Sukses

Serangan di Nairobi, Kelompok Militan Al Shabaab Klaim Bertanggung Jawab

Liputan6.com, Nairobi - Sejumlah pria bersenjata menyerbu sebuah hotel dan kompleks perkantoran elite di ibu kota Kenya, Nairobi, pada Rabu subuh waktu setempat. Serangan tersebut memicu ledakan keras. Orang-orang yang berada di lokasi kejadian berlarian untuk menyelamatkan diri.

Setelah lebih dari 12 jam usai serangan itu dimulai di kompleks hotel Dusit, Nairobi --yang mencakup bar, restoran, kantor, dan bank-- tembakan peluru dan beberapa ledakan masih terdengar di daerah tersebut, meskipun pemerintah sempat menjamin bahwa situasi dan kondisi aman terkendali.

Suara tembakan dilaporkan terjadi pada Selasa, 15 Januari sekitar pukul 15.30 waktu setempat (12:30 GMT). Sebanyak kurang lebih 150 pekerja dikawal oleh petugas keamanan untuk keluar dari sebuah bangunan tempat mereka mencari perlindungan.

Namun beberapa orang masih terjebak di dalam gedung itu dan di antaranya membutuhkan pertolongan pertama karena terkena luka tembak. Demikian seperti dikabarkan Al Jazeera, Rabu (16/1/2019).

Menteri Dalam Negeri Kenya, Fred Matiang'i, mengatakan pada Selasa, pukul 20.00 GMT, bahwa semua bangunan di tempat kejadian telah diamankan dan sejumlah orang diungsikan. Namun, ia tidak menyebutkan di mana keberadaan para penyerang. Katanya pun, pasukan keamanan masih "membersihkan" area sekitar.

Pada pukul 01.00 GMT, Rabu dini hari waktu Nairobi, 15 orang dinyatakan tewas di tempat dan jenazah mereka telah tiba di Chiromo (Mortuary) --sejenis kamar jenazah-- untuk diperiksa lebih lanjut.

Kartu identitas yang ditemukan dalam pakaian para korban menunjukkan bahwa 11 orang berasal dari Kenya, satu dari Amerika Serikat dan satu dari Inggris. Sementara dua lainnya tidak dikenali karena tidak membawa tanda pengenal apa pun.

Departemen Luar Negeri AS membenarkan bahwa seorang warga negaranya memang meninggal dalam insiden itu, tetapi pihak deplu tidak merinci identitas korban.

Kelompok militan Al Shabaab --yang berbasis di Somalia-- mengklaim bertanggung jawab atas aksi teror tersebut. Mereka juga mengaku bahwa pasukannya telah mengendalikan sebagian besar kompleks bangunan itu.

"Pejuang kami telah membunuh 47 musuh di dalam kompleks. Para mujahidin masih mengendalikan sebagian besar kompleks bangunan," kata Abdiaziz Abu Mus'ab, juru bicara operasi militer Al Shabaab, kepada Al Jazeera.

Pihak berwenang lokal tidak mengomentari jumlah penyerang, tetapi Kenya Citizen TV menyiarkan rekaman kamera keamanan yang menunjukkan setidaknya empat pria menenteng senjata laras panjang dalam peralatan paramiliter berwarna gelap.

Pejabat juga tidak menyebutkan jumlah pasti dari korban meninggal dan luka-luka, tetapi saksi mata melaporkan mereka melihat beberapa tubuh tanpa nyawa tergeletak di sana.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Ilmuwan Ciptakan Embrio dari 2 Badak Putih Tersisa di Dunia Agar Tak Punah
Artikel Selanjutnya
Cetak Rekor Dunia, Koki di Kenya Memasak Selama 75 Jam