Siklus Bitcoin 4 Tahunan Sudah Mati, BTC Masuk Fase Supercycle Likuiditas

Analis Raoul Pal menyebut siklus 4 tahunan Bitcoin sudah mati. Kini, harga kripto nomor satu ini lebih dipengaruhi oleh likuiditas global ketimbang peristiwa ha

Diterbitkan 22 Desember 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Analis ternama Raoul Pal meyakini bahwa banyak investor kripto saat ini salah membaca arah pasar. Meski grafik harga sering kali menunjukkan warna merah, aliran modal justru dinilai tetap tangguh. Menurut Pal, pola lama berupa siklus empat tahunan yang selama ini menjadi acuan para trader sudah tidak lagi relevan bagi perjalanan Bitcoin.

Dikutip dari crypto News Land, Senin (22/12/2025), Pal menegaskan bahwa arah pasar saat ini sepenuhnya dikendalikan oleh likuiditas global. Rasa takut yang dialami investor saat ini lebih mencerminkan kebiasaan lama yang sudah usang, ketimbang realitas pasar yang ada sekarang.

Pola Lama yang Mulai Retak

Selama lebih dari satu dekade, Bitcoin mengikuti pola jelas yang berpusat pada peristiwa halving. Biasanya, pemangkasan pasokan ini memicu reli harga, diikuti oleh masuknya investor ritel, dan diakhiri dengan musim dingin kripto yang keras. Namun, model itu hanya bekerja saat Bitcoin masih dianggap sebagai aset khusus (niche).

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Siklus Likuiditas

Struktur pasar kini telah berevolusi, dibentuk ulang oleh modal institusional dan adopsi global. Kehadiran ETF Bitcoin Spot yang kini mengelola lebih dari USD 125 miliar menjadi bukti nyata. Entitas negara, dana pensiun, hingga dana makro kini memperlakukan Bitcoin sebagai instrumen keuangan global.

Para pemain besar ini bereaksi terhadap siklus likuiditas, bukan kalender halving. Akibatnya, prediksi berbasis halving mulai kesulitan menjelaskan perilaku pasar saat ini. Meski Bitcoin turun hampir 13 persen sejak awal November, data arus modal menunjukkan gambaran yang lebih tenang.

Tercatat, ETF Bitcoin Spot di AS telah menarik arus masuk bersih sebesar USD 22,47 miliar tahun ini. Tingginya permintaan ini sangat kontras dengan narasi bearish (tren turun). Pasar tampaknya sedang dalam tahap "mencerna" keuntungan, alih-alih bersiap untuk kolaps.

 

 

Mengapa Tahun 2026 Bisa Mengejutkan Pasar?

Raoul Pal mendasarkan tesisnya pada likuiditas makro. Pasokan uang global (M2) dan neraca bank sentral menunjukkan korelasi kuat dengan performa Bitcoin. Hubungan ini dinilai jauh lebih berpengaruh daripada efek halving.

Ada beberapa faktor yang bisa memicu ledakan likuiditas di awal tahun 2026, salah satunya adalah stimulus fiskal. Pergeseran kebijakan di Amerika Serikat diprediksi akan menyuntikkan modal baru ke pasar.

Selain itu, perubahan regulasi perbankan juga menjadi pendorong kuat. Penyesuaian aturan risiko aset akan memungkinkan bank untuk lebih agresif. Aktivitas ini menciptakan likuiditas yang biasanya mengalir ke aset berisiko, di mana Bitcoin menjadi salah satu penerima manfaat utama.

Tak hanya Bitcoin, Altcoin pun akan merespons pergeseran makro ini. Akumulasi institusional terus memperketat pasokan yang ada di pasar. Saat ini, perusahaan publik tercatat memegang lebih dari satu juta Bitcoin.

Strategi jangka panjang perusahaan-perusahaan ini mengurangi jumlah koin yang beredar dan meredam tekanan saat harga turun.