Sukses

3 Tokoh Asing Ini Dihabisi di Malaysia, Kasusnya Masih Misterius

Liputan6.com, Kuala Lumpur - Beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus pembunuhan figur ternama telah terjadi di Malaysia.

Kasus-kasus pembunuhan itu pun menarik perhatian khalayak banyak, tak hanya di Malaysia saja.

Penyebabnya beragam, bisa berupa afiliasi politik korban, nuansa kerumitan kasus, juga keterkaitan pelaku atau korban dengan sejumlah tokoh pesohor.

Motif pembunuhan -- yang beberapa di antaranya berbau intrik atau bahkan konspiratif -- pun juga menjadi salah satu yang menarik perhatian publik.

Seperti dirangkum dari berbagai sumber (24/4/2018), berikut, 3 kasus pembunuhan figur ternama di Malaysia dalam beberapa tahun terakhir.

 

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

1 dari 4 halaman

1. Pembunuhan Model Cantik Mongolia, 2006

Altantuya Shaariibuu diketahui hilang pada 19 Oktober 2006. Sepupunya, melapor ke polisi dan meminta bantuan pihak Kedubes Mongolia di Bangkok.

Polisi Malaysia lalu menemukan fragmen tulang di lahan hutan dekat Bendungan Subang di Puncak Alam, Shah Alam. Yang kemudian dikonfirmasi sebagai bagian tubuh sang model.

Penyelidikan mengungkap, korban ditembak dua kali sebelum diledakkan dengan bahan peledak C-4 untuk menghilangkan jejaknya.

Kasus pembunuhan Altantuya menjadi salah satu skandal yang mengejutkan di Malaysia. Pasalnya, kasus ini diduga kuat diselimuti teori konspirasi politik.

Seorang politisi, Abdul Razak Baginda menjadi salah seorang yang terseret kasus ini. Razak kala itu sempat menolak tuduhan melakukan pembunuhan yang dialamatkan padanya. Tetapi setelah kasusnya itu ditutup pada 2008 dan diganti dengan penangkapan 2 orang polisi Malaysia, ia pun mengakui kalau dirinya memang punya hubungan istimewa bersama Altantuya -- namun terus membantah terkait pembunuhan korban.

Pada 2016, Pengadilan Malaysia kemudian menjatuhkan vonis pidana mati pada 2 oknum polisi yang dinyatakan bersalah dalam kasus pembunuhan Altantuya Shaariibuu.

Pasca-putusan pengadilan tertinggi itu, eksekusi gantung membayangi 2 terpidana, Azilah Hadri dan Sirul Azhar Umar. Sebelumnya, mereka melenggang bebas dari penjara pada 2013 lalu, setelah pengadilan banding membatalkan keputusan yang dikeluarkan hakim di tingkat pertama.

Jaksa Tun Abdul Majid Tun Hamza mengatakan, 5 anggota dewan juri Pengadilan Federal secara bulat memutuskan pada hari Selasa 13 Januari 2015 bahwa penuntut mengetengahkan bukti yang meyakinkan dalam kasus tersebut. "Pengadilan Federal menjatuhkan hukuman mati atas mereka," kata Tun Hamzah.

2 dari 4 halaman

2. Pembunuhan Kakak Tiri Kim Jong-un, 2017

Kakak tiri Kim Jong-un, Kim Jong-nam dikabarkan tewas di Malaysia pada Senin 13 Februari 2017. Ia dibunuh menggunakan racun syaraf VX yang kerap menjadi komposisi senjata kimia.

Kim Jong-nam merupakan anak tertua dari mantan pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-il.

Seperti dikutip dari Channel News Asia, Selasa, (14/2/2017), jaringan televisi kabel, Chosun mengatakan, Kim Jong-nam diracun di bandara Kuala Lumpur oleh dua perempuan, Siti Aisyah dari Indonesia dan Doan Thi Huong dari Vietnam.

Kedua perempuan itu diduga kuat dikelabui oleh beberapa pria untuk melakukan aksi pembunuhan tersebut. Pria-pria itu dituding sebagai agen mata-mata atau entitas terafiliasi dengan Korea Utara.

Hakim Datuk Azmi Ariffin  bersama jaksa dan pengacara tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Selasa (24/10). Hari ini, Siti Aisyah dan Doan Thi Huong melakukan reka ulang kejadian di tempat keduanya dituding meracuni Kim Jong-nam. (AP/Sadiq Asyraf)

Sampai saat ini, kasus tersebut masih dalam proses persidangan, dengan Siti Aisyah dan Doan Thi Huong sebagai terdakwa utama. Tapi, keterlibatan kedua perempuan itu sangat disangsikan. Kuat dugaan, mereka hanya diperalat dan dikelabui oleh otak utama pembunuhan.

Menurut kantor berita Yonhap, Kim Jong-nam lahir dari hubungan di luar nikah antara Kim Jong-il dengan aktris Korea Selatan, Sung Hae-rim. Ibunya dikabarkan meninggal di Moskow.

