Sukses

19-11-1881: Kisah Meteorit yang Dipecah dan Dijadikan 'Jimat'

Liputan6.com, Odessa - Jarum jam menunjuk ke pukul 07.00, 19 November 1881, warga Desa Grossliebenthal, yang terletak dekat Kota Odessa, Ukraina dikejutkan oleh penampakan tak biasa.

Orang-orang yang mendongak ke arah langit menyaksikan apa yang mereka deskripsikan sebagai 'jejak api yang terang dan panjang'. Apa gerangan penampakan itu, penduduk bertanya-tanya.

Spekulasi berseliweran. Namun, dugaan yang muncul mengerucut pada meteor yang lolos dari pembakaran di atmosfer bumi.

Seperti dikutip dari situs todayifoundout.com, seorang editor surat kabar di Odessa menggelar sayembara: barang siapa menemukan fragmen batu angkasa tersebut akan diberi hadiah.

Tiga hari kemudian, seorang penduduk Grossliebenthal menyerahkan bongkahan batu seberat 8 kilogram. Meteorit itu, kata dia, bikin ngeri seorang petani yang ada di lahannya.

Petani itu menjadi saksi meteor jatuh dan dilaporkan terluka karenanya. Untuk mengambil bongkahan tersebut, si pemilik tanah harus menggali ke dalam tanah.

Editor tersebut juga mendapat informasi, fragmen meteorit lainnya mendarat pada waktu bersamaan di dekat kantor pos di  Sitschawska, sekitar 42 km barat laut Odessa.

Orang-orang di sana memecah batu angkasa itu dan membagikan pecahannya. Untuk digunakan sebagai jimat.

Ada juga laporan dari kota Elisabethgrad, 265 km dari Odessa, bahwa lintasan bercahaya terlihat menurun di cakrawala, menuju selatan atau barat daya, yang mungkin adalah meteor yang sama yang melewati Odessa.

Meteorit itu dinamakan Grossliebenthal, yang bersisi banyak dan kasar.

Pada tanggal yang sama tahun 1969, pemain sepakbola Brasil, Pele mencetak gol ke-1000 sepanjang karir profesionalnya. Pria yang memiliki nama asli Edison Arantes do Nascimento menjadi salah satu pemain bola terbaik sepanjang sejarah.

Kemudian, pada 19 November 1493  dalam perjalanan keduanya ke Dunia Baru, Christopher Columbus menjejakkan kali di sebuah pulau yang dihuni sekitar 50.000 orang suku Indian Taino atau Arawak.

"Columbus mencatat dalam jurnal bahwa penduduk asli (Arawak) adalah orang-orang yang lembut dan bisa dipercaya, yang bisa dengan mudah diperbudak demi keuntungan Spanyol," demikian Liputan6.com kutip dari situs US History.

Saking antusiasnya menyambut tamu-tamunya, para pemimpin suku Taino membuat kesalahan besar, dengan menunjukkan sungai yang kaya dengan bongkahan kecil emas, dan memberi tawaran, "silakan ambil sesuka Anda."

Peristiwa itu konon membuat Spanyol menjadikan pulau itu sebagai negeri jajahannya. Demi mendapatkan logam mulia.

Para pendatang menamakan pulau itu "San Juan Bautista" -- mengambil nama St John the Baptist atau Santo Yohanes Pembaptis dan kota di mana mereka tiba dinamai Puerto Rico, untuk potensi melimpah yang ditawarkannya -- kelak itu menjadi nama pulau dan akhirnya negara. (Ein/Ali)

Loading