Sukses

5 Cara Terbaik Mengabadikan Fenomena Supermoon 2018

Liputan6.com, Jakarta - Pada 31 Januari 2018, penduduk Bumi akan disuguhkan fenomena alam langka, yakni Super Blue Blood Moon. Ini merupakan penampakan kedua kalinya dalam sejarah sejak 152 tahun lalu.

Dilansir dari laman ABC News pada Selasa (30/1/2018), fenomena gerhana Bulan dapat dilihat secara langsung dengan mata telanjang.

 

Berikut terdapat lima trik memotret fenomena Super Blue Blood Moon :

1. Memotret dengan kamera ponsel

Cara ini sangat tidak disarankan, namun bukan berarti tidak bisa dimanfaatkan. Saran terbaik adalah menggunakan mode manual pada kamera ponsel, dan atur hingga kondisi pengambilan gambar yang sesuai. Agar hasil foto tidak kabur, tempatkan kamera ponsel di sudut penyangga di mobil atau gedung, lalu gunakan fitur photo timer.

2. Cari bangunan unik

Buatlah seolah-olah gerhana bulan menempel, atau melewati ujung dan tepian bangunan guna menciptakan kesan dramatis. Beberapa sudut bangunan unik yang bisa dimanfaatkan, misalnya jembatan menara, gedung tinggi dan atap gereja.

3. Waktu terbaik

Waktu terbaik untuk memotret fenomena alam langka ini adalah menjelang tengah malam pada 30 Januari. Waktu tersebut memungkinkan untuk menyaksikan langsung proses terbentuknya Super Blue Blood Moon dan tentu memberi kesempatan lebih banyak untuk memotret.

4. Memotret detail Bulan

Untuk mendapatkan foto close-up gerhana Bulan, dibutuhkan penggunaan kamera point-shoot dengan lensa zoom besar.

5. Refleksi air

Di ranah fotografi dikenal sebuah teknik bernama 'star trails', yakni untuk menangkap pantulan gerhana bulan di permukaan air, baik itu danau, pantai atau sungai besar. Untuk mendapatkan foto seperti ini, diperlukan bantuan telephoto atau lensa berukuran besar.

 

1 dari 2 halaman

Asal Usul Nama Super Blue Blood Moon

Penamaan fenomena Super Blue Blood Moon didasarkan atas tiga peristiwa gerhana yang terjadi dalam waktu bersamaan, yaitu super moon, blood moon, dan blue moon.

Super moon merupakan penamaan terhadap fenomena Bulan penuh yang menandakan posisi terdekat Bulan dengan Bumi.

Sedangkan blood moon adalah sebuah istilah untuk menggambarkan gerhana Bulan total, di mana cahaya Matahari petang yang menyinari Bumi terefleksi ke permukaan Bulan.

Adapun blue moon lebih merujuk siklus penanggalan, ketika Bulan purnama kedua terjadi di bulan yang sama.

Tidak seperti gerhana Matahari total yang terjadi pada Agustus 2017, fenomena Super Blue Blood Moon dapat dilihat secara aman dengan mata telanjang.

Fenomena tersebut juga akan terjadi selama lebih dari satu jam, jauh lebih lama dari gerhana Matahari total yang terjadi kurang dari tiga menit.

Artikel Selanjutnya
3 Langkah Tampil Memukau di Bulan Ramadan
Artikel Selanjutnya
Ini Tagar Favorit Pengguna Twitter di Awal Ramadan