Sukses

5 Jet Tempur AS Ini Dianggap Produk Gagal, Kenapa?

Liputan6.com, Washington DC - Amerika Serikat telah membuat banyak jet tempur hebat selama bertahun-tahun. Tengok saja 'sang klasik' P-51 Mustang era Perang Dunia II, F4U Corsair, F-86 Sabre, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon dan F-22.

Mereka adalah beberapa pesawat tempur terbaik yang pernah diproduksi oleh Negeri Paman Sam.

Tapi, dari sekian banyak alutsista kedirgantaraan ciamik yang diproduksi Amerika Serikat, segelintir di antaranya dinilai tidak memenuhi standar yang diharapkan atau bahkan masuk dalam kategori produk gagal. Namun di baliknya terdapat hikmah tersendiri.

Dari masing-masing kegagalan itu, pemerintah dan firma produsen senjata AS dapat mempelajarinya serta memastikan blunder itu tidak pernah terjadi lagi pada alutsista lain.

Berikut 5 jet tempur Amerika Serikat yang dianggap terburuk dalam sejarah, seperti dilansir The National Interest pada 21 Januari 2019:

 

Simak dahulu video pilihan berikut:

2 dari 6 halaman

1. Bell P-59 Airacomet

Bell P-59 Aircomet adalah upaya pertama AS dalam membangun pesawat jet tempur. Namun, dibandingkan dengan produk sezaman buatan Inggris dan Jerman —-Meteor Gloster dan Messerschmitt Me 262-— pesawat P-59 adalah kegagalan yang luar biasa.

Faktanya, selama pengujian terhadap Lockheed P-38 Lightnings, Republic P-47 Thunderbolts dan Mitsubishi Zero yang disita oleh AS, ditemukan bahwa P-59 tidak menawarkan keuntungan dibandingkan dengan mesin jet konvensional saat itu. Selain itu, dalam banyak kasus, pesawat tempur mesin piston (model lama) lebih mengungguli jet baru.

Bell P-59 memiliki kecepatan tertinggi hanya 664 km/jam —-kira-kira setara dengan P-38. Pada akhirnya, P-59 terbukti tidak banyak berguna kecuali sebagai kendaraan uji, tetapi hal itu mengatur panggung untuk proyek pengembangan lain yang lebih sukses.

3 dari 6 halaman

2. Vought F7U Cutlass

Angkatan Laut AS sempat mengalami kesulitan awal untuk memperkenalkan jet tempur khusus yang dapat lepas landas dan mendarat dari kapal induk.

Salah satu upaya awal untuk alutsista itu adalah dengan dibuatnya Vought F7U Cutlass --yang diejek oleh para tes pilotnya sebagai "Cutless Gutlass."

Cutlass tidak hanya sangat kekurangan tenaga dengan sepasang turbojet Westinghouse J46-WE-8B; pesawat itu juga terganggu dengan sistem yang belum sempurna, terutama pada sistem hidroliknya yang bermasalah.

Purnawirawan Laksamana AS, Edward Lewis Feightner mengatakan kepada Air & Space Smithsonian Magazine bahwa dia menawarkan pengunduran dirinya di tempat ketika dia diberi tahu tim akan menerbangkan Cutlass.

Sementara itu, pilot F7U-3 John Moore dalam The Wrong Stuff, Air & Space mengatakan, "Cutlass dapat dibuat menjadi mesin terbang yang cukup bagus dengan beberapa modifikasi."

"Yakni dengan mengganti ekor konvensional, menambah tiga kali lipat daya dorong, memotong strut nosewheel menjadi dua, mereset total sistem kontrol penerbangan, dan meminta orang lain untuk menerbangkannya."

4 dari 6 halaman

3. Grumman F-11 Tiger

Grumman terkenal karena membangun beberapa pesawat tempur terbaik Angkatan Laut, tetapi F-11 Tiger bukan salah satunya. Faktanya, F-11 adalah salah satu dari sedikit pesawat dalam sejarah yang berhasil menembak jatuh diri sendiri --secara harfiah. Selama uji terbang, seorang pilot uji Grumman yang sedang menguji meriam 20 mm jet itu berhasil menabrak peluru yang baru saja ditembakkan.

