Negosiasi AS-Iran Gagal, Sentimen Pasar Kripto Memburuk

Gagalnya negosiasi AS-Iran memberikan sentimen negatif ke pasar kripto.

Diterbitkan 15 April 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin sempat mencatat reli kuat dalam beberapa hari terakhir, namun kembali terkoreksi setelah sentimen global memburuk. Aset kripto terbesar itu melonjak sekitar 5,8% sejak 6 April hingga menembus level USD73.000, sebelum akhirnya turun ke kisaran USD71.000 pada Sabtu (11/4).

Koreksi ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat, yang membuat pelaku pasar kembali bersikap hati-hati terhadap aset berisiko.

Mengutip laman Cointelegraph.com, Selasa (14/4/2026) tekanan terhadap Bitcoin muncul setelah kabar gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan dari Kobeissi Letter menyebutkan bahwa negosiasi perdamaian “telah terhenti total”, bahkan dinilai sebagai skenario terburuk bagi stabilitas kawasan.

Situasi semakin memanas setelah Donald Trump mengumumkan langkah tegas dengan memerintahkan militer AS untuk membentuk blokade angkatan laut di sekitar Selat Hormuz. Kebijakan ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko konflik terbuka di kawasan strategis tersebut.

Trump juga menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk mencegat kapal-kapal di perairan internasional yang membayar bea kepada Iran. Pernyataan ini mempertegas eskalasi tekanan terhadap Iran sekaligus menambah kekhawatiran pasar global.

Kondisi geopolitik yang tidak menentu tersebut mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk kripto. Akibatnya, reli Bitcoin yang sempat terbentuk pun terhenti dan berbalik arah.

 

Ketidakpastian Kebijakan The Fed Tambah Tekanan

Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi oleh ketidakjelasan arah kebijakan suku bunga AS. Anggota Federal Open Market Committee dilaporkan masih terpecah terkait prospek pemangkasan suku bunga pada 2026.

Dalam risalah rapat bulan Maret, FOMC bahkan tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan suku bunga apabila inflasi tetap bertahan di atas target 2%. Kekhawatiran bahwa konflik geopolitik dapat memicu inflasi menjadi salah satu pertimbangan utama.

Data dari CME FedWatch menunjukkan probabilitas lebih dari 98% bahwa suku bunga akan tetap berada di kisaran 350–375 basis poin pada dua pertemuan mendatang, yakni 29 April dan 17 Juni. Namun, peluang tersebut menurun menjadi sekitar 65% untuk pertemuan 29 Juli.

Selain itu, terdapat kemungkinan sekitar 33,6% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juli, mencerminkan ketidakpastian tinggi di kalangan pelaku pasar.

Kombinasi antara risiko geopolitik dan kebijakan moneter yang belum pasti membuat pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya cenderung volatil dalam jangka pendek, dengan investor terus mencermati perkembangan global sebagai penentu arah selanjutnya.