Sukses

Najla Imad Lafta, Atlet Tenis Meja Disabilitas Bertalenta dari Irak

Liputan6.com, Jakarta - Keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi seseorang untuk meraih mimpi-mimpinya. Sekarang sudah banyak penyandang disabilitas berprestasi sesuai bidang yang diminatinya seperti atlet.

Hal inilah yang ditunjukan Najla Imad Lafta yang berusia 14 tahun. Di usianya yang tergolong masih muda, ia sudah menjadi juara tenis meja nasional tingkat regional dan provinsi.

Dilansir dari Global Coalition, Rabu (11/12/2019), tak disangka, Najla adalah Atlit muda penyandang disabilitas. Pada 2007, ia mengalami insiden yang tragis akibatnya ia harus kehilangan kedua kaki dan tangan kanannya.

Namun kekurangan tidak pernah menghentikannya untuk bersaing dan menjuarai kompetisi tenis meja. Remaja yang berasal dari Diyala, Irak ini menjadikan olahraga sebagai alat untuk melawan ekstremisme yang terjadi di negaranya.

"Saya sangat suka tenis meja. Ayah melihat saya bermain dan dia memasukkan saya ke klub olahraga sehingga saya bisa berlatih setiap hari," katanya.

Saat bertanding, Najla mengenakan pakaian berwarna yang sama persis dengan warna bendera Irak. Ia adalah salah satu atlit termuda yang bertalenta di negaranya.

Najla percaya bahwa salah satu cara untuk menghubungkan orang dan memberdayakan perempuan adalah dengan olahraga. Ia sangat antusias untuk terus berkompetisi dengan mengikuti kejuaraan Para Asia di Taichung, Cina, Taipe, dimana ia tampil gemilang.

Melihat kondisi negaranya yang dijajah, Najla tertarik untuk meniti karir menjadi hakim agar dapat membela orang-orang yang dirugikan.

Pesan Najla untuk orang-orang yang melihatnya dan merasa kasihan.

"Jika kamu melihat saya, jangan merasa kasihan dan mengatakan hal yang buruk tentang dirinya. Biarkan orang lain tahu bahwa dalam lima tahun saya bisa menjadi juara termuda di benua Asia," jelasnya.

2 dari 2 halaman

Kehidupan Perlahan Membaik

Setelah negaranya Dilaya dibebaskan oleh Daesh, kehidupan negaranya membaik dan ia pun bahagia karena tak ada lagi yang bisa menghalanginya untuk bertanding.

Tak lama setelah pembebasan negaranya, ia kembali berpartisipasi dalam kompetisi tenis meja yang diadakan di provinsi.

Melansir IITF.com, kehidupan Najlapun berangsur membaik. Berkat bantuan prostetik dari komite paralympic, ia telah beralih dari bermain dengan kursi roda menjadi bisa berdiri.

Sebuah perkembangan yang sangat langka dalam olahraga karena pada umumnya para atlit melakukan hal yang sebaliknya.

 

Reporter : Yuliasna

Loading
Artikel Selanjutnya
Mengenal Pseudoachondroplasia, Salah Satu Penyebab Disabilitas Fisik Bawaan
Artikel Selanjutnya
Ashley Kurpiel Buat Komunitas Curhat Walau Mobilitas Semakin Terbatas