Sukses

Ditemukan Spesies Baru Ular yang Bisa Gigit Mangsanya Tanpa Buka Mulut

Liputan6.com, Conakry - Para ahli dari Natural History Museum, Berlin, Jerman, telah menemukan spesies ular baru yang hidup tersembunyi di hutan yang selalu hijau di Guinea dan Liberia (Afrika Barat). Temuan ini disebut mampu membunuh dengan memasukkan racun ke dalam tubuh mangsa atau musuhnya tanpa harus membuka mulut.

Ini adalah keterampilan unik yang hanya dimiliki oleh ular stiletto. Binatang berbisa ini mempunyai taring panjang yang dapat menempel dan keluar dari sudut mulut mereka, sehingga memungkinkan makhluk tersebut untuk menusukkan bisa melalui sisi pinggir mulut tanpa diketahui predator.

Para ilmuwan menyebut, untuk mengambil dan meletakkan ular stiletto membutuhkan trik khusus. Ketika para peneliti pertama kali menemukan spesies nokturnal Liberia ini, merayap di sepanjang lereng gelap hutan yang hijau, mereka mencoba untuk menerapkan cara umum saat memegang ular: mencengkeram kepala bagian belakang dengan jari-jari tangan.

Namun itu ternyata bukan ide terbaik. "Dengan posisi ini, ular tersebut berulang kali mencoba menyerang," tulis para penulis, seperti dikutip dari Science Alert, Selasa (19/3/2019).

"Entah itu mencoba bergerak perlahan menjauh dari pengamatan manusia atau tiba-tiba melilit dan melingkar, mirip dengan ular serigala dari genus Lycophidion," imbuh mereka.

Racun ular stiletto berpotensi sitotoksik atau merusak sel, menyebabkan nyeri hebat, bengkak, melepuh, dan bahkan kerusakan jaringan besar. Tanpa racun pun, korban bahkan dapat kehilangan jari mereka atau diamputasi.

Tim peneliti lalu melanjutkan untuk mengumpulkan dua spesimen lagi, yang ditemukan di antara perkebunan kopi dan pisang di Guinea tenggara, berjarak sekitar 27 kilometer (16,7 mil) dari tempat riset pertama.

Secara bersamaan, ketiga spesimen digambarkan oleh para peneliti sebagai ular bertubuh ramping, dengan badan yang cukup kuat dan kepala bulat. Spesies baru ini kemudian diberi nama Atractaspis branchi atau ular stiletto Branch.

Untuk sekarang, ketiga spesies digabungkan dengan setidaknya 21 ular stiletto lain yang umum diketahui. Faktanya, para peneliti berpikir ular stiletto Branch sebenarnya adalah endemik hutan hujan Guinea bagian atas (Upper Guinea).

Penemuan ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan pusat keanekaragaman hayati yang kaya dan endemik.

"Masih diperlukan survei lebih lanjut untuk mengetahui kisaran spesies ular baru, dan untuk mengumpulkan lebih banyak informasi tentang kebutuhan ekologis dan sifat biologisnya," tulis para penulis.

Makalah ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Zoosystematics and Evolution.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Langka, Ular Berbisa Berkepala Dua Menggeliat di Kebun Warga

Sementara itu, seekor ular berkepala dua ditemukan di taman bunga di halaman belakang rumah warga di Virginia, Amerika Serikat.

Temuan reptil langka itu diidentifikasi sebagai ular jenis copperhead. Spesies reptil berbisa endemik dari bagian Timur Amerika Utara.

"Ular bicephalic (berkepala dua) liar sangat langka," kata ahli herpetologi, John D Kleopfer di unggahan status Facebook miliknya. 

Keberadaan ular langka itu pertama kali disebarluaskan oleh seorang wanita bernama Stephanie. Ia memposting foto awal temuan reptil berkepala dua itu  di Virginia Wildlife Management.

"Apa yang akan terjadi jika menemukan ular berkepala dua ???" tulisnya.

Menurut USA Today yang dikutip Minggu , 23 Septermber 2018, ular itu ditemukan di kebun tetangga Stephanie. Dari sana, ular itu bisa dievakuasi oleh para ahli.

Kleopfer menjelaskan bahwa karena "terlalu banyak tantangan hidup dari hari ke hari bagi makhluk dua kepala", maka ular berkepala dua tak hidup terlalu lama.

Menjelaskan di unggahan Facebook miliknya, Kleopfer mengatakan kepala kiri reptil itu memiliki "esofagus yang mendominasi dan kepala kanannya memiliki tenggorokan yang lebih berkembang untuk makan".

"Ular copperhead tumbuh sepanjang 18-36 inci atau sekitar 45 sampai 91 cm, sementara ular bicephalic muda ini jauh dari ukuran rata-rata itu. Hanya sekitar 6 inci (15 cm)," papar Kleopfer kepada USA Today.

Kleopfer juga mengatakan bahwa ular itu tak membahayakan siapa pun. Ular berbisa itu cenderung menyerang serangga dan jenis itu juga dikenal tak agresif.

Menurut Kleopfer, ular itu mungkin akan disumbangkan ke fasilitas ilmu kehewanan, "dengan sedikit keberuntungan dan perawatan", katanya.

Sementara itu, National Geographic menjelaskan ular seperti ini sama seperti kembar siam.

"Saat embrio berhenti membelah bervariasi. Sama seperti kembar siam yang dapat bergabung di kepala, dada, atau pinggul. Demikian juga ular bisa menempel di berbagai tempat di tubuh mereka," jelas pihak National Geographic.

Kendati demikian, kedua kepala ular itu bisa melakukan serangan jika dalam posisi terancam.

Loading
Artikel Selanjutnya
Meteor 10 Kali Bom Hiroshima Meledak di Atas Permukaan Bumi, Ini Kata NASA
Artikel Selanjutnya
Menakjubkan, NASA Rilis Foto Persamaan Antara Bumi dan Jupiter