Sukses

10 Cara Bakteri 'Menguasai' Tubuh Manusia

Liputan6.com, Jakarta - Bakteri mempengaruhi naluri paling mendasar manusia dengan cara manipulasi tubuh, perasaan, dan pikiran. Alasannya, mereka telah ada jauh sebelum kita dan juga ingin hidup.

 

Lalu, apakah mikroba itu? Mikroba adalah singkatan dari mikro organisme yang hadir dalam berbagai bentuk bakteri dan jamur, misalnya.

Makhluk-makhluk itu sangat kecil sehingga kebanyakan kasat mata. Beberapa jenis bakteri bahkan hanya ada dalam diri seseorang, bukan di orang-orang lain.

Dikutip dari Ranker.com pada Kamis (20/7/2017), jumlah bakteri itu 10 kali lipat lebih banyak daripada kita. Secara rata-rata, tubuh seseorang memiliki 100 triliun sel mikroba dan hanya 10 triliun sel manusia.

Berikut ini adalah 10 hal terkait keberadaan bakteri berkaitan dengan kesehatan manusia:

2 dari 11 halaman

1. Bakteri Jahat Penyebab Kegalauan

Sifat tidak sabar seringkali dimiliki oleh setiap manusia. Apakah Anda termasuk penyabar atau tidak? Cek tanda-tandanya di sini. (iStockphoto)

Banyak temuan tentang manfaat bakteri baik masih pada tahap awal sehingga para peneliti masih berkutat dengan alasan etik untuk melakukan percobaan pada manusia karena kekhawatiran tentang efek sampingnya.

Namun demikian, percobaan pada tikus sudah memberi petunjuk awal. Pada 2011, penelitian oleh McMaster melibatkan transplantasi mikroba lambung dari tikus-tikus pengelana ke dalam lambung tikus-tikus pendiam dan sebaliknya.

Mereka mendapati bahwa tikus-tikus yang pemalu mulai mempertunjukkan "perilaku ingin tahu" setelah transplantasi, sedangkan tikus-tikus pengelana itu malah menunjukkan "penurunan perilaku ingin tahu."

Ada dugaan bahwa mikroba-mikroba mungil kita akan menyantap apa yang kita berikan. Dan, tergantung jenis mikroba itu, mereka mengeluarkan zat kimia tertentu ke dalam tubuh kita.

Menurut Michael Pollan dari New York Times, bakteri pencernaan kita berdampak kepada pembuatan neurotransmitter, termasuk serotonin. Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti telah mengungkapkan hubungan antara kelompok bakteri jenis tertentu, yaitu Oscillibacter – dengan depresi pada manusia.

Penelitian 2014 itu memang hanya menengarai adanya korelasi, bukan hubungan sebab-akibat, tapi selayaknya kita mencermati bahwa mikroba 'berbicara' dengan tubuh kita. Jadi, jangan terburu-buru menggunakan sabun antibakteri, karena bakteri-bakteri itu mungkin saja membantu lebih daripada yang kita sadari.

3 dari 11 halaman

2. Manfaat Pemanasan Seksual (Foreplay)

Ilustrasi Foto Vagina (iStockphoto)

Vagina adalah tempat kediaman berbagai jenis mikroba baik yang, ketika tertelan, dapat membantu menyingkirkan mikroba yang dianggap mengganggu dan memerangi alergi, penambahan berat badan, dan depresi.

"Banyak orang melengkapi diet mereka dengan probiotik," kata Lucy Tiven. "Tapi orang bisa juga menemukan 'bakteri baik' dalam tubuh manusia, terutama dalam vagina."

Kenyataannya, menurut temuan penelitian Robinson, Bohannan, dan Young pada 2010, "Kebanyakan kumpulan bakteri vagina dalam seorang wanita yang sehat didominasi oleh spesies lactobacillus. Bakteri memegang peranan penting dalam produksi vitamin dan asam amino hakiki dalam manusia."

Ketika tubuh bersentuhan dengan makhluk-makhluk baik itu, mereka meningkatkan sistem kekebalan dan mengusir bakteri-bakteri kurang baik. Tanpa bakteri-bakteri baik, kita lebih rentan terhadap asma, alergi dan penyakit lain yang terkait dengan sistem kekebalan.

Misalnya, bayi-bayi yang dilahirkan melalui bedah Caesar tidak bertemu dengan bakteri-bakteri baik dalam saluran kelahiran, sedangkan mikroba yang melumuri bayi kelahiran Caesar biasanya adalah jenis bakteri jahat yang lazim ada pada kulit dan rumah sakit.

