Sukses

2 Dewi Berjubah Transparan di Makam Kuno Kerabat Alexander Agung

Liputan6.com, Athena - Sebuah makam misterius berukuran raksasa ditemukan di Yunani, di bekas wilayah Makedonia. Diyakini, makam yang bagian mukanya 'dijaga' 2 patung sphinx berasal dari masa antara tahun 300-325 Sebelum Masehi. Mungkin terkait Alexander Agung.

Para arkeolog yang telah melakukan penggalian selama satu bulan di situs Amphipolis, 600 kilometer dari Athena kini telah memasuki tahap baru.

Setelah berminggu-minggu mencoba menyingkirkan tanah berpasir di dinding makam berusia 2.300 tahun itu, para arkeolog akhirnya menemukan pintu masuk ke ruang tiga yang disangga pilar patung perempuan berjubah nyaris transparan, yang disebut Caryatid.  

Saat tumpukan tanah disingkap di belakang patung 'penjaga', struktur horizontal dari marmer bergaya Yunani Kuno terlihat. Sebagai tanda pintu masuk ke kamar ketiga.



Kedua patung Caryatid dengan tangan terentang dan saling bertautan seolah-olah memberi peringatan bagi siapa saja yang berusaha memasuki pintu makam.

"Jubah yang dikenakan memiliki lipatan artistik yang luar biasa. Kedua Caryatid merentangkan tangan mereka hingga saling bertautan," demikian pernyataan Kementerian Kebudayaan Yunani, seperti dikutip dari News.com.au, Senin (15/9/2014).

Patung-patung tersebut merupakan puncak karya seni pada eranya. Satu Caryatid ditemukan dengan wajah yang masih utuh, sedangkan wajah lainnya mulai rusak. Upaya pelestarian patung itu pun tengah dilakukan.

Para arkeolog yang mengeksplorasi kurang dari setengah makam --yang diduga pernah dijarah di masa lalu. Eksplorasi bukan perkara mudah, butuh berminggu-minggu untuk menghilangkan 1 ton tanah saja.  Meskipun belum satu pun kuburan yang ditemukan, dari kemewahannya, makam diyakini terkait dengan Raja Alexander Agung, sang penguasa Makedonia.

Makam berkubah salah satu bentuk kemewahan terbesar pada zaman Yunani Kuno. Salah seorang penggali, Katerina Peristeri meyakini bahwa sebuah patung singa yang berdiri kokoh di atas makam telah dipindahkan pada zaman Romawi, sekitar 100 tahun lalu. Patung singa itu ditemukan beberapa kilometer dari makam. Katerina berharap tidak ada yang menjarah makam ini sebelumnya.

Arkeolog lain, Chryssoula Paliadelli mengatakan bahwa makam memiliki fasilitas yang luar biasa, termasuk facade atau muka bangunan monumental yang memungkinkan bagian atas kubah terbuka, sedangkan di atasnya terdapat dua patung sphinx besar yang terbuat dari marmer.

Spekulasi



Spekulasi bahwa makam tersebut mungkin berisi harta karun dari tokoh-tokoh terkemuka di masa lalu pun tersebar luas -- meskipun Alexander sendiri dilaporkan dimakamkan di Alexandria, Mesir.

Alexander Agung adalah raja penakluk. Punya reputasi tak terkalahkan di medan perang, ditasbihkan menjadi komandan perang terhebat sepanjang masa. Di usia 30 tahun, ia memimpin sebuah kekaisaran terbesar pada masa sejarah kuno, membentang mulai dari Laut Ionia sampai pegunungan Himalaya, mencakup tiga benua, Eropa, Afrika, dan Asia: Makedonia. Ia pun meninggal dalam usia relatif muda, 32 tahun. Entah karena sakit atau diracun.

Meski spekulasi makam selalu dikaitkan dengan Alexander Agung, seorang Profesor Sejarah dan Arkeologi dari Universitas Cyprus, Theodoros Mavraganis memiliki keyakinan berbeda. Ia percaya bahwa makam itu adalah milik Hephaestion, salah seorang teman masa kecil Alexander.

Asumsi kedua mengatakan bahwa makam tersebut adalah milik Laksmana Alexander, Nearchos yang diasingkan ke Amphipolis oleh Raja Philip II.

Asumsi ketiga adalah bahwa istri Alexander, Roxana dan putranya, Alexander IV yang dimakamkan disana. Mereka juga diasingkan ke Amphipolis pada 310 SM.

Menurut catatan sejarah, dua anggota keluarga kerajaan yang meninggal di Amphipolis pada akhir Abad ke-4 adalah Olimpiade, ibu Alexander Agung dan adiknya Kassandra -- yang mungkin menjadi pemilik makam. (Imelia Pebreyanti/Ein)