Regulator AS Periksa Bank Setelah Peretasan Binance

Pakar siber menyoroti risiko keamanan kripto di sektor perbankan usai peretasan di Binance.

Diterbitkan 06 November 2026, 15:09 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Regulator keuangan Amerika Serikat (AS) menghubungi sejumlah bank setelah peretasan Binance US$ 6,3 miliar atau Rp 113,86 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 18.070) pekan lalu. Pakar keamanan siber menilai langkah ini mencerminkan kekhawatiran atas cara lembaga keuangan menangani risiko keamanan terkait kripto.

Mengutip Cointelegraph, Jumat, (6/11/2026), Pejabat Federal Reserve dan Office of the Comptroller of the Currency (OCC) mulai menghubungi bank pada Senin, 2 November 2026. Regulator menanyakan adanya aktivitas tidak biasa atau gangguan layanan, menurut laporan Reuters pada Kamis, 5 November 2026 yang mengutip sumber yang mengetahui persoalan tersebut. OCC mengawasi bank nasional di AS, sedangkan Federal Reserve memegang peran pengawasan atas perusahaan induk bank dan bank anggotanya.

Kepala urusan pemerintahan AS di CertiK, Stefan Muehlbauer menuturkan, perusahaan yang berfokus pada keamanan blockchain, memperkirakan pertanyaan itu bisa berlanjut ke pengawasan lebih ketat terhadap pengelolaan risiko kripto oleh bank, mencakup kustodi, keterpaparan terhadap rekanan, dan respons insiden.

"Mandat mereka adalah melindungi sistem keuangan, dan itu berarti memahami di mana eksposur berada serta seberapa cepat bank bisa merespons,” kata Muehlbauer kepada Cointelegraph.

Kustodi berarti bank menyimpan aset kripto atas nama nasabah. Risiko rekanan muncul ketika bank bergantung pada pihak lain, seperti bursa kripto, untuk menjalankan transaksi. Respons insiden mencakup langkah bank mendeteksi, menahan, dan memulihkan diri dari serangan siber. Muehlbauer menilai proses yang berlangsung saat ini menunjukkan cara kerja kerangka regulasi yang matang. “Ini bukan sinyal bahwa regulator menarik diri dari industri,” tegasnya.

Bank-bank menilai peretasan itu dan memeriksa sistem mereka untuk mengetahui apakah mampu menyerap atau menangani ancaman serupa, menurut Reuters.

Tim keamanan siber di salah satu bank terbesar AS menghubungi Binance dalam hitungan jam setelah serangan terjadi. Juru bicara Binance membenarkan kepada Cointelegraph bahwa bursa itu membagikan laporan insiden publiknya kepada seluruh mitra perbankan dan tidak mengetahui adanya kerentanan yang memengaruhi mereka.

 

Tetap Diawasi Aktivitas Kripto

Pemeriksaan ini muncul setelah The Federal Reserve (the Fed) pada April 2025 mencabut kewajiban bank anggota negara bagian untuk memberi tahu regulator sebelum menjalankan aktivitas kripto. Bank anggota negara bagian merupakan bank berizin negara bagian yang menjadi anggota Sistem Federal Reserve.

Bank sentral AS itu menyatakan tetap mengawasi aktivitas tersebut lewat proses pengawasan rutin. Pengawasan rutin biasanya mencakup pemeriksaan berkala terhadap manajemen risiko bank. Juru bicara The Fed menyatakan tidak ada yang bisa disampaikan soal laporan pertanyaan itu. Cointelegraph juga meminta tanggapan OCC, tetapi lembaga itu belum menjawab.

Binance termasuk bursa kripto terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan. Laporan insiden bursa tertanggal 3 November menyebut serangan terjadi pada 29 Oktober. Binance berhasil membekukan atau mencegat US$ 2,85 miliar aset yang terdampak hingga laporan terbit, setara sekitar 45% dari nilai peretasan.

Serangan itu bermula ketika seorang insinyur memasang perangkat lunak terkompromi pada Juni, menurut Binance. Peretas kemudian memanfaatkan rekayasa sosial, kredensial curian, dan perangkat lunak berbahaya untuk mengakses sistem dompet serta menjalankan transfer tanpa izin.

Rekayasa sosial merupakan teknik manipulasi psikologis yang membujuk korban menyerahkan akses atau informasi. Sistem dompet merupakan infrastruktur tempat bursa menyimpan dan memindahkan aset digital milik nasabah.

 

Respons Pengamat

Pendiri sekaligus CEO perusahaan keamanan siber BlackFog, Dr. Darren Williams menyatakan metode serangan tersebut berpotensi mengancam bank tradisional, terutama yang menawarkan layanan kustodi dan pembayaran kripto.

"Penyerang tidak lagi perlu membobol enkripsi atau mencuri kunci privat jika mereka bisa menyusupi sistem tepercaya dan orang yang berwenang memindahkan uang,” ujarnya kepada Cointelegraph. Kunci privat adalah kode rahasia yang memberi pemiliknya kendali atas aset kripto. BlackFog fokus melindungi organisasi dari serangan dan pencurian data.

Ia memperingatkan peretas dapat memakai perangkat, akun, atau layanan pihak ketiga milik karyawan yang terkompromi untuk memindahkan uang tanpa memicu peringatan. Penggunaan agentic AI yang makin luas dalam operasi keuangan juga berpotensi menambah risiko, katanya.

Agentic AI merujuk pada sistem kecerdasan buatan yang dapat mengambil tindakan secara mandiri, misalnya menjalankan transaksi. Pencurian data berarti penyalinan informasi sensitif ke luar organisasi tanpa izin. “Prioritasnya harus menghentikan transaksi tidak sah dan pencurian data sebelum aset atau informasi sensitif keluar dari organisasi, bukan sekadar menyelidiki kerusakan setelahnya,” tegas Williams.

Binance menyatakan telah memperkuat kontrol keamanan dan menggandeng pakar keamanan siber independen untuk meninjau serangan tersebut.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.