Peretasan Kripto Meledak 1.140% di April 2026, Kerugian Capai Rp 11,21 Triliun

Serangan kripto melonjak 1.140% pada April 2026 dengan total kerugian USD 647 juta, dipicu peretasan besar di sektor DeFi.

Diterbitkan 03 Mei 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Industri aset digital mengalami tekanan besar pada April 2026 setelah gelombang peretasan melanda berbagai platform kripto. Total kerugian akibat serangan siber melonjak drastis hingga 1.140% dibandingkan bulan sebelumnya.

Berdasarkan data dari PeckShield, dikutip dari U.Today, Minggu (3/5/2026), sektor kripto mencatat sedikitnya 40 kasus eksploitasi besar sepanjang April.

Nilai kerugian mencapai USD 647 juta atau kurang lebih Rp 11,21 triliun (estimasi kurs Rp 17.334 per dolar AS), jauh lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang hanya mencatat kerugian sekitar USD 52,25 juta.

Lonjakan ini menjadikan April sebagai salah satu bulan terburuk dalam sejarah keamanan industri kripto. Bahkan, total kerugian tersebut melampaui gabungan kerugian pada Januari, Februari, dan Maret 2026.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Peretasan Besar Guncang Ekosistem DeFi

Sebagian besar kerugian berasal dari dua kasus besar, yakni peretasan KelpDAO sebesar USD 292 juta dan Drift Protocol senilai USD 285 juta.

Selain itu, sejumlah platform lain seperti Rhea Finance dan Grinex juga mengalami kerugian signifikan, meski dalam skala lebih kecil.

Besarnya nilai peretasan KelpDAO dan Drift bahkan mengubah daftar peretasan kripto terbesar sepanjang masa. KelpDAO kini masuk peringkat ketujuh, sementara Drift berada di posisi kesembilan sejak 2021.

Dampak dari serangan ini tidak hanya dirasakan oleh platform yang diretas, tetapi juga mengancam stabilitas ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi).

Dalam kasus KelpDAO, pelaku dilaporkan menggunakan aset curian sebagai jaminan di protokol pinjaman Aave untuk meminjam Ethereum (ETH), sebelum akhirnya mengalihkan dana tersebut ke Bitcoin (BTC).

Peristiwa ini menunjukkan semakin kompleksnya modus peretasan di dunia kripto, sekaligus menjadi peringatan bagi industri untuk memperkuat sistem keamanan.