Sukses

WHO: Tahun 2050, 1 dari 4 Orang di Dunia akan Alami Gangguan Pendengaran

Liputan6.com, Jakarta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa satu dari empat orang di dunia (hampir 2,5 miliar orang) akan hidup dengan gangguan pendengaran dan Tuli pada tingkat tertentu pada tahun 2050.

“Pada 2050, hampir 2,5 miliar orang akan tuli pada tingkat tertentu, setidaknya 700 juta di antaranya akan membutuhkan layanan rehabilitasi. Kegagalan untuk memeriksakan diri akan merugikan kesehatan dan kesejahteraan mereka yang terkena dampak, dan kerugian finansial karena mereka sulit berkomunikasi, mendapatkan pendidikan dan pekerjaan," kata WHO, dalam 'World Report on Hearing' pertama yang dirilis pada Rabu (03/03/2021).

Selain itu, dalam laporan tersebut menambahkan, meskipun kita tengah berada dalam situasi pandemi COVID-19, perlu dilakukan upaya dan membangun sumber daya untuk mencegah dan mengatasi gangguan pendengaran.

Dilansir dari IndiaTVNews, ada lebih dari satu miliar anak muda dengan risiko kehilangan pendengaran yang seharusnya bisa dihindari dan sekitar 200 juta orang menderita infeksi telinga kronis yang harusnya dapat dicegah atau diobati. Laporan tersebut mengatakan bahwa solusi teknologi dan klinis yang inovatif dan hemat biaya dapat meningkatkan kehidupan kebanyakan orang yang mengalami gangguan pendengaran.

Jutaan orang telah memperoleh manfaat dari perkembangan ini dan menggabungkan kekuatan teknologi dengan strategi kesehatan masyarakat yang baik. Sehingga bisa dipastikan manfaatnya dapat menjangkau semua orang, terutama bagi mereka yang berada di daerah terpencil di dunia yang sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan, lanjut laporan tersebut.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, "kemampuan mendengar kita sangat berharga. Gangguan pendengaran yang tidak diobati dapat berdampak buruk pada kemampuan orang untuk berkomunikasi, belajar dan mencari nafkah. Itu juga dapat berdampak pada kesehatan mental orang dan kemampuan mereka untuk mempertahankan hubungan."

Laporan yang diluncurkan pada tanggal 3 Maret tersebut bertepatan dengan Hari Pendengaran Sedunia, menggarisbawahi kebutuhan untuk segera meningkatkan upaya untuk mencegah dan mengatasi gangguan pendengaran dengan berinvestasi dan memperluas akses ke layanan perawatan telinga dan pendengaran.

Laporan tersebut mencatat bahwa pada tingkat prevalensi saat ini, hampir 1 triliun dolar internasional hilang setiap tahun akibat gangguan pendengaran yang tidak tertangani.

"Jika tidak ada tindakan yang diambil, angka ini akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Pada saat yang sama, investasi dalam perawatan telinga dan pendengaran telah terbukti hemat biaya, dan pemerintah dapat mengharapkan pengembalian hampir 16 dolar internasional untuk setiap dolar yang diinvestasikan," katanya.

 

2 dari 4 halaman

Tips Mencegah Gangguan Pendengaran

Ada beberapa poin penting untuk mencegah gangguan pendengaran, yaitu sebagai berikut.

1. Tingkatkan informasi yang akurat

Laporan tersebut menyebutkan masih kurangnya informasi yang akurat dan sikap stigmatisasi terhadap penyakit telinga dan gangguan pendengaran. Sehingga seringkali membatasi orang untuk mengakses perawatan untuk kondisi ini.

"Bahkan di antara penyedia layanan kesehatan, seringkali terdapat kekurangan pengetahuan tentang pencegahan, identifikasi awal dan pengelolaan gangguan pendengaran dan penyakit telinga, sehingga menghambat kemampuan mereka untuk memberikan perawatan yang diperlukan," tulis WHO.

2. Jadikan pelayanan perawatan telinga dan pendengaran masuk ke sistem kesehatan nasional yang terintegrasi

Di sebagian besar negara, perawatan telinga dan pendengaran masih belum terintegrasi ke dalam sistem kesehatan nasional dan mengakses layanan perawatan merupakan tantangan bagi mereka yang menderita penyakit telinga dan gangguan pendengaran.

Selain itu, akses ke telinga dan perawatan pendengaran diukur dan didokumentasikan dengan buruk, dan indikator yang relevan kurang dalam sistem informasi kesehatan, kata rilis WHO.

3. Tingkatkan pelayanan ibu dan bayi serta skrining awal masalah pendengaran

Laporan tersebut menambahkan bahwa pada anak-anak, hampir 60 persen gangguan pendengaran dapat dicegah melalui langkah-langkah seperti imunisasi untuk pencegahan rubella dan meningitis, peningkatan perawatan ibu dan bayi, dan skrining untuk manajemen awal, otitis media, penyakit inflamasi telinga tengah.

Rilis WHO mengatakan bahwa identifikasi adalah langkah pertama dalam mengatasi gangguan pendengaran dan penyakit telinga terkait. Skrining klinis pada titik-titik strategis dalam hidup memastikan bahwa setiap gangguan pendengaran dan telinga dapat diidentifikasi sedini mungkin.

Skrining dengan teknologi yang akurat dan mudah digunakan mampu mengidentifikasi penyakit telinga dan gangguan pendengaran pada usia berapa pun, dalam pengaturan klinis atau komunitas, dan dengan pelatihan dan sumber daya yang terbatas. "Sehingga skrining bahkan dapat dilakukan dalam situasi yang menantang seperti yang ditemui selama pandemi COVID-19 dan mereka yang tinggal di daerah tertinggal dan terpencil di dunia,” katanya.

Teknologi pendengaran, seperti alat bantu dengar dan implan koklea, bila disertai dengan layanan pendukung yang tepat serta terapi rehabilitasi akan lebih efektif dan hemat biaya, serta dapat bermanfaat bagi anak-anak dan orang dewasa, katanya.

Laporan tersebut mencatat bahwa perawatan medis dan bedah dapat menyembuhkan sebagian besar penyakit telinga, berpotensi membalikkan gangguan pendengaran yang terkait.

“Namun, jika gangguan pendengaran tidak dapat diperbaiki, rehabilitasi dapat memastikan bahwa mereka yang terkena dampak terhindar dari konsekuensi yang merugikan dari gangguan pendengaran. Berbagai pilihan efektif tersedia,” katanya.

3 dari 4 halaman

Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: