Sukses

Desainer Busana Muslim Pertama Australia Langganan Fashionista

Liputan6.com, Jakarta Penampilannya sederhana dengan maxi dress hitam polos dan hijab hitam motif floral. Namun jika diperhatikan lagi, ada aksen renda asimetris di lengan dan bagian bawah terusan. Siapa sangka dia adalah desainer pioner busana muslim di Australia bernama Eisha Saleh dengan label busana Baraka Woman.

Kami bertemu dengannya di Melbourne akhir pekan lalu saat menghadiri event Wardah Succeeding Together: An Australia - Indonesia Collaboration di Sofitel Melbourne. Ia menjadi salah seorang desainer Australia yang menampilkan koleksi terbarunya dalam engagement event tersebut.

Memulai lini busana muslim sejak tahun 2008, apa yang membuat Eisha bisa bertahan sampai sekarang? Ia pun bercerita tentang menghadapi islamophobia dan perjuangan memperkenalkan modest wear di Australia dan dunia.

Apa yang membuat Anda memutuskan membuat lini busana modest wear?
Awalnya karena kesulitan menemukan pakaian basic terutama bagi yang berhijab, akhirnya saya memutuskan untuk membuat busana sendiri. Dimulai dengan fashion item basic, black pants dan black dress. Masya Allah sekarang sudah banyak label busana muslim di Australia.

Bisa digambarkan seperti apa garis rancangan Baraka Woman?
Setelah banyak desainer modest wear di Australia, saya mulai move membuat sesuatu yang sesuai dengan personality. Jadi dari basic move ke busana minimalis dengan sentuhan drama. DNA tersebut yang saya pertahankan sampai sekarang.

Apa yang membuat Baraka Woman bertahan dan disukai sampai sekarang?
Saat itu tak ada pilihan modest wear selain dari Timur Tengah. Biasanya didominasi warna hitam dan potongan itu-itu saja. Padahal orang Australia suka busana yang penuh warna. Jadi abayya dan kaftan dari Timur Tengah tidak cocok di sini. Sejak saat itu saya ingin menciptakan modest wear yang fashionable.

Minimalis dengan sentuhan drama lewat motif floral dalam rancangan Baraka Woman di jang Wardah Succeeding Together: An Australia - Indonesia Collaboration di Sofiel Melbourne (Foto: Liputan6.com/ Novi Nadya)

Selain warna bold dan colorful, seperti apa rancangan yang disuka warga Australia?
Pembeli saya sekarang kebanyakan gadis muda penggila fashion atau fashionista. Saya membuat sesuatu yang strong dan segar. Saya tidak membuat seseorang menjadi boyish atau feminin, tetapi bisa jadi keduanya atau di tengah-tengah. Misalnya saya memakai warna basic seperti hitam, abu-abu, navy blue, dan denim, tetapi ada kejutan dan drama dengan elemen floral dan sentuhan pink. Bahan katun dan linen adalah favorit saya karena nyaman dipakai.

Apakah pembelinya hanya muslim saja?
Jujur saya banyak mempunyai pelanggan loyal orang Australia non muslim. Kebanyakan sudah berusia (berumur). Mereka mulai tak ingin memperlihatkan bagian lengan dan pahanya. Tunik menjadi favorit mereka.

Apa pernah menemukan kendala tentang isu Islamophobia?
Memang hal itu nyata, tapi prosentasenya kecil. Kebanyakan justru mendukung ketimbang menghalangi. Isu itu tidak besar tapi seksi untuk dibesar-besarkan. Alhamdulillah Australia selalu menyambut baik. Seperti event fashion show kami sekarang, semua model dari Australia dan banyak orang Australia yang datang. Biarlah politik memanas, namun kami sebagai pekerja mode harus tetap solid mengembangkan tren modest wear mendunia.

Desainer busana muslim Australia Delina, Restu Anggraini, dan Eisha dari Baraka Woman (Foto: Liputan6.com/Novi Nadya)

Apa kendala dan harapan Baraka Woman kini dan nanti?
Alhamdulillah berbagai kendala bisa kami hadapi. Sekarang media lokal dan internasional yang dulu menolak menulis tentang kami, justru mereka menghubungi duluan untuk interview. Saya ingin belajar banyak dari desainer Indonesia yang sudah mendobrak pasar Australia. Impian saya untuk membuat desain bersama Restu Anggraini atau Etu. Karena saya mempunya kesamaan untuk membuat busana androgini

 

Loading