Mesin pesawat itu, yang bertipe Wright J65-W-14 sangat tidak bisa diandalkan dan membakar gas pada tingkat tinggi. Akibatnya, Angkatan Laut tidak senang dengan Tiger. Pesawat angkatan laut —-karena lingkungan laut yang tak kenal ampun-— harus memiliki jangkauan yang baik dan mesin yang sangat andal.

Tiger dengan cepat pensiun setelah berdinas hanya sekitar tiga belas tahun.

5 dari 6 halaman

4. Convair F-102 Delta Dagger

Convair F-102 Delta Dagger pada awalnya dirancang untuk menjadi jet pencegat untuk ketinggian tinggi dan kecepatan tinggi yang akan menghancurkan gerombolan pembom Soviet yang diperkirakan akan menyerang Amerika Serikat jika Perang Dingin menjadi panas.

Para perancang membangun jet sayap Delta di sekitar turbojet afterburning tipe Pratt & Whitney J57-P-25 yang kuat, sistem kontrol pembakaran canggih dan ruang senjata internal. Semua indikasi awal menunjukkan bahwa jet itu akan menjadi pemain yang superior --namun itu hanya ekspektasi teoritis belaka.

Prototipe Delta Dagger bahkan tidak bisa melewati Mach 1.0 --satuan kecepatan yang umum untuk mengekspresikan kecepatan suatu pesawat terbang relatif terhadap kecepatan suara.

Delta Dagger mengalami apa yang pada waktu itu dikenal sebagai fenomena yang baru ditemukan yang disebut gelombang transonik. Pesawat harus sepenuhnya dirancang menggunakan aturan area Whitcomb, yang pada dasarnya menyatakan pesawat harus memiliki distribusi luas pada penampang longitudinal untuk meminimalkan hambatan transonik.

F-102 yang didesain ulang memiliki konfigurasi "botol Coca-Cola". Beberapa versi cerita ini menyarankan desain pesawat baru jet sebenarnya terinspirasi oleh sosok aktris Marilyn Monroe daripada botol Cola.

F-102 yang dikonfigurasi ulang akhirnya bisa mencapai kecepatan Mach 1,22, tetapi jet tidak pernah benar-benar memenuhi harapan. Akhirnya, protipe itu sepenuhnya dirancang menjadi konfigurasi yang akhirnya menghasilkan F-106 Delta Dart yang jauh lebih sukses.

6 dari 6 halaman

5. F-35

Ada cukup banyak alasan untuk tak mencantumkan Lockheed Martin F-35 Joint Strike Fighter dalam daftar ini. Namun, fakta bahwa pesawat itu terlambat 'lahir' bertahun-tahun, biaya yang melebihi anggaran awal, dan tidak memenuhi ekspektasi asli para perancangnya, membuat F-35 masuk dalam pembahsan pesawat buruk produksi AS.

F-35 adalah kasus ambisi besar untuk mengembangkan satu tipe pesawat multifungsi yang dapat diadaptasi untuk menggantikan setengah lusin jet khusus. Hasilnya adalah alutsista 'palu gada' yang mahal, tetapi tidak dapat menguasai apa pun.

Selain itu, konsep pembuatan F-35 ditetapkan pada saat ancaman geo-politik di masa depan belum tergambar secara jelas.

Menurut rancangan awal, pesawat itu ditetapkan untuk mampu bertarung dalam lingkungan yang kurang intens dari apa yang mungkin diharapkan jika Uni Soviet tidak runtuh. Tetapi, spesifikasi F-35 saat ini dipandang 'berlebihan' dari yang diperlukan untuk konflik seperti di Suriah atau Irak.

Mereka yang menetapkan rancangan juga tidak mengantisipasi kemunculan kembali Tiongkok atau ancaman alutsista sistem pertahanan dan pencegat aviasi yang sekarang mulai dihadapi secara luas oleh berbagi negara.

Hasilnya adalah jet F-35 yang tidak memenuhi harapan Negeri Paman Sam.

Loading
Artikel Selanjutnya
Sumbang Rp 1,4 Triliun ke Kampus, Miliarder David Walentas Ingin Berantas Kemiskinan
Artikel Selanjutnya
Presiden Xi Jinping: Yang Coba Memecah China Tubuhnya Akan Hancur