Awalnya Kim Jong-nam masuk nominasi suksesi pengganti Kim Jong-il. Namun sang ayah murka setelah pada tahun 2001 putra sulungnya itu tertangkap hendak memasuki Jepang untuk mengunjungi Disneyland dengan menggunakan paspor palsu.

Penunjukkan sang adik sebagai pemimpin Korut pasca-meninggalnya Kim Jong-il pada 2011 ditentang oleh Kim Jong-nam.

Tersangka kasus pembunuhan Kim Jong-nam, Siti Aisyah dengan kawalan polisi dibawa menuju Bandara Internasional Kuala Lumpur, Selasa (24/10). Siti terlihat mengenakan rompi anti-peluru saat mengunjungi tempat kejadian perkara itu. (AP/Sadiq Asyraf)

Tewasnya Kim Jong-nam tercatat sebagai kematian sosok berprofil tertinggi di bawah rezim Kim Jong-un sejak eksekusi paman mereka Jang Song-thaek pada Desember 2013. Kim Jong-nam sendiri dikabarkan dekat dengan pamannya.

Sejak beberapa tahun lalu, Kim Jong-nam telah menjadi target pembunuhan rezim sang adik. Pada tahun 2012, pihak Korsel mengatakan, seorang mata-mata Korut yang ditahan telah mengakui keterlibatannya dalam komplotan tabrak lari tahun 2010 di China yang menargetkan Kim Jong-nam.

Pada tahun 2014, Kim Jong-nam dikabarkan berada di Indonesia di mana ia terlihat berada di sebuah restoran Italia yang dijalankan oleh pengusaha Jepang di Jakarta. Saat itu ia dikabarkan bolak-balik antara Indonesia, Malaysia, dan Prancis.

Pada tahun 2012 sebuah surat kabar Moskow melaporkan bahwa Kim Jong-nam tengah mengalami kesulitan keuangan. Sementara itu, The Argumenty i Fakty memuat dalam laporannya bahwa pria itu pernah ditendang dari sebuah hotel di Macau setelah berutang US$ 15.000.

3 dari 4 halaman

3. Pembunuhan Ilmuwan Hamas, 2018

Seorang ilmuwan Palestina, Fadi Al Batsh menjadi korban penembakan di Kuala Lumpur, Malaysia pada Sabtu 21 April 2018. Akibatnya, ia tewas di lokasi kejadian.

Insiden tersebut terjadi pada Sabtu dini hari. Kala itu, sekitar pukul 06.00 waktu setempat, korban sedang berjalan dari kediamannya menuju masjid terdekat, untuk menjalankan ibadah salat subuh.

Kepala Kepolisian Kuala Lumpur, Mazlan Lazim mengatakan, dua pelaku yang masing-masing mengendarai sepeda motor kemudian melepaskan 10 tembakan ke arah korban. Akibatnya, pria 35 tahun itu meninggal dunia di lokasi kejadian.

"Penyelidikan awal menemukan, ada empat luka tembak di tubuh korban. Dua selongsong peluru ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP)," kata dia dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari BBC, Minggu (22/4/2018).

Pihak kepolisian mengatakan, berdasarkan rekaman CCTV di TKP, para tersangka yang kemudian kabur, sempat menanti selama 20 menit sebelum akhirnya menyerang korban.

"Kami yakin, dosen tersebut (Fadi Al Batsh) adalah target mereka. Sebab, dua orang lain yang berjalan di lokasi yang sama dibiarkan berlalu tanpa mengalami cedera apapun."

Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid mengatakan, korban memiliki hubungan dengan organisasi intelijen asing dan aktif dalam organisasi non-pemerintah pro-Palestina.

Foto dua tersangka pembunuh ilmuwan Palestina Dr Fadi Al Batsh di Malaysia (Supplied via Bernama)

Sementara, seperti dikabarkan Bernama, para tersangka diyakini sebagai orang Kaukasia yang juga memiliki hubungan dengan dinas intelijen asing, demikian menurut Zahid.

Fadi al-Batsh yang tinggal di Malaysia selama beberapa tahun, adalah seorang dosen di bidang teknik elektro. Hamas yang bermarkas di Jalur Gaza mengonfirmasi bahwa korban adalah anggotanya.

Kelompok militan Palestina tersebut mengatakan, salah satu anggotanya telah dibunuh. Hamas menggambarkan korban sebagai 'syuhada' -- istilah yang biasanya dilekatkan pada seseorang yang dibunuh oleh pasukan Israel.

Keluarga Fadi Al Batsh menuding badan mata-mata Israel, Mossad berada di balik pembunuhan tersebut. Apalagi, aparat Malaysia juga menduga, para tersangka terkait dengan intelijen negara lain.

Hamas kerap menuding Israel mendalangi pembunuhan para ahlinya yang berada di luar negeri, meski Mossad tentu saja tak akan mengonfirmasi atau membantah tuduhan tersebut. Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel telah membantah bahwa Tel Aviv terlibat dalam kasus pembunuhan Al Batsh.

Artikel Selanjutnya
Kim Jong-un Jenguk Korban Kecelakaan Bus Wisata
Artikel Selanjutnya
Dubes AS: Donald Trump Bujuk Korea Utara untuk Setop Program Rudal Nuklir