Lagipula, menurut penelitian 2010, bayi-bayi yang lahir secara alamiah mendapatkan manfaat lactobacillus yang membantu dalam pencernaan susu.

4 dari 11 halaman

3. Seberapa Manusiakah Kita?

Ilustrasi mata manusia. Tampak cincin limbal mengelilingi bagian iris mata. (Sumber Wikimedia Commons)

Rob Knight, profesor pediatri dan rekayasa komputer di University of California San Diego, menjelaskan, "Seseorang mungkin hanya memiliki 10 persen keserupaan dengan orang lain di sebelahnya, kalau kita bicara soal mikroba lambungnya."

"Padahal hanya ada 3 pon mikroba dalam pencernaan kita, dan mereka menguasai kita."

Jadi, apakah pada hakikatnya kita bukan manusia? Bisa dibilang begitu, walaupun kenyataannya kita 99 persen identik dengan rata-rata sesama manusia jika kita bicara soal DNA manusia. Kita semua sangat unik berdasarkan perbedaan besar mikroba-mikroba kita.

Laporan Science Daily menyebutkan, "Ada kira-kira 3,3 juta gen dalam total DNA suatu bakteri, yang setara denga 160 kali lipat jumlah gen manusia."

Jadi mungkin saja kepribadian dan kebiasaan kita berkait dengan makhluk-makhluk renik tersebut dan para peneliti seluruh dunia berupaya untuk mengetahui lebih banyak, salah satunya adalah dengan analisa tinja.

Karena penyusunan urutan (sequencing) sudah lebih murah, orang bisa menyumbang kepada American Gut Project untuk secara pasti mengetahui jenis mikroba yang bercokol dalam sistem pencernaannya.

5 dari 11 halaman

4. Manfaat Ramuan Tinja

Ilustrasi sapi penghasil susu (Victoria)

Selama beberapa tahun terakhir, para dokter hewan telah mempelajari hubungan antara mikroba dan lambung hewan. Karena aturan percobaan yang lebih longgar pada hewan, mereka bisa mencoba taktik memulihkan usus besar yang bermasalah, misalnya pada sapi.

Teh tinja adalah salah satu taktik yang dimaksud. Pada beberapa sapi, ramuan itu telah membantu memulihkan keseimbangan bakteri pencernaan. Dokter hewan mengambil tinja sapi sehat untuk menjadi sumber mikroba sehat dan dipakai untuk memperkuat sistem kekebalan sapi yang sakit.

Setelah pemberian awal antibiotik untuk 'membersihkan' bakteri dalam sapi yang sakit, campuran tinja sapi sehat diberikan kepada sapi yang sakit dengan harapan agar mikroba baik itu dapat membantu mengatasi persoalan pencernaan sapi. Sebagai catatan, cara pemberian 'sup kuning' itu ternyata dimulai di China pada Abad ke-4.

Menelan tinja memiliki beberapa kekurangan, terutama karena mikroba sehat yang masuk melalui saluran makanan akan berhadapan dengan asam lambung yang membunuh mereka.

Oleh karena itu, pada 2013 FDA menyetujui cara pengobatan yang lebih baik untuk membantu pengobatan pada manusia melawan infeksi C-diff yang berbahaya pada hampir setengah juta warga Amerika Serikat setiap tahun. Transplantasi tinja memungkinkan para dokter mengambil bahan tinja dari orang yang sehat dan menempatkannya dalam orang yang menderita infeksi patogen yang sudah kebal antibiotik.

6 dari 11 halaman

5. Pelindung Sejak Awal

Ilustrasi Perkebunan Sawit (iStockphoto)​

Ketika kita lahir, baik secara alamiah ataupun bedah Caesar, maka tubuh mungil kita langsung diserbu berbagai mikroba dan yang pertama kali menguasai itulah yang memiliki dampak menetap pada kesehatan.

Melalui panggung Ted Talk, Jonathan Eisen menyebutkan bahwa mikroba itu seperti pelapis yang baik pada kebun, sehingga "pelapis yang baik di seluruh halaman rumah dapat mencegah merebaknya tanaman liar."

Ketika bercokol di tempat yang tepat, misalnya akses terbaik pada makanan, mikroba bukan hanya membantu tubuh membedakan kawan dan lawan, tapi juga membantu mencegah masuknya bakteri jahat.

