Sukses

Bahrain Desak Keanggotaan Qatar di GCC Dibekukan

Liputan6.com, Manama - Bahrain menegaskan tidak akan datang ke KTT Dewan Kerja Sama untuk Negara Arab di Teluk (GCC) jika Qatar hadir. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Bahrain Khalid al-Khalifa melalui serangkaian pernyataan di media sosial Twitter.

Dalam postingan yang dibuat pada hari Minggu malam, Menlu Khalifa mengatakan bahwa keanggotaan Qatar di GCC harus dibekukan sampai Doha memenuhi tuntutan yang dilayangkan oleh Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan Uni Emirat Arab.

"Bahrain tidak akan menghadiri KTT GCC dan duduk bersama dengan Qatar... Langkah tepat yang harus dilakukan GCC adalah membekukan keanggotaan Qatar sampai mereka sadar dan memenuhi daftar tuntutan kami," ungkap Khalifa.

"Mengingat apa dilakukan Qatar, dari kebijakan nakal dan sifat jahat yang mengancam keamanan nasional kita, kami telah mengambil langkah penting untuk memboikot Qatar dan menerapkan pengepungan," imbuhnya.

Twit Khalifa tersebut merupakan pengakuan pertama oleh anggota kuartet itu bahwa mereka telah "mengepung" Qatar. Sebelumnya mereka mengklaim hanya melakukan pemboikotan terhadap Doha.

Pernyataan Khalifa ini mencuat tak lama setelah wawancara CBS dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani. Dalam kesempatan itu, pemimpin Qatar mengutuk upaya untuk melanggar kedaulatan negaranya.

"Kedaulatan kami adalah 'garis merah'. Kami tidak dapat mengizinkan siapa pun yang melanggarnya," tegas Sheikh Tamim.

Bahrain dan sekutunya yang memberlakukan blokade darat, laut dan udara terhadap Qatar sejak Juni lalu menuding jika Doha mendukung terorisme dan ekstremisme.

Kuartet negara yang dipimpin Saudi tersebut pun meminta agar Qatar berhenti mendukung kelompok seperti Ikhwanul Muslimin, menjauh dari Iran, menutup kantor berita Al Jazeera dan beberapa media lainnya, serta mengusir pasukan Turki dari Qatar.

Qatar dengan keras membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya. Selain itu, Doha tegas menolak memenuhi tuntutan tersebut.

"Mereka tidak menyukai kemerdekaan kami, bagaimana kami berpikir, visi kami bagi kawasan. Kami ingin kebebasan berbicara bagi masyarakat di kawasan. Dan mereka tak senang dengan itu. Menurut mereka itu ancaman," ujar Sheikh Tamim dalam wawancaranya dengan CBS.