Sukses

Buku yang Terbit Tahun 2012 Ini Memprediksi Tsunami Selat Sunda?

Liputan6.com, Jakarta - Para ilmuwan, termasuk yang dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Indonesia, telah mengatakan bahwa tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018 yang menewaskan sedikitnya 373 orang, disebabkan oleh tanah longsor terkait aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Mereka mengatakan tanah longsor kemungkinan terjadi di lereng curam gunung berapi Anak Krakatau, yang kemudian memicu tsunami.

Gegar Prasetya, salah satu pendiri Pusat Penelitian Tsunami Indonesia, mengatakan, tsunami Selat Sunda kemungkinan disebabkan oleh kolapsnya porsi tanah (flank collapse) di lereng gunung Anak Krakatau, demikian seperti dikutip dari ABC.net.au, Selasa (25/12/2018).

Flank collapse itu mungkin saja disebabkan oleh sebuah letusan Anak Krakatau, yang kemudian memicu longsor porsi tanah bagian atas gunung atau porsi tanah di bawah lautan. Material yang jatuh ke laut kemudian mampu menghasilkan gelombang tsunami.

"Ini menyebabkan tanah longsor bawah laut dan akhirnya menyebabkan tsunami," kata Dwikorita Karnawati, kepala BMKG seperti dikutip dari The Guardian.

Gambar yang diambil oleh satelit Sentinel-1 Badan Antariksa Eropa (ESA) menunjukkan sebagian besar sisi selatan gunung Anak Krakatau telah longsor ke laut, kata para ilmuwan.

Fakta bahwa tsunami dipicu oleh aktivitas gunung berapi daripada gempa bumi berarti tidak ada peringatan tsunami yang dipicu, kata para ilmuwan. Warga di pantai dilaporkan tidak melihat atau merasakan tanda-tanda peringatan sebelum gelombang setinggi tiga meter menerjang.

Kendati demikian, hipotesis bahaya flank collapse Anak Krakatau yang mampu menyebabkan tsunami ternyata telah 'diprediksi' oleh sebuah buku ilmiah yang dipublikasikan pada 2012 silam --kurang-lebih enam tahun pra-tsunami Selat Sunda.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau dari udara yang terus mengalami erupsi, Minggu (23/12). Dari ketinggian Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi dengan mengeluarkan kolom abu tebal. (Liputan6.com/Pool/Susi Air)

Buku itu berjudul "Natural Hazards in the Asia–Pacific Region: Recent Advances and Emerging Concepts" yang diramu oleh JP Terry dan J Goff, dipublikasikan oleh The Geological Society of London.

Mengutip abstrak bab yang berjudul "Tsunami hazard related to a flank collapse of Anak Krakatau Volcano, Sunda Strait, Indonesia" yang ditulis oleh T. Giachetti, R. Paris, K. Kelfoun, dan B. Ontowirjo, para peneliti telah 'mewanti-wanti' mengenai bahaya longsoran Anak Krakatau yang berpotensi memicu tsunami.

Berikut petikan abstrak bab buku tersebut:

Pemodelan numerik dari destabilisasi parsial yang cepat dari Anak Krakatau (Indonesia) dilakukan untuk menyelidiki tsunami yang dipicu oleh peristiwa ini.

Anak Krakatau, yang sebagian besar dibangun di dinding timur laut curam dari kaldera letusan 1883 Krakatau, berstatus aktif di sisi barat daya-nya (pasca-1883) yang membuat gunung itu tidak stabil.

Keruntuhan lereng (flank collapse) hipotetis 0,280 km3 yang diarahkan ke barat daya akan memicu gelombang awal setinggi 43 m yang akan mencapai pulau Sertung, Panjang dan Rakata dalam waktu kurang dari 1 menit, dengan ketinggian dari 15 - 30 m.

Ombak ini akan berpotensi berbahaya bagi banyak kapal wisata kecil yang bersirkulasi di, dan di sekitar, Kepulauan Krakatau.

Gelombang kemudian akan merambat secara radial dari daerah tumbukan dan melintasi Selat Sunda, dengan kecepatan rata-rata 80-110 km j − 1.

