi dengan al-Qaeda.

Meski menunjukkan perlawanan terhadap parlemen, Haftar juga dibenci oleh para kaum Islamis.

7 dari 11 halaman

6. Lancarkan Operasi Martabat

Pada Mei 2014 Haftar meluncurkan Operasi Martabat yang menargetkan militan Islam di Benghazi dan wilayah timur.

Ia kemudian dipilih sebagai komandan Tentara Nasional Libya (LNA) oleh parlemen yang terpilih pada Maret 2015.

LNA tidak mendapatkan kemajuan yanbg berarti pada awal awalnya. Namun pada Februari 2016, tentara itu telah dapat memukul mundur sebagian besar militan di Benghazi.

Bahkan pada pertengahan tahun telah dapat mengusir kaum militan dari kubu mereka yang berjarak 250 kilometer di luar Benghazi.

8 dari 11 halaman

7. Merebut Ladang Minyak

Operasi Martabat bukan satu-satunya operasi yang dilakukan oleh pasukan Haftar.

Pada September 2016, LNA meluncurkan operasi bernawa Swift Thunder yang bertujuan merebut terminal minyak utama dari pasukan Petroleum Facilities Guard, pasukan yang selaras dengan Pemerintah Kesepakatan nasional (GNA) yang diprakarsai PBB.

Ladang minyak itu disebut sebagai Oil Cresent, jantung daerah kaya minyak di Kota Zueitina, Brega, Ras Lanuf dan Sidrah.

Langkah Haftar kemudian mendapatkan dukungan dari Agilah Saleh, ketua dewan dan komandan tinggi angkatan bersenjata Libya. Saleh kemudian mempromosikan Haftar dari letnan jenderal ke panglima perang.

9 dari 11 halaman

8. Tak Cukup Sekali

Operasi perebutan ladang minyak tidak cukup sekali.

Pada Januari 2018, ia meluncurkan serangan ke Fezzan yang kaya minyak di barat daya Libya. LNA membuat kesepakatan dengan suku-suku lokal dan menyerbu wilayah itu tanpa perlawanan besar.

Jalel Harchaoui, seorang peneliti di Clingendael Institute yang berbasis di Belanda, mengatakan bahwa serangan itu bermotif untuk mengendalikan Ibu Kota.

"Tujuan utama Haftar ketika ia pergi ke Fezzan adalah untuk mengambil Tripoli", kata Harchaoui.

"Anda tidak dapat memerintah Libya kecuali Anda mengendalikan Tripoli. Karena semua uang, misi diplomatik, dan sebagian besar penduduk ada di sana - semuanya terkonsentrasi di sana," lanjutnya.

10 dari 11 halaman

9. Didukung Sejumlah Negara

Kebangkitan mantan perwira militer berusia 75 tahun itu telah menarik simpati sejumlah negara lain.

Khususnya, hal itu berkaitan dengan keberhasilannya merebut ladang minyak strategis dan kota-kota pelabuhan. Sejumlah negara dari Mesir hingga Uni Emirat Arab telah mendukung Haftar.

Saat ini, Haftar telah menggambarkan dirinya sebagai satu-satunya solusi untuk ketidakstabilan Libya. Sayangnya, banyak pihak di negara itu khawatir sang mantan jenderal bisa menjadi otoriter.

11 dari 11 halaman

10. Motif Politik Masih Ambigu

Haftar disebut-sebut tidak menyukai jajaran tentara Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA).

Hal itu berkaitan dengan langkah GNA yang mengalokasikan portofolio pertahanan kepada perwira lain, Ibrahim al-Barghathi. Selain itu, Haftar menaruh curiga atas ketergantungan GNA pada milisi yang mencakup beberapa elemen Islam.

Keinginan Haftar dalam sejumlah serangan masih ambigu. Ada kemungkinan hal itu berkaitan dengan peran kunci dirinya sendiri dalam tentara baru di bawah pemerintah persatuan nasional, atau untuk LNA dalam angkatan bersenjata baru.

Loading
Artikel Selanjutnya
Pemerintah Uji Coba Kartu Prakerja di Jakarta dan Bandung
Artikel Selanjutnya
Masuk Daftar 100 Kota Berbahaya di Dunia, Jakarta Masih Lebih Aman dari Kuala Lumpur