Sukses

Ribuan Lilin Mengenang Setahun Gempa Nepal

Liputan6.com, Kathmandu - Setahun silam, 25 April 2015, tanah Nepal berguncang hebat akibat gempa 7,8 skala Richter. Hampir 9 ribu orang meninggal dan empat juta lainnya menjadi tunawisma karena 600 ribu rumah hancur.

Meski belum sepenuhnya pulih akibat kehilangan banyak hal pasca-gempa Nepal, orang-orang di sana tak begitu saja melupakan bencana dahsyat tersebut. Mereka pun berkumpul di suatu tempat untuk memberikan penghormatan kepada para korban.

Orang-orang berkumpul di reruntuhan menara bersejarah di ibukota Nepal, Kathmandu untuk berdoa bersama. Mereka lalu meletakkan karangan bunga untuk para korban, sementara lainnya mengadakan protes akibat lambatnya rekonstruksi pascagempa.

Dilansir dari Reuters, Senin (25/4/2016), orang-orang yang datang menyusun ribuan lilin membentuk bangunan Menara Dharara -- bangunan bersejarah sembilan lantai -- dan kuil Kasthamandap selain membawa karangan bunga.

Karangan bunga untuk korban gempa Nepal. (Reuters)

Perdana Menteri (PM) Nepal, Khadga Prasad Oli juga ikut serta dalam peringatan tersebut, ia meletakkan karangan bunga di reruntuhan Menara Dharahara yang terletak di jantung kota. Struktur ikonik yang runtuh pada 25 April 2015 dan menimbun 132 orang.

Tak hanya kerabat para korban meninggal yang berpartisipasi dalam upacara peringatan itu, yang lain juga berbondong-bondong datang untuk sekadar mendoakan.

"Saya kehilangan seorang teman yang bekerja di bagian atas menara pada hari itu. Saya berharap dia dan yang lainnya diberikan tempat yang terbaik," kata Ram Shrestha, menunjuk pada sisa-sisa menara.

"Saat itu aku baru saja keluar beberapa menit untuk berbelanja," imbuh Shrestha.

Sementara Madhav Newpane -- pemilik toko dekat menara -- yang menyaksikan menara itu runtuh, datang ke lokasi itu pada hari Minggu 24 April dengan karangan bunga dan lilin.

'"da banyak orang yang tewas di sini ... Aku tidak akan pernah bisa melupakan hari itu, " kata Newpane.

Demonstrasi Warga Nepal

Protes warga Nepal soal pembangunan yang lambat kepada warga korban gempa. (Reuters)

Sekitar 100 pengunjuk rasa bentrok dengan polisi anti-huru hara di luar kantor PM Nepal. Mereka berdemonstrasi menentang rekonstruksi rumah yang lambat.

Lebih dari 600.000 rumah hancur dan sekitar 185.000 lainnya rusak setelah gempa Nepal setahun lalu.

"Mana rekonstruksinya, buka gerbang ini pemerintah," teriak para pengunjuk rasa yang memaksa melalui barikade polisi.

Menurut data Federasi Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah, diperkirakan empat juta orang masih tinggal di tempat penampungan sementara yang kurang layak. Kondisi tersebut bisa saja menimbulkan ancaman bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka.

Sejauh ini hanya 661 keluarga yang telah menerima angsuran pertama dari hibah pemerintah 200.000 rupee, dan baru mendapatkan 50.000 rupee sejauh ini.

Belum ada kemajuan yang pesat di Nepal, meskipun pihak pendonor asing berjanji memberikan bantuan lebih dari empat miliar dolar -- yang disampaikan pada konferensi tahun lalu.

Pemerintah bahkan selama hampir satu dekade, belum melakukan upaya maksimal untuk merekonstruksi. Dari dana bantuan yang dijanjikan $ 4,1 miliar, Nepal sejauh ini baru menerima $ 1,2 miliar.

Penundaan penerimaan dana tersebut disebut-sebut akibat pembentukan National Reconstruction Authority oleh pemerintah yang baru rampung Desember 2015.

Sementara Menteri Keuangan Nepal, Bishnu Prasad Paudel menyalahkan keterlambatan dana tersebut atas survei rinci dari rumah yang rusak sebelum rekonstruksi bisa dimulai.

"Nepal telah menandatangani komitmen tertulis di atas 'hitam-putih', di mana tak akan ada rekonstruksi tanpa survei kepada si penerima bantuan. Sampai survei penerima selesai, tidak ada rekonstruksi," beber Paudel.

"Perbaikan sudah selesai di 11 dari 14 distrik yang terkena dampak gempa, pekerjaan itu akan dilanjutkan dengan kecepatan penuh," ucap Paudel.