Harga Bitcoin Turun ke USD 68.507, Konflik Timur Tengah Guncang Kripto

Harga Bitcoin turun ke USD 68.507 akibat ketegangan global dan kebijakan AS yang memicu gejolak pasar kripto.

Diterbitkan 27 Maret 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasar cryptocurrency mengalami gejolak signifikan seiring meningkatnya ketegangan global. Bitcoin, sebagai aset digital utama, anjlok ke level USD 68.507 pada Jumat pagi. Penurunan ini mencerminkan pelemahan sebesar 3,2 persen dalam sehari dan secara mingguan turun 2,7 persen.

Dikutip dari Coinmarketcap, Jumat (27/3/2026), para analis menilai volatilitas ini dipicu oleh situasi geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan penting yang diambil Amerika Serikat.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar menjadi lebih berhati-hati, sekaligus menekan sentimen secara keseluruhan di pasar kripto.

Di tengah upaya negosiasi, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan perpanjangan waktu 10 hari untuk pembicaraan gencatan senjata dengan Iran.

Langkah ini disebut menunjukkan perkembangan positif. Namun, situasi menjadi lebih kompleks setelah Pentagon mempertimbangkan penambahan hingga 10.000 pasukan ke kawasan Timur Tengah.

Kondisi ini sempat menekan harga minyak mentah Brent yang turun 1,3 persen ke USD 106, sebelum akhirnya pulih seiring meningkatnya ketidakpastian.

Akibatnya, baik pasar kripto maupun pasar keuangan tradisional mengalami pergerakan yang tidak menentu.

 

Kapitalisasi Pasar Kripto Menyusut

Tekanan yang terjadi membuat kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan turun sekitar 1 persen menjadi USD 2,4 triliun.

Sejumlah aset kripto utama mengikuti penurunan Bitcoin. Ethereum (Ether) misalnya, turun 4,6 persen ke level USD 2.050, bahkan menembus level stabil yang sebelumnya bertahan sepanjang bulan.

Selain itu, beberapa aset besar lain seperti Solana, XRP, BNB, dan Dogecoin juga mengalami penurunan harga.

Meski demikian, Tron menjadi pengecualian dengan mencatat kenaikan tipis, baik secara harian maupun mingguan.

Pergerakan harga aset digital saat ini juga dipengaruhi oleh aktivitas investor institusi.

Analis dari FxPro, Alex Kuptsikevich, menyebut nilai pasar kripto saat ini mendekati rata-rata pergerakan 50 hari, yang berpotensi menjadi level penopang jika mampu bertahan.

Di tengah tren jual yang dominan, investor institusi justru menunjukkan arah berbeda. Dalam sebulan terakhir, produk ETF berbasis Bitcoin mencatat arus masuk dana sebesar USD 2,5 miliar.

Produk ETF Bitcoin milik BlackRock menjadi salah satu yang paling diminati investor.

BlackRock menekankan bahwa investor besar saat ini lebih fokus pada Bitcoin dan Ether, serta cenderung menghindari aset kripto alternatif.

 

Strategi Investor di Tengah Volatilitas

Selain itu, terjadi peningkatan penarikan Bitcoin dari bursa kripto. Hal ini mengindikasikan semakin banyak investor yang memilih menyimpan aset mereka dalam jangka panjang.

Strategi tersebut menunjukkan pendekatan yang lebih hati-hati dalam menghadapi kondisi pasar yang bergejolak.

Dengan perpanjangan tenggat gencatan senjata, situasi geopolitik global masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Arah Pasar Menjelang April

Memasuki bulan April, para investor diperkirakan akan terus mencermati perkembangan geopolitik serta pergerakan dana institusi.

Kombinasi kedua faktor ini diyakini akan memberikan gambaran lebih jelas terkait arah pasar aset digital ke depan.

Jika ketegangan global terus berlanjut, volatilitas di pasar kripto berpotensi tetap tinggi dan membuat investor harus semakin waspada dalam mengambil keputusan.