Keberagaman bakteri dalam pencernaan memberikan kesempatan terbaik bagi tubuh untuk melawan pendatang asing karena "bakteri jahat tidak bisa dihindari…sehingga memiliki bakteri baik membantu menghentikan pertumbuhan bakteri jahat penyebab penyakit," kata Dr. David Samadi dalam artikel "1 Percent Human, 99 Percent Bacteria."

"Tubuh kita itu seperti negeri tanah air kita dan bakteri baik itu seperti tentara yang berperang melindunginya."

Tanpa keseimbangan itu, bisa terjadi inflamasi, padahal inflamasi itulah cara tubuh kita menceritakan ada sesuatu yang salah. Jika dibiarkan terus-menerus, maka hal itu bisa menjadi penyakit oto-imun atau bahkan kanker.

7 dari 11 halaman

6. Ada Lapangan Tenis di Perut Kita

Ilustrasi Foto Kanker Usus Besar (iStockphoto)

Lapisan terpenting pada usus adalah epitelium yang berperan melindungi tubuh dari infeksi dan inflamasi. Ternyata, yang menjaga kondisi epitelium itu adalah mikroba-mikroba kita.

Luas permukaan epitelium manusia "cukup besar untuk menutupi suatu lapangan tenis," demikian menurut Michael Pollan, dan "Epitelium itu menjembatani hubungan kita dengan dunia di luar tubuh kita."

Jika lapisan itu rusak atau kurang gizi, maka pelindung itu tidak bisa melakukan tugasnya. Kalau itu terjadi, maka bakteri dan endotoksin – zat racun dari bakteri tertentu – terserap ke dalam aliran darah dan memicu tanggapan kekebalan melalui kemunculan inflamasi.

Hal itu tidak baik karena inflamasi ringan yang berulang dalam jangka panjang dalam mengarah kepada sindrom metabolis dan menyeret kita pada penyakit-penyakit amat serius seperti penyakit kardiovaskular, obesitas, diabetes tipe 2, dan kanker, demikian temuan dari suatu penelitian pada 2007.

Lalu bagaimana cara mikroba menjaga kesehatan pelindung itu? Sel-sel epitel menyukai asam lemak rantai pendek yang dihasilkan oleh bakteri pencernaan ketika bakteri-bakteri itu menyantap makanan kesukaan mereka, yaitu serat tanaman.

8 dari 11 halaman

7. Minuman Hulk Loads Membantu Bakteri

Hilangkan Bau Badan dengan minum jus campuran sayur dan buah

Seorang komedian dan mantan pelakon bela diri bernama Joe Rogan gemar bercerita tentang ramuan minumannya, Hulk Loads Smoothie, yang kaya serat tanaman kesukaan mikroba kita.

Di dalamnya ada daun kale, 3 batang seledri, satu mentimun, sepotong jahe seukuran jempol, empat butir bawang putih dan sebutir apel. Tapi, takarannya bisa disesuaikan selera agar lebih dinikmati.

Smoothie itu mengandung prebiotik – sedikit berbeda dengan probiotik – yang memberi asupan kepada bakteri yang sudah bercokol dalam tubuh kita. Probiotik, misalnya yang ada dalam yogurt, roti masam, dan acar Sauerkraut, membawa bakteri baru ke dalam tubuh yang bisa menguasai lebih dulu daripada bakteri buruk.

Menurut Pollan, "Ketangguhan komunitas lambung seseorang mungkin bisa menjelaskan mengapa ada orang yang menjadi korban keracunan makanan, sedangkan orang lainnya tidak terganggu walaupun menyantap makanan yang sama."

9 dari 11 halaman

8. Menjadi Seksi Karena Pangan Berserat

Secara ilmiah, daya tarik seksual (sex appeal) bukan sekadar urusan tampilan fisik. Lalu, apa yang dapat meningkatkan daya tarik itu? (Sumber Pixabay)

Daya tarik fisik berkaitan langsung dengan ketangguhan sistem kekebalan kita. Dan kita sekarang sudah mengetahui caranya membangun sistem kekebalan, yaitu memberi asupan serat kepada mikroba dalam pencernaan.

F. Bryant Furlow menjelaskan, "Bau tubuh magis seseorang bukanlah ramuan romantis, tapi rembesan wewangian dari sistem kekebalan kita."

Secara khusus, "Daya pemikat seorang pria sebagian bergantung kepada seberapa banyak gen sistem kekebalan yang ia bagikan kepada potensi pasangan."

