Sukses

Mukjizat Kecil untuk Bocah Tanpa Lengan Bermain Biola

Liputan6.com, Fairfax - Abdul Gouda dan teman-teman sekelasnya di George Mason University ini tengah berada dalam tekanan, sebab kelulusan mereka bergantung pada keberhasilan dari proyek yang mereka jalankan yakni menciptakan lengan bionik.

Selain itu, mereka juga menanggung beban karena memberikan harapan kepada bocah berusia 10 tahun yang sangat menggemaskan. Isabella Nicola yang duduk di kelas 5 SD ingin bermain biola, namun ia terlahir tanpa tangan kiri dan lengan yang sangat pendek.

Guru musiknya di SD Creek di Fairfax County, Virginia, AS telah berusaha untuk membuat lengan palsu untuknya, yang memungkinkan gadis itu untuk menggerakkan alat gesek dengan tangan kirinya dan senar biola dengan tangan kanannya -- berlawanan dengan cara permainan biola yang biasa diajarkan.

Lengan palsu Isabella terasa berat, sehingga guru musiknya menghubungi George Mason University, almamaternya, berharap mungkin ada pilihan yang lebih baik untuk anak muridnya itu. 

Kebetulan, Gouda dan empat teman satu timnya di jurusan bioteknik sedang melaksanakan proyek lengan bionik dalam proyek akhir di tahun terakhir mereka di universitas. Tapi gagasan awal mereka telah menemui kegagalan.

Awalnya Gouda mengaku ada keraguan. "Banyak sekali tekanan. Ada anak perempuan yang bergantung pada Anda dan Anda diharapkan dapat mewujudkannya," ujar dia seperti dilansir dari VOA News, Selasa (25/4/2017). 

Tim yang terdiri dari Gouda, Mona Elkholy, Ella Novoselsky, Racha Salha dan Yasser Alhindi kemudian mengembangkan berbagai purwarupa sepanjang tahun. Mereka menggunakan banyak literatur dari proyek-proyek serupa, yang membantu untuk mengawali proyek dengan baik.

Kendati demikian kasus Isabella bersifat unik, dan terjadi banyak kesalahan pada proyek tersebut. Beruntung bocah itu dapat berkomunikasi dengan kelompok tersebut dan memberikan masukan, khususnya tentang bobot lengan palsu tersebut.

Kelompok tersebut awalnya berhasil menciptakan lengan bionik pertama dengan bobot 13 ons atau sekitar 368 gram, namun versi akhirnya berkurang sekitar satu atau dua ons setelah mendapat masukan dari Isabella.

Tim tersebut merangkul seorang profesor musik di Mason, Elizabeth Adams, yang memberi masukan tentang kebutuhan Isabella agar dapat memainkan biola dengan mulus.

Mukjizat Kecil untuk Isabella

Kamis 20 April, Isabella pun akhirnya menerima versi akhir lengan palsunya yang dibuat dengan bantuan mesin cetak 3D. Warnanya merah muda menyala (sesuai dengan permintaannya).

Ia memainkan beberapa nada sambil menyesuaikan lengan, bahkan beberapa rangkaian musik dari lagu ciptaan Beethoven, Ode to Joy.

"Bukan main, rasanya jauh lebih nyaman," ujar Isabella saat ia mencoba lengan palsunya.

Dan tim itu memiliki kejutan untuknya. Lengan bionik itu dirancang agar ia dapat menggengam leher biola dan mengendarai sepeda.

"Saya merasa mendapat berkah dengan mengenal kelompok orang yang mengagumkan ini," ujar Isabella.

Isabella sudah menetapkan hatinya untuk bermain musik, ketika sekolahnya menawarkan pelajaran alat musik gesek di kelas empat.

"Saya tidak pernah mengatakan tidak padanya. Saya katakan kita akan coba. Tidak ada jaminan sekolah akan melakukan adaptasi," ujar ibunya, Andrea Cabrera. "Melalui mukjizat-mukjizat kecil ini, usaha ini terus mengalami kemajuan."

Isabella tidak pernah merasa ragu bahwa akhirnya proyek itu akan berhasil.

"Aku langsung merasa mampu untuk memainkan alat musik itu. Aku tak pernah menyerah," tutur Isabella.