Sukses

Maut Mengintai di Selokan India

Liputan6.com, Mumbai - Upah yang didapatkan tak seberapa, padahal apa yang mereka kerjakan sungguh luar biasa. Tak semua orang sudi terjun ke selokan, berkubang dalam airnya yang hitam pekat bercampur sampah yang busuknya bukan main.

Para pembersih saluran limbah di India juga harus bertaruh nyawa.

Hari Minggu lalu, dua buruh kasar mati lemas saat membersihkan pipa pembuangan di Bangalore. Dua pekan sebelumnya, dua pembersih selokan di Mumbai kehilangan nyawa saat menjalankan tugasnya.

Serikat buruh mengklaim para korban termasuk puluhan pembersih selokan yang tewas di India setiap tahunnya. Salah satu sebabnya, mereka tak dilengkapi  peralatan keselamatan.
 


Sudah 20 tahun Binod Lahot bekerja sebagai pembersih selokan. Ia ingat betul masa kerjanya itu, meski lelaki itu tak tahu berapa sebenarnya usianya.

Pengalamannya menjadi bukti bahwa pekerjaan kasar sebagai pembersih got bukan perkara gampang.

"Saat mengangkat tangan untuk menyuapkankan makanan ke mulutku, aku merasakan aroma limbah yang menusuk," kata Lahot.

"Namun, aku tetap meneruskan makan. Mengapa? Karena aku harus terus hidup dan kembali bekerja keesokan harinya," kata pria asal Mumbai itu.

Setiap harinya, Lahot bisa dijumpai sedang berada di dalam lubang, meraup lumpur limbah -- yang menyumbat pipa --dengan tangan kosong.

Sudah 20 tahun Binod Lahot bekerja sebagai pembersih selokan (BBC)


Apa yang dilakukannya sungguh penting. Namun, buruh seperti Lahot hanya mendapatkan bayaran kurang dari US$ 5 atau Rp 66 ribu sehari.

Terkadang, saat berada di lubang selokan, kawanan kecoa mengerumuninya. Lahot tak menggunakan masker yang melindunginya dari gas beracun yang dikeluarkan limbah.

Namun, menurut Lahot, itu bukan bagian tersulit dari pekerjaannya.

Seringkali, ia harus memasuki lubang pembuangan limbah yang dalam. Lahot bergantung pada seutas tambang untuk selamat. Pria itu terus bekerja meski pikirannya dihantui bayangan tenggelam akibat terjangan air limbah yang deras.

Horor itu pernah terjadi sebelumnya.

Ismail Kazi, buruh  berusia 45 tahun tewas tenggelam saat membersihkan saluran limbah pada 2014.

Di rumahnya yang sempit, yang hanya punya satu kamar, sang istri Rehana Kazi mengatakan, suaminya rela mengerjakan pekerjaan penuh risiko itu demi bisa menyekolahkan ketiga anaknya.

Tangis Kazi pecah saat mengungkapkan, sepeninggal sang kepala keluarga, anak tertuanya terpaksa putus kuliah. Si sulung harus banting tulang menghidupi ibu dan adik-adiknya.

Maut di Selokan India

Berdasarkan survei serikat buruh selokan di Mumbai, Kazi termasuk 28 pekerja keras yang tewas di kota itu sejak Mei 2014.

Perusahaan daerah Mumbai tak punya data spesifik terkait pekerja selokan. Namun, tahun lalu mereka mengakui ada  1.386 pekerja pemeliharaan yang meninggal dunia dalam kurun waktu 6 tahun sejak 2009.

Selain para pembersih selokan, petugas pemeliharaan termasuk penyapu jalan dan pengangkut sampah ke tempat pembuangan akhir.

Pemerintah telah melakukan studi untuk mencari tahu alasan kematian tersebut. Namun, pejabat setempat menolak menjawab apakah pihaknya menyediakan instrumen keselamatan pada para pembersih selokan.

Salah satu alasan pemicu maut mungkin terkait cara perekrutan mereka.

Derita para pembersih selokan di India (Reuters)


Pemerintah daerah mempekerjakan secara langsung 30 ribu pekerja untuk menjaga kebersihan Mumbai. Namun, tugas yang lebih sulit dan berbahaya, seperti mengatasi selokan yang tersumbat dilakukan pekerja yang diupah harian, yang direkrut oleh pihak rekanan.

Pekerja jenis itu tak mendapatkan jaminan kesehatan maupun asuransi jiwa.

B Samuel Banda adalah salah satu pihak rekanan. Koresponden BBC, Yogita Limaye, mempertanyakan mengapa tak ada instrumen keselamatan untuk para pembersih selokan.

"Kami memberikan sarung tangan dan sepatu bot kadang-kadang," kata dia. "Namun, pekerjaan ini tak terorganisasi."

Banda menambahkan, memberikan asuransi kesehatan bagi para pekerja lepas juga sulit dilakukan.

Masalah seperti itu tak hanya terjadi di Mumbai. Memang belum ada survei khusus dilakukan. Namun para pekerja sosial memperkirakan ada sekitar 100 pembersih selokan tewas setiap tahunnya di India.

Pada 2014, Mahkamah Agung India memutuskan mereka yang tewas saat membersihkan saluran limbah sejak 1993 akan mendapatkan kompensasi sebesar US$ 15 ribu atau Rp 198 juta.

Namun, Rehana Kazi tak pernah menerima santunan itu. "Kami tak pernah menerima bantuan dari pemerintah. Tak ada satu pun dari mereka yang datang menemui kami," kata dia.

Tahub lalu, pemerintah India mulai memungut pajak khusus dari warga untuk mendanai aksi pembersihan besar-besaran. Pekerja seperti Binod Lahot menjadi bagian dari skema tersebut.

Pekerjaan para buruh di India membersihkan saluran limbah memang tak mudah. Tapi, tak seharusnya mereka mempertaruhkan nyawa untuk melakukannya.

  • India ialah sebuah negara di Asia yang memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia
    India ialah sebuah negara di Asia yang memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia
    India
Loading