Cukup masuk akal. Secara biologis, bayi yang dilahirkan dengan gen yang lebih beragam memiliki kesempatan lebih besar untuk mengatasi halangan-halangan dalam kehidupan, karena keberagaman gen adalah jaminan bagi ras manusia.

Bukan hanya itu, rendahnya kadar kortisol – hormon stres – yang dibarengi tingginya kadar testosteron dan respon kekebalan memiliki korelasi langsung dengan daya tarik fisik.

Dengan kata lain, semakin sehat sistem kekebalan seseorang, semakin sedikit pengalaman stres orang itu dan semakin besar daya tariknya.

Penelitian pada 2015 menunjukkan bahwa stres menyebabkan kerusakan lebih dahsyat daripada yang kita kira. Perubahan dalam mikroba pencernaan "telah dikaitkan dengan gangguan terkait stres, misalnya depresi dan kecemasan, dan dalam gangguan perkembangan syaraf semisal autisme, serta dalam fungsi kognitif."

Jika kita memberi asupan kepada bakteri-bakteri pencernaan, kita mengurangi semua masalah yang tersebut di atas karena mengurangi stres yang dialami tubuh kita. Lebih dari itu, kita sekaligus terlihat lebih menarik bagi calon pasangan.

10 dari 11 halaman

9. Menyerap Lebih Banyak Kalori

Ilustrasi Badan Gemuk atau Obesitas (iStockphoto)

Pernah terpikir mengapa ada teman kita yang makan dalam jumlah yang sama dengan kita tetapi sepertinya tidak bertambah gemuk? Salah satu alasannya adalah metabolisme, tapi perbedaan mikroba pencernaan juga berpengaruh.

Dr. Barbara Natterson-Horowitz, profesor kardiologi di UCLA, membicarakan fenomena ini dalam bukunya "Zoobiquity: The Astonishing Connection Between Human and Animal Health."

Ia menjelaskan bawha di dalam ranah mikrobiologi, kita memiliki dua kelompok bakteri dominan, yaitu Firmicute dan Bacteroidete. Ia mendapati bahwa "manusia obese memiliki proprosi lebih besar Firmicute dalam usus mereka."

Perbedaan itu penting, karena, seperti menurut penjelasan Natterson-Horowitz, "Penambahan pesat koloni Firmicute dapat membantu menyerap, misalnya 100 kalori dari sebuah apel yang dimakan orang. Sedangkan teman orang itu memiliki populasi Bacteoridete yang dominan yang menyerap hanya 70 kalori dari apel yang sama."

Dengan kata lain, orang itu dan temannya menyantap makanan yang benar-benar sama, tapi perbedaannya ada pada bakteri pencernaan yang membantu menyerap lebih banyak energi.

Hal itu bisa menjadi alasan mengapa teman kita bisa makan dua kali lipat tapi tidak pernah bertambah berat. Bukan hanya itu, bakteri-bakteri juga memicu kesenangan ngemil.

11 dari 11 halaman

10. Pertolongan dari Seekor Anjing

Pangeran George dan anjing keluarga bernama Lupo. (AFP)

Hewan peliharaan adalah sumber bagus untuk mikroba. Jika diperkenalkan pada waktu yang tepat dalam kehidupan kita, hewan peliharaan bisa membantu melawan alergi yang mengganggu.

Hewan peliharaan yang diperkenalkan pada waktu kecil dapat melatih sistem kekebalan anak. Kenyataannya, menurut Alexandra Carmichael, "Para peneliti UCSF yang melakukan peneliti pada 2013 menengarai bahwa kehidupan bersama seekor anjing pada saat masih bayi bisa saja menurunkan risiko anak terkait pengembangan asma dan alergi karena 'debu rumahan dari anjing'."

Jadi, hewan peliharaan bisa dipandang sebagai probiotik dan bisa memperkenalkan mikroba baru dan baik kepada keluarga. Bukan hanya itu, penelitian 2013 oleh Rob Knight dari University of Colorado, Boulder, mendapati bahwa "anak-anak yang kurang paparan kepada bakteri dan mikro organisme bisa lebih rentan terhadap sakit-penyakit karena banyak mikroba yang berevolusi bersama manusia sebenarnya memberi manfaat."

Selama jutaan tahun, bakteri-bakteri itu telah belajar bahwa lebih baik hidup bersama dalam hubungan simbiosis.