Sukses

Gajah Terkenal Afrika Dibunuh Demi Gadingnya

Liputan6.com, Tsavo Perdagangan gelap hasil-hasil kehidupan liar telah menjadi perhatian banyak kalangan, terutama karena sifatnya yang lintas batas. Selain merugikan kehidupan liar, kejahatan lingkungan ini kait-mengkait dengan kejahatan lainnya, semisal pencucian uang, sogok menyogok, penyelundupan, dan sejumlah kejahatan lainnya.

Semasa hidupnya, Satao adalah satu dari segelintir gajah bergading besar terakhir di Kenya yang masih berkeliaran di taman nasional Tsavo Timur, sebelum akhirnya hewan itu diracun menggunakan sumpit tiup untuk diambil gadingnya.

Sebagaimana dilansir dari The Telegraph 16 Juni 2014, taman itu memiliki "sejarah panjang dan berdarah soal pencurian gading," kata Brian Jackman, seorang pakar safari dari Telegraph Travel. Kata 'Tsavo' sendiri berarti 'Tempat Pembantaian' dalam bahasa setempat, bahasa Wakambe.

"Hewan yang satu ini sangat terkenal di kalangan pelindung kehidupan liar di Kenya selama bertahun-tahun," kata Charlie Mayhew, ketua badan amal perlindungan gajah, Tusk.

"Hewan itu menjadi termahshur karena ketika ia berpapasan dengan manusia atau mendengar pesawat terbang di atasnya, ia akan menyembunyikan gadingnya di semak-semak, seakan-akan ia mengerti bahwa ia menjadi sasaran."

"Ini bukan sekedar matinya gajah bergading besar yang sudah uzur, ini juga masalah genetika. Semakin sedikit gajah yang kita temukan di Afrika dan semakin menyusutlah kumpulan gen hewan itu."

Matinya Satao terjadi sesudah satu gajah bergading besar lainnya, Mountain Bull, dibunuh oleh para pencuri bulan lalu di Taman Nasional Mount Kenya.

Angka statistik resmi menunjukkan bahwa jumlah gajah yang dibunuk sejauh ini di Kenya sudah turun. Layanan Kehidupan Liar Kenya (KWS--Kenya Wildlife Service) melaporkan 97 kematian gajah tahun ini, dibandingkan dengan 302 gajah tahun lalu. Angka itu sendiri turun dari angka 384 di tahun sebelumnya.

Para pakar mengatakan bahwa angka sebenarnya jauh lebih tinggi. Tahun lalu, lebih dari 200.000 gajah telah dibantai di seantero benua Afrika.

Negara itu memandang pencurian seperti ini sebagai masalah yang lebih serius, terbukti dengan adalahnya Peraturan Penyeliaan Kehidupan Liar dan Pelestarian yang baru dan secara dramatis menaikkan denda bagi mereka yang tertangkap. Namun ada persoalan yang sudah sangat mengakar.

"Masih harus dilihat bagaimana tafsiran pengadilan akan hal ini," kata Charlie Mayhew. "Namun Kenya masih terdepan dengan adanya peraturan itu."

Menurutnya, besar kemungkinan bahwa gading-gading Satao akan dijadikan pernak-pernik di China dan Timur Jauh.

Perhelatan Tusk berlangsung di bulan Februari lalu di London untuk membahas masalah ini. "China mengirimkan suatu delegasi yang besar," lanjut Charlie Mayhew,"dan masih banyak upaya gigih yang mencoba dan mengubah cara pikir konsumen tentang gading dan cula badak."

Sebuah kampanye yang mengikutsertakan David Beckham dan pelindung Tusk, yakni Duke of Cambridge, diluncurkan di awal tahun ini untuk meningkatkan kesadaran tentang perdagangan gelap hasil-hasil kehidupan liar.

Kampanye United for Wildlife, yakni #WhoseSideAreYouOn, berharap dapat memerangi perdagangan itu dengan menyertakan dukungan kaum muda di jejaring sosial. (Ein)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS