Sukses

Perempuan Saudi Akhirnya Boleh Nonton Konser Musik, tapi...

Liputan6.com, Riyadh - Kaum hawa di Arab Saudi akhirnya diperkenankan untuk menonton langsung pertunjukan musik. Meski demikian, mereka tak sepenuhnya dibebaskan. Sejumlah aturan masih harus ditaati.

Otoritas setempat memperbolehkan mereka untuk berswafoto, tertawa, dan berdendang bersama. Namun, para perempuan tak diizinkan untuk berjoget selama konser berlangsung.

Wanita Saudi berswafoto saat menghadiri konser penyanyi Mesir, Tamer Hosny, di Jeddah pada 30 Maret 2018. Ribuan penggemar terkejut ketika tiket konser tertulis: menari sangat dilarang. (Amer Hilabi / AFP)

Selain itu, tempat duduk pria dan wanita juga akan dipisahkan. Mereka ditegaskan untuk menempati kursi di area berbeda.

Contohnya saja dalam konser Tamer Hosny. Penyanyi asal Mesir tersebut menggelar konser eksklusif yang diadakan di King Abdullah Economic City, Jeddah, Arab Saudi, pada Sabtu, 31 Maret 2018.

Bulan lalu, pihak berwenang kembali dihujani kritik pedas, karena menjual tiket konser Tamer Hosny dengan imbuhan instruksi: dilarang keras berjoget. Meski demikian, tiket terjual habis dalam waktu dua jam dan 6.000 orang menikmati pertunjukan.

Salah satu pengguna Twitter bahkan melontarkan candaan dengan mengunggah status, "Hadirin sekalian, tolong kencangkan sabuk pengaman Anda, karena koridor dan kursi yang telah Anda pesan dilengkapi dengan detektor guncangan. Siapa pun yang berupaya untuk berjoget, maka ia akan dilempar secara otomatis," tulis pengguna yang tak disebutkan namanya itu, seperti dikutip dari Daily Mail, Minggu, 1 April 2018.

Pengguna lain bahkan berkomentar, "Tidak boleh menari dan berjoget !!!!!! Seperti meletakkan es di bawah sinar matahari dan kemudian merekomendasikan es itu agar tidak meleleh," tulis pengguna @ fahd_albluwi sembari menunjukkan tiket konser seharga 1.500 riyal itu -- setara dengan Rp 5,5 juta.

Di tengah konsernya, Hosny meminta penonton untuk menyalakan senter ponsel mereka, sehingga ia dapat mengabadikan momen tersebut dan mengunggahnya ke media sosial.

Pertunjukan berjalan lancar dan berakhir menyenangkan untuk perempuan-perempuan Arab Saudi.

Wanita Saudi menghadiri konser oleh artis Mesir, Tamer Hosny, di kota barat Jeddah. (Amer Hilabi / AFP)

 

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Pertama Dalam Sejarah, Arab Saudi Gelar Festival Jazz

Laki-laki dan perempuan tampak terlena mengikuti alunan musik dalam festival jazz yang digelar di Riyadh, Arab Saudi, selama tiga hari pada 23 - 25 Februari 2018 -- pertama kalinya dalam sejarah negara yang memegang teguh konservatisme Islam itu.

Festival -- yang salah satu tujuannya digelar untuk melunturkan citra konservatisme Saudi -- itu menampilkan musikus jazz dari dalam dan luar negeri. Demikian seperti dikutip dari Strait Times, 25 Februari 2018.

Sementara itu, seperti dikutip dari media pemerintah Arab Saudi, Al Arabiya, lebih dari 6.000 tiket habis terjual, kata Abada Awad, CEO promotor festival.

Kerumunan penonton bernyanyi bersama saat musikus jazz Chady Nashef asal Lebanon melantunkan Hotel California-nya band Amerika Serikat, Eagle -- menunjukkan sebuah momen yang tak biasa di mana pada tahun lalu, polisi agama di negara tersebut mengecam perhelatan semacam konser musik, menyebutnya sebagai hal yang berbahaya dan merusak iman.

Festival jazz itu disponsori oleh Otoritas Hiburan Umum Kerajaan Arab Saudi dan digelar di International Golf Club Riyadh. Turut tampil, trombonist AS terkenal, Delfeayo Marsalis, dan band jazz Inggris, Incognito, yang mulai membuat musik pada tahun 1979 dan sempat bertengger di beberapa tangga lagu Inggris.

Gelaran festival jazz itu, dan ribuan lainnya yang akan dilakukan di Saudi sepanjang tahun ini, sebagian besar dimotivasi oleh motif ekonomi, bagian dari program reformasi Saudi Arabia Vision 2030 -- yang dilakukan untuk mendiversifikasi ekonomi dari minyak dan menciptakan lapangan kerja bagi kaum muda Saudi.

Festival semacam itu juga menandai perubahan dalam kehidupan sosial Saudi dan relaksasi pada segregasi gender secara bertahap, meskipun pembatasan tetap ada.

Pada festival jazz tersebut pekan ini misalnya, area di depan panggung terbagi menjadi dua bagian - satu untuk pria dan satu untuk wanita - namun, bagi yang datang bersama keluarga dapat duduk bercampur di area khusus di samping dan di belakang.

"Saya sangat senang, saya bangun dari tempat tidur pagi ini dan pergi ke festival jazz dan tampil di depan kerumunan seperti saya, bangsaku," kata Saleh Zaid, seorang musikus dari band lokal Min Riyadh.

"Ini adalah perasaan yang tidak bisa saya jelaskan kepada Anda."

Selain pencinta jazz, banyak orang datang untuk mendengarkan musik yang dimainkan di acara outdoor, dengan truk makanan, display mobil vintage dan suasana santai.

Meski reformasi sosial-kultural telah banyak terjadi di Saudi -- termasuk ketika dicabutnya larangan berusia 35 tahun tentang bioskop dan perempuan mulai diizinkan mengemudi awal tahun ini -- mayoritas negara tersebut tetap berhaluan konservatif, yang tecermin dalam keputusan penegakan hukum pemerintah.

Awal bulan ini, pihak berwenang menahan seorang pria setelah sebuah video dirinya berdansa dengan seorang perempuan di jalanan viral di dunia maya.

Akan tetapi, sepanjang Jumat hingga Minggu pekan ini, perempuan berkerudung dan bergamis asyik berjoget mengikuti irama musik, tidak peduli dengan kemungkinan reaksi balik dari para polisi agama.

"Festival itu menunjukkan bahwa kepemimpinan di sini ingin membiarkan orang-orang membuka diri, melihat lebih banyak hal, lebih banyak budaya," kata Salem al-Ahmed, yang dengan teman-teman mudanya bergaya melompat pada kesempatan untuk menghadiri festival pertamanya di kota tersebut.