Tsunami akan mencapai kota-kota yang terletak di pantai barat Jawa (misalnya: Merak, Anyer dan Carita). 35–45 menit setelah mulainya keruntuhan, dengan ketinggian maksimum dari 1,5 m (Merak dan Panimbang) hingga 3,4 m (Labuhan).

Karena banyak infrastruktur industri dan wisata terletak dekat dengan laut dan pada ketinggian kurang dari 10 m, gelombang ini menghadirkan risiko yang tidak dapat diabaikan.

Karena banyak refleksi di dalam Kepulauan Krakatau, ombak bahkan akan mempengaruhi Bandar Lampung (Sumatra, sekitar 900.000 jiwa) setelah lebih dari 1 jam, dengan ketinggian maksimum 0,3 m.

Gelombang yang dihasilkan akan jauh lebih kecil daripada yang terjadi selama letusan Krakatau 1883 (sekitar 15 m).

Deteksi cepat keruntuhan (flank collapse) oleh observatorium gunung berapi, bersama dengan sistem peringatan yang efisien di pantai, mungkin akan mencegah peristiwa hipotetis ini menjadi mematikan.

*Selain abstrak, porsi lengkap buku tersebut bisa diakses dengan cara berbayar dengan mengunjungi: pubs.geoscienceworld.org/books/book/1721/chapter/107575258/tsunami-hazard-related-to-a-flank-collapse-of-anak 

Perlunya Alat Pendeteksi Dini Tsunami yang Disebabkan Longsoran Bawah Laut dan Aktivitas Vulkanik

Sutopo Purwo Nugroho, kepala juru bicara BNPB, mengatakan bahwa Indonesia tidak memiliki sistem peringatan dini untuk tanah longsor atau letusan gunung berapi. "Sistem peringatan dini saat ini adalah untuk aktivitas gempa bumi," tulisnya di Twitter.

"Indonesia harus membangun sistem peringatan dini untuk tsunami yang ditimbulkan oleh tanah longsor bawah laut dan letusan gunung berapi ... Tanah longsor memicu tsunami Maumere 1992 dan tsunami Palu 2018."

Dia juga mengatakan jaringan pelampung (buoy) tsunami Indonesia belum beroperasi sejak 2012. "Vandalisme, anggaran terbatas, dan kerusakan teknis berarti tidak ada pelampung tsunami saat ini," kata Sutopo. "Mereka perlu dibangun kembali untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami Indonesia."

"Anak Krakatau telah meletus sejak Juni 2018 hingga sekarang. Letusan kemarin bukan yang terbesar. Periode Oktober-November 2018 memiliki letusan yang lebih besar. "

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Update Korban Tsunami Selat Sunda per Senin 24 Desember Sore

Sementara itu, data jumlah korban tsunami Selat Sunda terus bertambah. Per pukul 17.00 WIB, Senin (24/12/2018), jumlah koran jiwa mencapai 373 orang.

"1.459 orang luka-luka, 128 orang hilang, dan 5.665 orang mengungsi," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan tertulis.

Jumlah korban dan daerah yang terdampak tsunami paling parah kerusakannya adalah daerah pesisir di Kabupaten Pandenglang. Daerah ini merupakan kawasan wisata pantai dengan fasilitas hotel dan vila yang banyak berderet di sepanjang pantai.

"Apalagi saat kejadian tsunami saat libur panjang sehingga banyak wisatawan menginap di hotel dan penginapan," imbuh Sutopo.

Sementara, kerugian fisik akibat tsunami meliputi 681 unit rumah rusak, 69 unit hotel dan villa rusak, 420 unit perahu dan kapal rusak, 60 unit warung dan toko rusak, dan puluhan kendaraan rusak.

Loading
Artikel Selanjutnya
BMKG: Bali Jadi Prioritas Penguatan Sistem Peringatan Dini Tsunami
Artikel Selanjutnya
BMKG Akhiri Peringatan Tsunami Usai Gempa M 7,1 di Maluku Utara