Operasi Pasar Belum Menurunkan Harga Gula

Komoditi ini masih sulit ditemukan di sejumlah pasar tradisional di Jakarta. Harganya pun masih di kisaran Rp 4.700-Rp 5.000 per kg. Musim panen tebu 2003 akan segera dimulai di Yogyakarta.

Diterbitkan 30 April 2003, 14:29 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Operasi Pasar Gula Pasir yang digelar Depot Logistik DKI Jakarta di sejumlah pasar tradisional, sejak kemarin, belum berbuah hasil. Gula masih sulit ditemukan, sehingga harga komoditi ini masih berada di atas harga normal. Berdasarkan hasil pemantauan SCTV hingga Rabu (30/4) pagi tadi, harga eceran masih berkisar antara Rp 4.700 hingga Rp 5.000 per kilogram.

Menurut para pedagang, harga Rp 4.700 hingga Rp 5.000 ini tergantung dari persediaan yang dimiliki. Kisaran harga tersebut diakui sudah berlaku sepekan terakhir. Menurut para pedagang, terbatasnya pasokan gula setiap harinya menjadi penyebab masih tingginya harga gula. Setiap pedagang mengaku mendapat jatah 100 kg dari operasi pasar yang digelar pemerintah. Itu pun tidak setiap hari [baca: Dolog Jakarta Menggelar Operasi Pasar].

Sementara itu, akibat pasokan gula dari Pelabuhan Tanjungperak Surabaya, Jawa Timur, dihentikan atas intruksi Gubernur Jatim Imam S. Utomo, harga gula pasir di Bali dalam dua pekan terakhir terus melonjak [baca: Stok Gula di Jatim Kosong]. Harga eceran kini mencapai kisaran Rp 6.500 per kg. Kepala Sub Dinas Perdagangan Dalam Negeri Bali I Dewa Gede Anom Purwa mengakui, stok gula di Gudang Dolog Bali semakin menipis. Padahal kebutuhan gula untuk Pulau Dewata dalam satu bulan bisa mencapai 4.500 ton. Sedangkan stok untuk bulan ini diperkirakan tidak mencukupi. Untuk itu, Dolog Bali meminta bantuan pasokan dari DKI Jakarta sebanyak 2.000 ton.

Para pedagang gula di sejumlah pasar tradisional di Bali, di antaranya di Pasar Badung Denpasar mengakui harga gula tidak stabil. Bahkan sebelumnya sempat hampir mencapai Rp 7.000 per kilonya, sehingga sebagian besar pengecer tidak berani menyimpan gula dalam jumlah besar.

Masyarakat sudah sangat berharap kelangkaan gula bisa segera diatasi. Apalagi musim panen tebu segera tiba, awal Mei besok. Harapan masyarakat sejalan dengan asa pengusaha dan karyawan Pabrik Gula (PG) Madukismo, Yogyakarta. Harapan mereka itu diungkapkan dalam upacara ritual Cembengan atau selamatan giling, baru-baru ini. Upacara menandai dimulainya musim giling 2003 ini dimaksudkan untuk memohon keselamatan pada Tuhan agar penggilingan tebu mendatang berjalan lancar dan sesuai target. Ritual ini telah dilakukan sejak didirikannya pabrik gula di Tanah Air [baca: Dulu, Industri Gula Tanah Air Pernah Berjaya].

Cembengan berasal dari bahasa Tionghoa "ching bing" yang artinya mohon keselamatan. Di negeri asalnya, ching bing biasa diwujudkan dengan berziarah ke makam para leluhur. Dengan ritual ini diharapkan Tuhan memberikan keselamatan baik pada jajaran pimpinan, karyawan maupun peralatan selama proses penggilingan.

Selain berbagai sesaji, upacara cembengan juga diwarnai dengan kirab pengantin tebu yakni dua ikatan tebu yang diambil dari beberapa rayon di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tebu dihias sedemikian rupa dan diarak dari Gedung Madu Canda ke PG Madukismo dengan dikawal para punakawan dalam dunia pewayangan. Setelah dilakukan doa bersama, pasangan tebu pengantin diserahkan pada jajaran pimpinan dan karyawan PG Madukismo untuk diletakkan di lokasi penggilingan. Pasangan tebu pengantin inilah yang nantinya akan pertama kali digiling untuk menandai dimulainya musim giling 2003.

Pada musim giling ini, PG Madukismo hanya menargetkan sekitar 22 ribu ton produksi gula pasir. Jumlah ini menurun dari musim giling sebelumnya akibat lahan tebu di wilayah Jateng dan Yogyakarta menyempit dan mengalami kerusakan, seperti terbakarnya 6,7 hektare lahan tebu.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6