Sukses

PBB: Pengungsi Rohingya Bersedia Pulang ke Myanmar, tapi...

Liputan6.com, Cox's Bazaar - Pengungsi Rohingya mengatakan bahwa mereka bersedia pulang ke Myanmar asalkan situasi aman dan diberi hak kewarganegaraan. Demikian kata mereka kepada utusan PBB yang meninjau penampungan mereka di Bangladesh pekan ini, seperti diungkapkan badan tersebut dalam sebuah pernyataan pada Selasa, 17 Juli 2018.

Utusan PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, menemui pengungsi muslim Rohingya di Cox Bazar selama kunjungan tiga hari di Bangladesh. Demikian seperti dikutip dari VOA Indonesia, Kamis (19/7/2018).

Kunjungan berlangsung hanya beberapa minggu setelah dia menggelar pembicaraan dengan para pemimpin Myanmar tentang krisis pengungsi itu.

"Burgener mendengar laporan dari pengungsi tentang kekejaman yang tidak dapat digambarkan yang terjadi di negara bagian Rakhine," menurut pernyataan PBB itu.

Di samping pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia, pengungsi Rohingya mengatakan kepada Burgener tentang harapan mereka untuk bisa pulang jika keamanan untuk itu bisa dijamin dan mereka diberi kewarganegaraan.

 

Simak video pilihan berikut:

1 dari 2 halaman

Bukti PBB atas Kekerasan terhadap Rohingya

Para pejabat urusan hak asasi manusia PBB telah mendokumentasikan semua tuduhan tentang pembantaian massal, pemerkosaan, dan penghancuran desa-desa oleh militer Myanmar. Namun, pemerintah Myanmar membantah hal tersebut.

Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis maupun PBB telah menyatakan operasi militer Myanmar itu sebagai pembersihan etnis.

Burgener mengatakan, Bangladesh membutuhkan banyak bantuan internasional untuk menangani pengungsi Rohingya dan mengatasi risiko tanah longsor akibat musim penghujan yang sejauh ini telah meminta korban 12 orang meninggal di dekat penampungan pengungsi itu.

Burgener akan menyampaikan laporan kunjungannya dalam sidang tertutup Dewan Keamanan PBB, Senin 23 Juli 2018.

Artikel Selanjutnya
Amerika Serikat Resmi Membatasi Visa untuk Myanmar dan Laos
Artikel Selanjutnya
Dituduh Menggali Informasi Ilegal, 2 Jurnalis Reuters Akan Disidang di Myanmar