Memahami Cara Kerja Otak Anak dengan Autisme

Cara kerja otak pada anak autisme memengaruhi kemampuannya dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan berperilaku. Kondisi ini tidak dapat disembuhkan tapi dapat dikelola dengan dukungan yang tepat agar anak dapat mengembangkan potensinya secara optimal.

OlehMasni
Diterbitkan 24 Oktober 2025, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anak dengan autisme memiliki cara kerja otak yang membuat mereka memiliki perilaku bersosialisasi yang unik. Orang dengan autisme memiliki kondisi meliputi kontak mata dan tubuh yang terbatas, serta ucapan dan gerakan yang berulang. 

Dilansir dari Cleveland Clinic, dalam kasus autisme, penyedia layanan kesehatan bukan “menyembuhkan” melainkan untuk membantu anak dalam memanfaatkan kekuatan mereka sambil mengelola tantangan yang mereka hadapi. Saat membahas autisme, penting untuk menyadari bahwa kata tidaklah sempurna. Dalam istilah medis yaitu, gangguan, gejala, atau diagnosis.

Dalam dunia medis autisme disebut dengan gangguan spektrum autisme adalah Autism Spectrum Disorder (ASD). Dalam DSM-5-T-R mendefinisikan ASD sebagai perbedaan cara kerja otak yang mempengaruhi cara berkomunikasi dan interaksi dengan orang lain. Perbedaan cara kerja otak ini juga mempengaruhi berbagai aspek, yaitu perilaku, minat, atau aktivitas seseorang. Misalnya Anda mengulangi gerakan atau suara untuk mengatur emosi.

Sekitar 1 dari 31 anak di Amerika Serikat (AS) memiliki Autism Spectrum Disorder (ASD). Anak-anak dengan autisme memiliki kecenderungan"

1. Kesulitan dalam komunikasi dan interaksi sosial yang mempengaruhi cara anak bersosialisassi.

2. Perilaku, minat, atau aktivitas terbatas dan berulang yang dapat mempengaruhi cara anak bertindak.

 

 

Apa Penyebab Autisme?

Mengenai penyebab autisme, hingga kini belum ada diketahui penyebab pasti. Kemungkinan besar faktor karena faktor lingkungan atau kejadian pada saat hamil. Semua faktor ini berinteraksi dan mungkin menyebabkan perbedaan otak pada penyandang autisme.

Berikut beberapa kondisi atau faktor risiko yang terkait anak lahir dengan autisme:

  • Hamil di atas usia 35 tahun.
  • Hamil dalam waktu 12 bulan setelah memiliki bayi lagi.
  • Menderita diabetes gestasional.
  • Mengalami pendarahan saat hamil.
  • Menggunakan obat-obatan tertentu, seperti valproate saat hamil.
  • Ukuran janin lebih kecil dari pada yang diharapkan. 
  • Pasokan oksigen ke janin berkurang selama kehamilan atau persalinan
  • Melahirkan lebih awal.

Kondisi-kondisi di atas tanpa disadari secara tidak langsung mungkin mengubah perkembangan otak bayi. Faktor ini dapat mempengaruhi cara kerja gen tertentu, menyebabkan perbedaan otak.

Diagnosis Autisme

Akademik Pediatri Amerika merekomendasikan skrining autisme pada usia 18 bulan dan 24 bulan. Skrining ini berarti dokter anak akan menanyakan beberapa pertanyaan tentang anak , termasuk bagaimana cara anak bertindak, berkomunikasi dan mengekspresikan emosi.

Jika dokter anak mendeteksi kemungkinan akan di arahkan ke penyedia layanan kesehatan spesialis autisme. Para pakar di situ akan mengamati dan berinteraksi dengan anak. Lalu, akan mencari gejala spesifik yang khas autisme.