Sukses

Kisah Tradisi Berdarah Masyarakat yang Menutup Diri di Atlantik

Liputan6.com, Kopenhagen - Masyarakat di Kepulauan Faroe, yang berlokasi d antara Norwegia dan Islandia, dikenal cukup selektif dalam menerima orang asing yang datang ke sana.

Maka, suatu keajaiban ketika belum lama ini, masyarakat setempat membiarkan orang luar datang membawa kamera dan sederet pertanyaan.

Dikutip dari News.com.au pada Selasa (3/4/2018), khalayak kerap menganggap masyarakat Kepulauan Faroe sebagai pembunuh paus. Mereka juga kerap disebut sebagai kelompok nelayan yang tidak beperasaan, karena rutin membunuh sekitar 800 ekor paus pada setiap musim panas.

Namun, apa yang ditemukan oleh para pembuat film dokumenter dalam proyek yang berlangsung selama lima tahun, Kepulauan Faroe memiliki lebih banyak cerita dari sekedar pembunuh paus.

Penduduk setempat menyebut tradisi perburuan paus dengan sebutan 'menggiling', yang setiap musim panas, selalu menjadikan perairan di sekitarnya penuh dengan darah.

Para paus digiring melewati jalur sempit, menuju sebuah teluk kecil. Di sana, mereka dibunuh secara brutal, namun dianggap biasa oleh masyarakat setempat.

Dilihat dari status adminsitratif, Kepualuan Faroe merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Denmark, yang secara hukum melarang perburuan paus. Namun, masyarakat di sana, telah melakukan tradisi tersebut, jauh sebelum ditaklukkan oleh bangsa daratan Eropa.

Mereka dikenal enggan bercerita dengan orang luar tentang tradisi berdarah tersebut. Namun, seorang sineas film asal Skotlandia, Mike Day, berhasil meyakinkan masyarakat setempat untuk mengizinkan pengambilan gambar. Sesuatu yang mustahil dilakukan sebelumnya.

Dia mengaku tidak akan membuan cerita sensasional, atau fokus pada isu pembantaian. Alih-alih, dia ingin mengenal masyarakat setempat, dan mencari tahu apa alasan yang membuat mereka tertarik melestarikan tradisi kontroversial tersebut.

Debut film dokumenternya, The Island and the Whales, berhasil merekam pemandangan luar biasa dalam tradisi perburuan paus.

Ia memperlihatkan bagaimana ratusan warga berlumuran darah, dari kepala sampai kaki, saat berjibaku membunuh kawanan paus yang telah terjebak di sebuah teluk sempit.

"Sebelumnya, banyak liputan justru menjelekkan dan menyimpulkan sepihak tradisi tersebut, tapi bagi saya, ada cerita yang jauh lebih besar dari sudut pandang masyarakat di sana," jelas Mike.

 

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Ada Alasan Moral di Balik Perburuan Paus

Satu sisi menarik dari film dokumenter yang dibuat oleh Mike Day, yakni tentang alasan moral di balik tradisi pembunuhan paus.

Mayoritas masyarakat di sana masih mempertahankan nasihat leluhur, untuk menyantap daging paus sebagai upaya menjaga kesehatan di tengah iklim lingkar Arktik yang kerap tidak menentu.

Namun, menurut seorang dokter yang telah lebih dari 30 tahun menetap di Kepulauan Faroe, naiknya tingkat merkuri pada ikan laut dan paus, berisiko meracuni populasi setempat.

Kekhawatiran tersebut kian beralasan, ketika eksperimen bedah pada beberapa burung laut, menunjukkan adanya kandungan plastik di dalam saluran pencernaannya. Hal ini menjadi peringatan keras tentang kerusakan lingkungan yang kian parah saat ini.

Film itu juga menampilkan sebagian protes dari komunitas pencinta lingkungan, seperti contohnya adalah Sea Shepherd Conservation Society. Salah seorang anggotanya terekam berteriak: "Saya akan turun di air, di antara tombak tajak dan paus yang menderita!"

Namun, menurut sang pembuat film, protes seperti itu hanya membuat kesal penduduk setempat, dan tidak sama sekali memberi perubahan apapun.

"Sama saja, seperti katakanlah, sebuah kapal asal Iran berlayar ke London melewati sungai Thames, dan berteriak bahwa daging babi itu buruk. Mereka hanya bisa berkoar disaksikan penduduk lokal sambil menyantap bacon," ujar Mike Day memberi perumpamaan.

Perburuan paus akan berlanjut pada Agustus mendatang, meski tekanan global kian kuat menuntut hal tersebut dihentikan.

Konon, mantan bintang Playboy, Pamela Anderson, akan hadir memprotes langsung tradisi berdarah tersebut, yang didukung oleh banyak komunitas pencinta lingkungan di belakangnya.

Penduduk setempat akan kembali menyantap hasil perburuan paus tersebut, meski ada kekhawatiran tentang kandungan merkuri tinggi dalam tubuh hewan laut.