Sukses

Presiden Afghanistan: Semua Pasukan Asing Akan Segera Angkat Kaki

Liputan6.com, Jakarta Setelah usainya dialog enam hari antara delegasi AS dan Taliban pada Sabtu, 26 Januari 2019, Presiden Afghanistan optimistis konflik di negaranya akan segera berakhir.

Ashraf Ghani, Presiden Afghanistan, menyatakan bahwa seluruh pasukan asing akan segera meninggalkan negaranya. Menurut dia, hal itu sesuai dengan perjanjian internasional.

"Tidak ada warga negara Afghanistan yang menginginkan pasukan asing di dalam negaranya dalam jangka waktu lama," kata Ghani, dikutip dari Al Jazeera pada Senin (28/1/2019).

"Keberadaan pasukan asing saat ini dikarenakan kebutuhan, dan kebutuhan ini selalu direnungkan dan akan direnungkan. ... Dan dengan dengan perencanaan yang tepat, kami berusaha menurunkan angka (ketergantungan akan kebutuhan) itu menjadi nol," ucapnya.

Seorang pejabat senior AS menyatakan pada Senin, 28 Januari 2019 bahwa negaranya telah berkomitmen menarik mundur pasukannya dari Afghanistan setelah 17 tahun perang.

"Tentu kita tidak menginginkan keberadaan militer yang permanen di Afghanistan," tuturnya dalam sebuah kesempatan di Kabul.

"Tujuan kami adalah untuk membantu menciptakan perdamaian di Afghanistan dan kami menginginkan kerja sama di masa mendatang dengan pemerintahan pascaperdamaian (yang tengah dibentuk). Kami ingin meninggalkan kesan yang baik," pungkasnya.

Saksikan video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Di Balik Negosiasi Enam Hari

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh kantor presiden pada Senin, 28 Januari 2019, disebut Zalmay Khalilzad, delegasi AS telah membahas kesepakatan gencatan senjata dengan Taliban. Meski demikian, belum terdapat kemajuan dalam hal itu.

Di lain pihak, Abdul Hakim Mujahid, mantan pengurus Taliban serta salah satu pejabat anggota Dewan Perdamaian Tinggi (High Peace Council), percaya bahwa dialog enam hari telah membuahkan hasil. Menurut dia, dialog tersebut telah berjalan baik dan mengedepankan kesepahaman kedua belah pihak.

Sebaliknya, mantan mujahid mengatakan bahwa perdamaian di Afghanistan tidak dapat tercipta dengan segera.

"Masalah Afghanistan tidak sesederhana itu, yang bisa diselesaikan dalam sehari, seminggu, atau sebulan. Perlu lebih banyak waktu dan diskusi," tuturnya memberikan opini.

"Yang menjadi jelas saat ini adalah bahwa AS muak dan ingin mengakhiri perang di Afghanistan," pungkasnya.

Loading
Artikel Selanjutnya
Korut Sebut Langkah AS Ini Bisa Picu 'Perang Dingin' Jenis Baru
Artikel Selanjutnya
3 Wilayah Negara Lain yang Dibeli oleh AS