5 Gejala ADHD pada Orang Dewasa, Termasuk Kesulitan Menyelesaikan Tugas Tepat Waktu

Kenali lima gejala ADHD pada orang dewasa menurut psikolog dan penanganannya.

Diterbitkan 23 April 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada orang dewasa kerap muncul dengan gejala yang lebih kompleks, seperti:

  • Kesulitan mengatur waktu dan menyelesaikan tugas tepat waktu
  • Mudah teralihkan saat melakukan aktivitas yang memerlukan konsentrasi
  • Sering melupakan hal-hal penting dalam kehidupan sehari-hari
  • Kecenderungan impulsif dalam pengambilan keputusan
  • Kesulitan mengelola pekerjaan, tanggung jawab sosial, dan hubungan.

Menurut Cecilia H.E.,M.Psi, Psikolog, ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan pola perilaku berupa kesulitan memusatkan perhatian atau berkonsentrasi, hiperaktif, dan impulsif.

“Kondisi ini dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa, dengan gejala yang berbeda-beda pada setiap individu,” kata Cecilia mengutip laman EMC, Rabu (22/4/2026).

Pada anak-anak, ADHD sering kali terlihat pada prestasi dan perilaku di sekolah, sedangkan pada orang dewasa, kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas kerja dan hubungan sosial. Secara umum, ADHD dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatur perhatian, emosi, dan perilaku sehari-hari.

Berbeda dengan dewasa, beberapa gejala ADHD pada anak yang harus diwaspadai antara lain:

  • Kesulitan mempertahankan perhatian saat belajar atau melakukan aktivitas tertentu
  • Mudah terganggu oleh lingkungan sekitar
  • Sering bergerak, gelisah, atau sulit duduk diam dalam waktu lama
  • Bertindak impulsif, seperti menyela pembicaraan atau kesulitan menunggu giliran
  • Kesulitan menyelesaikan tugas atau mengikuti instruksi sepenuhnya.

Gejala ADHD Kerap Muncul Sejak Usia Dini

Gejala ADHD umumnya mulai muncul pada usia dini, yaitu sekitar usia 3 tahun hingga masa prasekolah.

“Namun, pada periode ini gejala sering kali tidak tampak mencolok pada sebagian anak, mengingat kebutuhan aktivitas fisik yang memang masih tinggi pada usia tersebut,” kata psikolog yang bertugas di RS EMC Cikarang.

Tanda-tanda biasanya mulai terlihat ketika anak memasuki lingkungan sekolah, di mana anak cenderung tidak mampu duduk dalam durasi yang lama, sering meninggalkan tempat duduk, serta berjalan tanpa tujuan sehingga mengganggu proses belajar.

Gejala juga dapat terlihat lebih jelas pada usia 7 hingga 8 tahun, ketika anak mulai menunjukkan perbedaan dibandingkan dengan teman sebayanya. Perbedaan tersebut antara lain berupa kesulitan dalam menunda keinginan, tingkat kesadaran (awareness) yang relatif rendah, serta mulai berdampak pada performa belajar di sekolah.

Penyebab ADHD

Penyebab ADHD belum diketahui secara pasti, tapi beberapa faktor berikut ini diduga berperan:

1. Faktor Genetik atau Riwayat Keluarga

Faktor genetik merupakan salah satu penyebab utama ADHD. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan ADHD mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengalami masalah yang sama.

2. Perbedaan Struktur dan Fungsi Otak

ADHD dipicu oleh perbedaan pada bagian tertentu otak penyandang, terutama aktivitas neurotransmitter seperti dopamin dan norepinefrin juga cenderung kurang optimal. Hal ini menyulitkan penyandang ADHD untuk mempertahankan fokus, mengatur perilaku, dan merespons rangsangan dengan tepat.

3. Paparan Zat Tertentu Selama Kehamilan

Faktor prenatal, kelahiran prematur, atau berat badan lahir rendah juga berperan dalam meningkatkan risiko ADHD. Paparan zat beracun selama kehamilan dapat mempengaruhi perkembangan otak janin, seperti: meminum alkohol, merokok, mengonsumsi obat tertentu tanpa pengawasan medis, dan terpapar polusi atau zat beracun.

4. Faktor Lingkungan dan Perkembangan Anak

Lingkungan tempat anak tumbuh turut memengaruhi perkembangan perilaku dan emosinya. Beberapa kondisi yang dapat memengaruhi antara lain:

  • Pola asuh yang kurang konsisten
  • Tingkat stres tinggi dalam keluarga
  • Kurangnya stimulasi atau struktur dalam aktivitas sehari-hari
  • Paparan layar (screen time) berlebihan tanpa pengawasan.

Penting untuk dipahami bahwa faktor lingkungan bukanlah penyebab utama ADHD melainkan berperan dalam memperburuk atau menyebabkan munculnya gejala pada anak dengan kerusakan biologis yang sudah ada.

Penanganan ADHD

ADHD tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, tapi gejalanya dapat dikontrol dengan baik melalui penanganan berikut:

  • Terapi perilaku untuk membantu mengendalikan emosi dan tindakan
  • Konseling atau terapi psikologis untuk meningkatkan keterampilan coping (pertahanan diri terhadap stres atau tekanan)
  • Dukungan dari keluarga dan lingkungan, termasuk sekolah dan tempat kerja
  • Penggunaan obat-obatan sesuai anjuran dokter untuk membantu meningkatkan konsentrasi
  • Membuat rutinitas harian dan lingkungan yang kondusif agar lebih terstruktur.

Penanganan yang tepat dapat membantu penderita ADHD menjalani kehidupan yang lebih seimbang dan produktif.