Sukses

Psikiater Ungkap Ilmu Kejiwaan agar Manusia Sehat Mental Selama Pandemi COVID-19

Liputan6.com, Jakarta Jiwa atau mental dan badan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari tubuh manusia. Keduanya memiliki hubungan satu sama lain tanpa ada garis tegas pemisah.

Menurut psikiater Albert Maramis, Sp.KJ, tidak ada garis yang tegas untuk memisahkan tubuh dan jiwa. Contoh, ketika seseorang sedang marah maka tidak hanya jiwanya saja yang marah tapi secara fisik ia juga terlihat marah seperti tangan mengepal, mata melotot, otot menegang dan lain-lain.

“Yang tidak bisa dikendalikan yaitu sistem saraf simpatis, jantung berdebar kencang, napas memburuk, dan berkeringat,” ujar Albert dalam seminar daring bersama Kedutaan Besar Inggris, ditulis Minggu (14/3/2021).

Menurutnya, contoh ini menjadi bukti bahwa ada kesatuan antara jiwa dan badan. Walau dari psikologi manusia terdiri dari jiwa dan badan, tapi menurut keyakinan agama manusia juga memiliki roh yang berinteraksi dengan penciptanya, kata Albert.

“Ilmu kedokteran, psikologi, dan ilmu pengetahuan lain itu tidak mencampuri area ilmu-ilmu agama. Karena itu, kita lihat ilmu kedokteran mempelajari jiwa atau mental dan tubuh.”

“Masalahnya, masih banyak orang yang mencampuradukkan konsep ini,” tambahnya.

 

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 4 halaman

Fungsi Mental pada Sistem Saraf Otak

Terlepas dari campur aduknya masalah ini, Albert menerangkan ilmu kejiwaan dari sisi medis. Menurutnya, manusia terdiri dari berbagai sistem.

Mulai dari sistem imun yang di masa pandemi COVID-19 ini sangat dibutuhkan, sistem sensorik atau panca indera, sistem jantung dan pembuluh darah, otot, tulang, pernapasan, pencernaan dan pembuangan, reproduksi, kelenjar, dan lain-lain.

Dari semua sistem tersebut, ada sistem saraf otak dan fungsi-fungsinya. “Ini adalah fungsi mental atau jiwa.”

Sistem ini meliputi cara berpikir, perasaan, perilaku, proses kreatif, proses belajar dan sebagainya.

“Pemahaman kita termasuk para ahli tentang ini masih sangat terbatas karena manusia itu sangat kompleks.”

Secara kasar, otak dibagi menjadi 6 bagian termasuk lobus frontalis yang berkaitan dengan pemecahan masalah, lobus temporalis yang berkaitan dengan pemahaman bahasa, batang otak yang berkaitan dengan penapasan.

Lobus parietalis yang berkaitan dengan orientasi tubuh, lobus oksipitalis yang berkaitan dengan penglihatan, dan otak kecil (serebelum) yang berkaitan dengan keseimbangan.

Maka dari itu, kejiwaan manusia merupakan fungsi otak yang sangat rumit, tutup Albert.

3 dari 4 halaman

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini