Donald Trump Ancam Tarif Baru ke Uni Eropa, Ini Dampaknya ke Kripto

Ancaman tarif baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Uni Eropa berdampak terhadap pasar kripto. Bagaimana dengan harga bitcoin?

Diterbitkan 25 Mei 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengejutkan pasar global dengan pernyataannya pada Jumat malam. Trump mengancam akan menerapkan tarif sebesar 50% untuk seluruh impor dari Uni Eropa serta tarif 25% untuk produk Apple iPhone yang diimpor ke AS. Pernyataan ini segera mengguncang pasar dan memicu aksi jual besar-besaran dari para investor.

Dampak dari ancaman tarif ini langsung terasa di pasar kripto. Investor mulai mengambil untung, sementara pasar tergelincir tajam karena kekhawatiran akan perang dagang yang kembali mencuat. Banyak posisi perdagangan yang dilikuidasi secara paksa oleh bursa, menyebabkan kerugian besar dalam waktu singkat.

Aksi pasar ini tidak hanya mempengaruhi saham dan produk teknologi, tetapi juga mengguncang kepercayaan di sektor aset digital. Ketidakpastian makroekonomi yang disebabkan oleh kebijakan perdagangan Trump mendorong investor untuk menjual aset berisiko, termasuk mata uang kripto.

Bitcoin Anjlok dari USD 111.000 ke USD 108.000

Bitcoin, yang sebelumnya sempat diperdagangkan di atas USD 111.000, tiba-tiba turun tajam hingga ke kisaran USD 108.600. Penurunan drastis ini menghapus seluruh keuntungan harian dan membuat pasar kripto bergejolak. Sentimen pasar yang sebelumnya optimistis berubah menjadi hati-hati dalam waktu singkat.

Tidak hanya Bitcoin yang merosot, mata uang kripto lainnya seperti Ether (ETH), Solana (SOL), XRP, dan Dogecoin (DOGE) juga mencatat kerugian besar. Kontrak berjangka untuk semua aset tersebut menunjukkan kerugian yang signifikan, dengan nilai mulai dari USD 30 juta hingga lebih dari USD 100 juta.

Secara total, kerugian dari likuidasi di pasar kripto selama 24 jam terakhir mencapai lebih dari USD 500 juta. Penurunan harga ini sangat kontras dengan optimisme sebelumnya, di mana banyak pihak memperkirakan akhir pekan yang tenang berkat aliran dana dari ETF dan meningkatnya minat institusi terhadap aset kripto.

Likuidasi Besar-besaran Hantam Trader Kripto

Menurut data dari CoinGlass, likuidasi terbesar terjadi di bursa OKX, yaitu posisi BTC-USDT senilai USD 9,53 juta. Likuidasi adalah proses ketika bursa secara otomatis menutup posisi leverage seorang trader karena margin (jaminan) tidak mencukupi untuk menutupi kerugian. Hal ini biasa terjadi dalam pasar yang sangat volatil.

Secara keseluruhan, Bitcoin futures mengalami kerugian sekitar USD 181 juta. Sementara itu, kontrak Ether futures menyumbang hampir USD 142 juta kerugian. Altcoin lain seperti SOL, DOGE, dan XRP juga menyumbang sekitar USD 100 juta likuidasi tambahan.

Melansir Coindesk, Sabtu (24/5/2025), likuidasi dalam jumlah besar seperti ini bisa menjadi sinyal bahwa pasar sedang berada dalam kondisi ekstrem—baik karena kepanikan jual atau aksi beli yang berlebihan. Ketika likuidasi terjadi secara beruntun, sering kali ini menjadi pertanda bahwa harga bisa segera berbalik arah karena sentimen pasar yang bereaksi berlebihan.

Ketidakpastian Makro Perburuk Sentimen Pasar Kripto

Penurunan harga Bitcoin dan aset kripto lainnya datang di saat pasar sedang bersiap menyambut akhir pekan yang tenang. Sebelumnya, banyak pihak menaruh harapan pada arus masuk dana dari ETF dan meningkatnya minat institusional yang dianggap sebagai penopang pertumbuhan harga.

Namun, ancaman tarif dari Presiden Trump mengacaukan semua ekspektasi tersebut. Ketegangan geopolitik dan kekhawatiran akan perang dagang yang membayangi kembali menimbulkan ketidakpastian besar di pasar. Akibatnya, volatilitas kembali mendominasi dan mendorong investor untuk berhati-hati.

Dengan situasi makro yang kini terguncang oleh potensi konflik dagang AS–Uni Eropa, para trader kemungkinan besar akan mengambil pendekatan lebih konservatif dalam sesi perdagangan minggu depan. Sentimen pasar masih sangat rentan terhadap berita-berita baru, terutama yang berasal dari kebijakan luar negeri atau ekonomi AS.

Â