Sukses

Pemerintah AS Buru Imigran Gelap di 100 Toko 7-Eleven

Liputan6.com, Washington DC - Petugas ICE, atau pusat imigrasi Amerika Serika (AS), mendatangi hampir 100 toko 7-Eleven di seluruh penjuru negeri guna merazia pekerja imigran yang tidak memiliki dokumen lengkap, pada Rabu, 9 Januari 2018. Ini merupakan tindak lanjut kebijakan Presiden Donald Trump dalam memperketat kuota imigran yang keluar masuk Negeri Paman Sam.

"Anda akan melihat lebih banyak operasi serupa dalam skala yang lebih besar. Ini hanya permulaan," ujar Derek Benner, direktur eksekutif divisi Investigasi Keamanan Nasional ICE, sebagaimana dikutip dari laman newsweek.com, Kamis (11/1/2018).

"Razia ini tidak berlaku sebatas pada perusahaan besar atau industri tertentu, besar, kecil, dan menengah. Targetnya bisa apa pun yang terlihat mencurigakan di luar sana,” lanjutnya.

Hukum AS menganggap ilegal bagi perusahaan untuk mempekerjakan pekerja asing yang tidak memiliki dokumen lengkap.

Deputi Direktur ICE, Thomas Homan, dalam pernyataan resminya mengatakan bahwa entitas bisnis yang mempekerjakan pekerja tidak resmi merupakan salah satu daya tarik kuat arus imigrasi ilegal ke AS. Ia dan jajarannya berjanji akan terus bekerja keras memutus daya tarik tersebut demi melindungi lapangan pekerjaan bagi masyarakat AS.

"Razia ini juga bertujuan untuk mengurangi persaingat kerja yang tidak sehat di dalam perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan imigran gelap," jelas Homan.

1 dari 3 halaman

Razia Imigran Gelap Akan Terus Berlangsung Selama Trump Memerintah

Razia besar-besaran terhadap para imigran gelap disebut akan terus dilakukan selama Trump duduk di kursi kepresidenan.

"Kami perlu mengingatkan sekali lagi kepada seluruh perusahaan untuk menaati peraturan terkait ketenagakerjaan dan imigrasi yang berlaku saat ini," jelas Benner.

"Jika tidak digubris, kami akan melakukan langkah yang lebih agresif, termasuk investigasi kriminal dengan ancaman sanksi hukum," lanjutnya menegaskan.

Sejak resmi memerintah, Presiden Donald Trump telah secara drastis meningkatkan penegakan aturan imigrasi di AS. Tercatat, ICE telah menemukan sebanyak 40 persen dokumen imigrasi yang diduga ilegal. Selain itu, pemerintahan Trump juga telah memberi lampu hijau kepada dinas imigrasi federal untuk menahan siapa pun yang diduga sebagai pendatang ilegal.

Mengutip dari laporan BBC, ini bukan pertama kalinya jaringan minimarket 7-Eleven menjadi target razia ICE.

Jauh sebelumnya pada 2013 lalu, dua manajernya di negara bagian New York dan Virginia terbukti bersalah menggunakan 25 identitas curian untuk memayungi masuknya 115 imigran gelap ke AS. Keduanya juga terbukti bersalah mempekerjakan karyawan dengan upah di bawah standar regional.

2 dari 3 halaman

Ironi di Balik Razia terhadap Buruh Migran Ilegal

Razia imigrasi yang terjadi di banyak cabang 7-Eleven tersebut berbanding ironi dengan fakta bahwa sang CEO, Joseph DePinto, pengusaha AS keturunan Meksiko, turut menyumbang dana pribadi puluhan juta rupiah untuk mendukung kampanye pemilu Trump pada 2016 lalu.

Ironisnya lagi, razia ini hanya berselang beberapa jam dari keputusan sidang aturan imigrasi oleh Hakim Distrik AS William Alsup di San Fransisco. Putusan sidang tersebut berhasil menghalau upaya pemerintah AS untuk menghentikan aturan perlindungan bagi anak di bawah umur yang dibawa masuk oleh orang tuanya secara ilegal.

Artikel Selanjutnya
11 Jasad Tanpa Identitas Ditemukan di Perairan Libya, Imigran Gelap?
Artikel Selanjutnya
Pemerintah Suriah: Serangan Koalisi Milter AS Ditakdirkan Gagal