Sukses

Setelah Yerusalem, Israel Tuntut Pengakuan AS atas Dataran Tinggi Golan

Liputan6.com, Tel Aviv - Amerika Serikat dapat segera mengakui Dataran Tinggi Golan yang disengketakan sebagai wilayah Israel yang berdaulat. Demikian ujar seorang menteri senior Israel.

Menteri Intelijen Israel Yisrael Katz mengatakan bahwa subjek tersebut menjadi "agenda tertinggi" dalam pembicaraan dengan pemerintahan Donald Trump. Menurut Katz, pengakuan Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel akan meningkatkan upaya Amerika Serikat untuk menghadapi Iran.

"Tanggapan paling menyakitkan yang bisa Anda berikan kepada orang-orang Iran adalah mengakui kedaulatan Golan sebagai kedaulatan Israel -- melalui pernyataan Amerika Serikat, sebuah proklamasi oleh presiden (Trump)," kata Katz seperti dikutip dari Independent.co.uk, Kamis (24/5/2018).

Menurut media the Jerusalem Post, seorang legislator Israel menambah dorongan terhadap isu tersebut. Ia dikabarkan menulis surat kepada duta besar Amerika Serikat untuk Israel, yang isinya mendesak Washington untuk mengakui klaim Tel Aviv atas wilayah yang disengketakan.

Setelah Israel merebut Dataran Tinggi Golan dalam Perang Enam Hari tahun 1967 dan kemudian secara sepihak mencaplok wilayah tersebut pada tahun 1981, status tentang hak teritorial Israel di wilayah tersebut masih menjadi perdebatan.

Dataran Tinggi Golan sebelumnya adalah milik Suriah. Dan dalam perang saudara di Suriah, Presiden Bashar al-Assad mendapat dukungan dari Iran.

Awal tahun ini, Israel menyerang pasukan Iran di Suriah sebagai pembalasan atas apa yang mereka sebut serangan roket ke Dataran Tinggi Golan.

Di lain sisi, serangan yang menyasar Dataran Tinggi Golan telah memicu kekhawatiran bahwa konflik Suriah akan semakin meningkat dan meluber ke wilayah perbatasan.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Masih Misteri

Mendukung penegasan kedaulatan Israel terhadap Dataran Tinggi Golan dinilai akan memicu dampak yang luas, meresahkan kawasan, dan menimbulkan lebih banyak kritik terhadap kontrol Israel atas wilayah-wilayah yang mereka rebut dalam konflik-konflik di masa lalu.

Namun, pemerintahan Trump telah terbukti bersedia menentang dunia. Pada awal Desember 2017, Trump resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Pengakuan tersebut ditindaklanjuti dengan pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem.

Peresmian Kedubes AS di Yerusalem telah dilakukan pada 14 Mei 2018, bertepatan dengan hari lahir Israel ke-70 tahun.

Kebijakan pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem menuai pujian di dalam negeri Israel, namun memicu reaksi keras global. Palestina menegaskan, Amerika Serika telah kehilangan peran kredibelnya sebagai mediator dalam proses perdamaian.

Hingga kini belum diketahui pasti kebijakan Amerika Serikat terkait dengan Dataran Tinggi Golan.

Loading
Artikel Selanjutnya
Akibat Sanksi AS, ZTE Rugi Rp 44 Triliun
Artikel Selanjutnya
Donald Trump Cuek dengan Protokol Keamanan Ponsel Gedung Putih