Sukses

'Neraka' Gelombang Panas Picu Bunuh Diri 60.000 Petani India

Liputan6.com, Delhi - Perubahan iklim dan gelombang panas menjadi pembunuh diam-diam atau silent killer di kalangan petani India.  

Menurut studi terbaru, kedua faktor itu berkontribusi terhadap bunuh diri 60 ribu petani India dalam tiga dekade terakhir.

Tingginya temperatur telah merenggut kehidupan petani, salah satu golongan masyarakat yang rapuh. Demikian diungkap studi tersebut seperti dikutip dari The Guardian pada Selasa (1/8/2017).

Menggambarkan sensitivitas ekstrem industri pertanian India terhadap kenaikan suhu, studi dari University of California, Berkeley, menemukan kenaikan hanya 1 derajat Celcius pada hari rata-rata selama musim tanam dikaitkan dengan 67 kasus bunuh diri.

Peningkatan suhu hingga 5 derajat Celcius pada satu hari dikaitkan dengan 335 kematian tambahan, demikian studi yang dipublikasikan di jurnal PNAS.

Secara total, diperkirakan 59.300 kasus bunuh diri di sektor pertanian selama 30 tahun terakhir dapat dikaitkan dengan pemanasan global dan perubahan iklim.

Petani Tamil Nadu menggelar unjuk rasa di New Delhi, Kamis (16/3). Mereka meminta pemerintah untuk menyelesaikan sengketa antar petani Tamil Nadu dengan Karnataka. (AFP PHOTO / Prakash SINGH)

Studi ini juga mendukung teori tentang curah hujan meningkat sedikitnya 1 cm setiap tahunnya dikaitkan dengan penurunan rata-rata 7 persen dalam tingkat bunuh diri.

"Jadi dalam hal ini, manfaat curah hujan yang kuat membuat tingkat bunuh diri lebih rendah untuk dua tahun berikutnya," kata peneliti Tamma Carleton.

Kasus bunuh diri di sektor pertanian India menurun tahun lalu, tapi tetap berada pada tingkat epidemi di beberapa negara bagian dan merupakan sumber tekanan besar bagi para legislator.

Satu negara yang terkena kekeringan, Maharashtra, melaporkan 852 kasus bunuh diri petani dalam empat bulan pertama tahun ini, sementara pada tahun 2015, salah satu tahun terburuk yang tercatat, sekitar 12.602 petani melakukan bunuh diri di seluruh India.

Secara keseluruhan, lebih dari 300 ribu petani dan buruh tani telah bunuh diri di negara ini sejak 1995.

Dalam beberapa bulan terakhir, sebuah situs di pusat Kota Delhi dipenuhi dengan bukti keputusasaan yang dirasakan oleh sektor pertanian India.

Bukti itu berupa tengkorak dan tulang yang diduga milik petani yang membunuh diri mereka sendiri telah ditumpuk di kawasan Jantar Mantar, yang letaknya hanya selemparan batu dari parlemen India.

Tulang belulang itu dibawa ke Delhi oleh petani lainnya dari Tamil Nadu, sebuah negara bagian yang mengalami kekeringan terburuk dalam 140 tahun terakhir, yang oleh para pemrotes disebut telah memicu ratusan kasus bunuh diri dalam beberapa bulan terakhir.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Utang Bank yang Menjerat

Kekeringan serta gagal panen ditambah dengan utang bank yang menjerat adalah faktor yang membuat para petani ini mengambil jalan pintas.

"Dan yang lebih buruk daripada tanaman kering adalah pinjaman bank yang membayangi banyak keluarga petani," kata Rani Radhakrishnan, istri petani yang bunuh diri dan hadir dalam unjuk rasa di Delhi.

Pada bulan Februari, berutang 80.000 rupee atau sekitar Rp 163 juta, suami Rani berdiri di luar cabang banknya di Kota Trichy. Tak lama, ia menenggak ramuan racun dan kemudian tewas seketika.

"Dia telah membicarakan hal-hal seperti ini (bunuh diri) terjadi pada orang lain, tapi tidak pernah melakukannya sendiri," katanya.

Minggu depan, Radhakrishnan dan menantu perempuannya berdiri di luar bank sambil mengacungkan gumpalan uang rupee. "Kami katakan kepada mereka, kami telah melunasi uang Anda, sekarang apakah Anda akan mengembalikan hidup suamiku?" ujar Radhakrishnan.

Petani Tamil Nadu menggelar unjuk rasa di New Delhi, Kamis (16/3). Lebih dari 200 petani telah melakukan bunuh diri di Tamil Nadu dalam beberapa bulan terakhir setelah gagal panen akibat irigasi dan curah hujan yang buruk. (AFP PHOTO / Prakash SINGH)

Tahun lalu, pemerintah India meluncurkan skema asuransi US$ 1,3 miliar untuk melindungi petani dari kegagalan panen dan mencoba mengurangi separuh kasus bunuh diri di kalangan petani.

Maharashtra, Punjab, dan kawasan berpenduduk paling padat di negara bagian Uttar Pradesh, semuanya telah melewati keringanan utang pertanian dengan biaya yang sangat besar untuk memenuhi tuntutan sektor pertanian, yang memimpin gejolak politik yang kuat.

Ilmuan Tamma Carleton mengatakan bahwa penelitiannya menunjukkan sedikit bukti bahwa petani India mengubah praktik pertanian mereka untuk mengakomodasi kenaikan suhu.

"Tanpa intervensi yang membantu keluarga beradaptasi dengan iklim yang lebih hangat, kemungkinan kita akan melihat meningkatnya jumlah korban yang kehilangan nyawa karena perubahan iklim memburuk di India," kata Carleton.

Tingkat bunuh diri sebenarnya mungkin lebih tinggi, tambahnya, karena kematian umumnya tidak dilaporkan di India dan, sampai tahun 2014, bunuh diri dianggap sebagai tindak pidana. Hal itu membuat sanak keluarga tidak melaporkan kematian akibat bunuh diri.

"Tragedi ini terus berlangsung hingga hari ini," kata Carleton. "Ini bukan masalah bagi generasi mendatang. Inilah masalah kita, sekarang juga. "

Loading